Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kekagetan Raina


__ADS_3

"Mbak, saya pesan beef blackpaper, kok, ini malah chicken teriyaki, sih, yang diantar!" Komplain pelanggan kepadaku.


"Maaf, Bu, saya salah ambil orderan. Mari sini, Bu, biar saya ganti." Aku segera mengambil makanan yang salah dan akan menukar nya.


Baru saja kakiku hendak beranjak dari pelanggan di meja nomor 6, kini kembali pelanggan di meja nomor 9 yang memanggilku.


"Mbak ... Mbak, ini mungkin pesanan ibu itu, karena ini beef blackpaper. Dan mungkin itu pesanan saya yang tertukar mba, itu chicken teriyaki, kan?" kata pelanggan dimeja nomor 9, sembari menunjuk makanan yang aku pegang.


"Iya, Bu, ini chicken teriyaki nya. Maaf, Bu, saya kurang teliti melihat nomor meja di kertas orderan nya, jadi tertukar." ucapku sembari mengucapkan permohonan maaf.


"Iya, gak apa-apa, Mbak. Lain kali yang konsen kerjanya, Mbak." ucapnya memaklumi kesalahan ku.


Aku segera kembali ke meja nomor 6, dengan membawa pesanan yang sebenarnya.


"Silahkan, Bu, ini beef blackpaper nya, tadi tertukar di meja nomor 9. Maaf atas ketidaknyamanan nya." ucapku seraya membungkukkan setengah badanku mengucap permohonan maaf.


Setelah selesai dengan masalah tukar menukar orderan, aku segera menuju dapur lagi. Entah, kenapa aku teledor sekali hari ini. Semua yang aku kerjaan selalu ada yang salah.


Aku terdiam sejenak disudut dapur, menenangkan diriku sejenak. Ku lihat jam dinding masih menunjukkan pukul 21.00.


"Masih dua jam lagi, sabar, Rai. Semangat ... Semangat ...." gumamku menyemangati diri sendiri.


Setelah ku rasa cukup tenang, aku kembali melanjutkan pekerjaan ku. Hingga waktu pulang pun tiba.


Aku masih menunggu pelanggan yang masih menikmati makanannya, kemudian membersihkan meja yang sudah tidak ada tamunya. Setelah dipastikan semua pelanggan tidak ada dan semua meja sudah bersih, kami mematikan semua lampu disetiap ruangan, menandakan resto sudah tutup.


Aku berkemas, bersiap-siap untuk pulang. Aku segera keluar dari resto, takut jika Kak Aldo sudah menunggu terlalu lama diparkiran. Ya, setiap pulang kerja malam, Kak Aldo selalu menjemput ku.


Setibanya diparkiran resto, tidak ku dapati Kak Aldo disana. Segera ku hubungi telepon nya, namun tak kunjung ada jawaban.


"Mungkin Kak Aldo sedang dalam perjalanan." dugaku.


Aku kembali ke depan pintu resto, duduk di emperan resto sembari menunggu Kak Aldo. Satu persatu teman-teman yang lain sudah pulang. Tersisa aku sendiri disini. Ada perasaan was-was sendirian di malam yang gelap dan ditempat sepi seperti ini.


Terdengar suara sepeda motor dari arah belakang resto, ternyata Mas Awan yang keluar dari arah sana. Dan dia pun mendekat menghampiri ku.


"Loh, kok, kamu masih disini, Rai?" ucapnya

__ADS_1


"Iya, Mas, masih nunggu kakak aku jemput." jawabku.


"Oh, gitu. Ya, sudah aku temani kamu dulu sampai dijemput." katanya.


"Terimakasih, Mas. Mungkin sebentar lagi datang." ucapku.


Mas Awan turun dari sepeda motornya dan langsung duduk disebelahku tanpa permisi.


"Oh, iya, Rai ... aku perhatikan kamu hari ini kerjanya kacau banget. Apa kamu lagi ada masalah?" tanya nya.


"Ehm, gak kok, Mas. Aku gak apa-apa." jawabku berkilah.


"Jujur aja lagi, siapa tau? dengan kamu mengeluarkan unek-unek mu, kamu jadi lega." ujarnya.


