
Namaku Gina, aku seorang gadis periang dan lincah. Aku pandai bergaul dengan siapa saja. Aku bekerja sebagai kasir disebuah resto yang cukup terkenal di kota ini.
Aku punya seorang kekasih dan kami bekerja ditempat yang sama, namanya Awan. Dia seorang barista sekaligus keponakan dari pemilik resto dimana kami bekerja.
Sebenarnya, dia anak dari orang yang berada, tapi entahlah, dia lebih suka menekuni pekerjaannya itu, ketimbang melanjutkan pendidikan nya di dunia tata boga yang akan membawanya sebagai koki handal.
Namun, seiring berjalannya waktu hubungan kami pun renggang karena sesuatu hal.
Hingga saat itu, ada seorang gadis yang bernama Raina yang bekerja di resto sebagai karyawan baru. Bisa di bilang dia anak yang cantik dan terlihat sangat polos sekali, dia bilang bahwa dia bekerja di resto ini karena ingin membalas budi pada keluarga ibu Eva pemilik resto.
Dan semenjak kehadiran Raina, mas Awan semakin mencoba menjauh dariku. Setelah beberapa kali aku memergoki dirinya selalu berusaha mendekati Raina.
Aku terbakar api cemburu saat mas Awan terlihat sangat perhatian pada Raina. Padahal ada aku yang masih berstatus menjadi pacarnya.
Dua bulan aku menahan diri untuk tidak gegabah. Aku mencoba mendekati Raina, berbaik hati padanya, selalu meminta tolong apa pun kepadanya. Dan sukses, dia selalu menuruti semua yang aku perintahkan. Entahlah, apa dia memang sebegitu polosnya hingga tidak menyadari maksud diriku.
Aku selalu mengorek informasi darinya, mencoba untuk membuka suaranya agar dia mau berbagi cerita kepadaku. Dan apa yang aku inginkan tercapai, dengan sangat mudah aku mengetahui seberapa dekat mereka berdua dan paling mengejutkan lagi ternyata Raina menyimpan perasaan kepada mas Awan. Meski aku juga tahu, bahwa Raina tidak berniat untuk berpacaran saat ini.
Ah...panas rasanya hatiku.
Aku sangat marah saat mengetahui niat mas Awan yang ingin menyatakan perasaannya pada Raina malam itu.
Aku berusaha agar Raina tahu bahwa aku ada hubungan khusus dengan mas Awan agar Raina tidak menerima pernyataan cinta dari mas Awan.
Hingga aku memeluk erat mas Awan dengan mesra saat diparkiran resto, agar Raina melihatnya. Meski mas Awan terus menolak untuk aku peluk saat itu.
******
"Hai, Rai, darimana?" sapaku pada Raina saat melihat dia turun dari arah kantor.
__ADS_1
"Dari kantor, tadi di panggil sama ibu Eva." jawabnya seraya melangkah ke arah dapur.
Ku lihat dari kejauhan mas Awan menyapa Raina dan terlihat mereka sedang berbicara. Dan ku lihat mas Awan menarik lengan Raina menuju arah belakang resto. Entah apa yang akan di lakukan mas Awan kepada Raina.
"Hmmm ... ini kan, sudah waktunya masuk jam kerja, kok mereka berdua belum balik juga, sih?" Aku terus menduga-duga dalam hati yang mulai gelisah.
Tak lama kemudian, Raina masuk berlari dari arah depan melewati diriku menuju toilet.
"Raina! Kamu kenapa, Rai?" Aku memanggilnya namun tak ia hiraukan panggilan ku.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Raina nangis? Jangan-jangan mas Awan ...."
Hati ku mulai gelisah dan terus bermunculan pertanyaan-pertanyaan negatif dikepalaku. Aku segera menyusul Raina ke toilet. Ku lihat disana dia masih menangis didepan cermin.
Sampai akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendekati dan bertanya kepadanya. Tanpa ku duga, dia langsung memelukku dan terus menangis. Dan aku berusaha untuk menenangkan nya.