Aku hanya tersenyum tipis, rasanya enggan berbagi pada siapa pun kekalutan hati ini, kecuali Sandra yang mengetahui kejadian siang tadi.


Mas Awan menatapku begitu lekat, hingga membuat aku salah tingkah.


"Rai ... aku mau jujur sama kamu." ucapnya.


"Jujur? Jujur tentang apa?" tanyaku sembari mengernyitkan alis.


Deg...


"Maksudnya?" tanyaku lagi.


"Rai ... sebenarnya, aku sudah lama memperhatikan mu jauh sebelum Sandra memperkenalkan mu saat itu dan sebelum kamu bekerja disini. Dan aku rasa ... aku mulai jatuh hati padamu. Rai, kamu mau gak, jadi pacar aku?" ucapnya.


"Hah! Sejak kapan?" Aku terkejut mendengar penuturan nya, jadi selama ini dia jadi paparazi.


"Sejak beberapa bulan yang lalu kamu masih sekolah." ungkapnya.


Selama itu dan aku gak tahu sama sekali. Aku terdiam, pernyataan yang baru saja dia ungkapkan benar-benar membuatku kaget. Situasi seperti ini membuatku sangat dilema.


"Rai .... Kok, diam, sih. Gimana?" tanya nya.


Dari kejauhan tampak sorot lampu sepeda motor Kak Aldo. Akhirnya, Kak Aldo menyelamatkan diriku dari situasi ini.

__ADS_1


"Maaf, Rai... Kakak ketiduran. Jadi lama, ya, nunggu nya?" tanya Kak Aldo


"Hehehe ... gak apa-apa, Kak? Yang penting Kakak sudah disini jemput aku." jawabku sembari memakai helm dan langsung naik ke atas sepeda motor tanpa menjawab pertanyaan Mas Awan.


Kak Aldo memperhatikan Mas Awan yang masih berdiri ditempatnya.


"Terimakasih, Mas, sudah nemenin adik saya." ucap Kak Aldo.


"Iya, Mas, sama-sama." jawab Mas Awan.


"Maaf, Mas ... aku duluan, ya" ucapku pada Mas Awan.


Mas Awan hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sepeda motor Kak Aldo mulai melaju, menembus gelap nya malam dan udara angin malam yang dingin menjadi pelengkap, menemani perjalanan kami pulang.


Lelah raga, pikiran dan hatiku hari ini. Masih terekam jelas diingatanku atas sikap ibu yang mengacuhkan diriku siang tadi dan malam ini, betapa terkejut nya aku atas penuturan dan pernyataan Mas Awan yang jatuh hati padaku, menambah kegalauan hatiku.


"Maaf, Mas Awan, ini bukan waktu yang tepat untuk aku memikirkan cinta." batinku.


"Siapa cowok tadi, Rai?" tanya Kak aldo membuyarkan lamunanku.


"Itu Mas Awan, kakak sepupu nya Sandra sekaligus karyawan di resto juga, Kak." jawabku.


"Oh ... jadi, itu cowok yang pernah ngantar kamu pulang ke rumah?" tanya Kak Aldo.


"Lho, kok, Kak Aldo tau?" Aku kembali bertanya pada Kak Aldo. Darimana dia tau, sedangkan aku sama sekali tidak pernah membahas nya lagi saat itu.


"Kan, kamu sendiri yang ngomong ke Raka, kalau kamu diantar sama kakak sepupu nya Sandra saat itu. Jadi, Kakak langsung nebak deh, kalau itu orangnya." ungkap Kak Aldo.


"Hehee ... Oh, ya, Raina lupa, Kak." jawabku sembari nyengir kuda.


"Gimana sih, kamu? Masih muda tapi sudah pelupa, berarti memori ingatan nya masih bagus Kakak, nih." ejek Kak Aldo.


Aku hanya mendengus kesal dan memanyunkan bibirku.


Sumpah, aku sama sekali gak ingat pernah ngomong itu ke Raka.

__ADS_1


Aku menepuk dahiku, sembari berkata dalam hati, "Astaga! Bagaimana bisa, aku tiba-tiba amnesia seperti ini?"


Bersambung....


__ADS_2