"Mas Awan, Gin ...." ucapnya lirih.
Namun, entah kenapa Raina tidak melanjutkan ucapannya. Seperti ada yang ia pertimbangkan.
Sampai akhirnya dia melepas pelukannya, menjauhi diriku. Betapa terkejut nya aku dengan semua pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Sepertinya dia mulai menyadari apa yang sudah terjadi beberapa bulan terakhir selama dia bekerja diresto.
"Raina ... maafin aku yang gak cerita yang sejujurnya ke kamu ..." ucapku lirih.
Aku mulai cerita yang sebenarnya ke Raina. Dan ku rasa ini sudah seharusnya aku berikan alasannya sekarang.
"Sebenarnya aku sama mas Awan sudah pacaran selama tiga tahun ini secara diam-diam. Sehingga tidak ada yang tahu bahwa kami berdua pacaran. Tapi hubungan kami beberapa bulan ini memang lagi renggang, dan aku gak tau hubungan ku sama dia sekarang gimna, karena mas Awan gak pernah mau bahas masalah hubungan ini lagi tiap aku nanya sama dia."
Raina hanya terdiam mendengar penjelasanku.
__ADS_1
"Maaf, selama ini aku diam dan memanfaatkan kepolosanmu. Aku benar-benar minta maaf, Rai ... Dan sebenarnya aku juga tau niat mas Awan yang mau menyatakan cintanya padamu malam itu. Aku benar-benar marah, Rai. Dia sudah gantungin status hubungan ku, terus dia dengan mudahnya mau nyatakan cinta ke kamu, egois banget dia, Rai." Aku mencoba untuk tetap tegar setiap kali menjelaskan nya.
"Aku sama sekali gak tau, Gin. Kalau kamu sesakit ini karena mas Awan. Aku juga minta maaf, Gin, untuk segala ketidaktahuan ku ini." ucap Raina
"Ini bukan salah mu Rai, ini salah laki-laki ******** itu. Terus kenapa kamu nangis? Apa yang sudah dia lakukan ke kamu?"
"Dia gak terima kalau aku nolak dia. Dia maki-maki aku, Gin. Yang bikin sakit hati dia anggap aku sama seperti semua perempuan yang pernah dekat sama dia. Kalau aku bisa di bayar sama dia." ucapnya
"Alhamdulilah ... Dia gak ngelakukan hal lain yang ngelukain kamu, Rai." ucapku.
Terlihat dari raut wajah nya, Raina masih agak bingung kenapa aku malah bersyukur saat tahu apa yang sudah terjadi dengan nya.
Ya, biarlah ini cukup jadi aib buat diriku tanpa harus cerita semua yang sudah di lakukan mas Awan kepadaku.
"Kenapa bukan kamu aja, Gin, yang putusin mas Awan?" Pertanyaan Raina membuat ku kembali berfikir.
"Gak semudah itu, Rai, ada hal yang harus benar-benar aku selesaikan sama dia biar aku bisa terbebas dari dia." ucapku
Bodoh memang terus mempertahankan orang yang sudah tidak ada perasaan lagi terhadapku. Entahlah, kenapa aku selalu bertahan dengan orang yang selalu menyakitiku.
Ya, bukan tanpa alasan aku melakukan ini semua. Aku hanya ingin meminta imbalan yang setimpal atas apa yang telah ku berikan dan ku lakukan untuknya.
"Hal apa, Gin?" Terlihat Raina masih bingung dengan ucapanku.
"Kamu gak akan bisa ngerti, Rai. Yang terpenting kamu harus tetap hati-hati sama dia, karena dia pasti gunakan segala cara untuk dapat in apa yang dia mau." ucapku mengingatkan Raina.
Dengan polos nya dia hanya mengangguk mendengar ucapanku.
"Ahh, Raina, kamu sangat gak pantas untuk seorang mas Awan yang bejat itu." batinku
__ADS_1
Bersambung