Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pertemuan pertama lagi


__ADS_3

**Selalu dukung author ya,, 😁 Like, komen, vote serta berikan rate kalian pada karya author ini πŸ˜˜πŸ™


Selamat membaca**.....


**********


Raina sudah keluar dari ruang poli kandungan. Raina melihat jam diponselnya, yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Wah, sudah jam segini ... kira-kira bunda sudah disana gak, ya?" Raina segera menghubungi bunda Eva untuk mengabari posisinya sekarang.


Tak lama kemudian, panggilan Raina pun dijawab oleh bunda Eva.


[Hallo, Rai ....]


[Hallo, Bun. Bunda sekarang dimana? Apa bunda sudah sampai dimall?]


[Belum sayang, ini bunda masih dijalan menuju kesana. Apa kamu sudah selesai kontrolnya?]


[Sudah, Bun. Ini sekarang Raina lagi nunggu taksi online.]


[Oh, Ok. Bunda tunggu disana, kamu hati-hati, ya.]


[Iya, Bun.]


Letak rumah sakit dan resto milik bunda Eva berada dijalur yang berbeda sehingga membuat mereka memutuskan untuk langsung bertemu saja dimall yang telah mereka tetapkan.


Mobil yang membawa Raina sudah melaju ditengah hingar bingar kota. Sampai lah Raina dipusat perbelanjaan terbesar kedua dikota itu.


Raina segera turun dari mobil dan mencari keberadaan bunda Eva, yang ternyata telah menunggunya didepan pintu masuk mall.


"Bunda ...." sapa Raina sembari mencium punggung tangan bunda Eva dengan takzim.


"Hai, sayang ... kita makan siang dulu, yuk. Pasti kamu juga belum makan siang, kan?" ajak Bunda Eva yang langsung dijawab Raina dengan anggukan yang mengiyakan ajakan bunda Eva.


Keduanya berjalan mencari restoran terlebih dahulu. Setelah berjalan mengitari beberapa toko, akhirnya mereka memutuskan berhenti disalah satu restoran yang terletak didalam mall tersebut.


Raina dan bunda Eva sudah duduk dikursi pengunjung dan mulai memesan makanan mereka.


Raina memutuskan untuk memesan nasi goreng dengan sosis yang berlimpah, entah kenapa saat dirinya melihat gambar nasi goreng dibuku menu itu sangat membuat dirinya tergiur untuk memakannya dan untuk minumannya, Raina tetap tertuju pada milkshake cokelat kesukaannya. Sedangkan bunda Eva, memesan sop buntut dan jus jeruk.


Mereka berdua saling berbincang-bincang seputar kehamilan sembari menunggu pesanan mereka datang. Bunda Eva juga memberikan saran kepada Raina agar tidak merasa gugup atau stres saat menghadapi persalinannya nanti.


Sementara dimeja lain, ditempat yang sama ada sepasang mata yang memperhatikan ke arah tempat duduk Raina dan bunda Eva.


"Apa itu Raina? Meskipun dengan perut yang semakin membesar seperti itu, tapi tetap terlihat cantik dan semakin dewasa." Ridho tak berkedip memandang Raina meski dari jauh, Ridho benar-benar begitu terhipnotis pada gadis yang hingga kini masih ia cintai.

__ADS_1


"Apa aku gabung sama mereka aja, ya? Toh, sepertinya Raina hanya berdua dengan bunda. Gak ada Satria bersamanya." gumam Ridho sembari mencari keberadaan Satria yang memang tak terlihat dari pertama kali dia melihat Raina.


Ridho sudah beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah meja Raina.


"Permisi, apa saya boleh bergabung dengan dua wanita cantik?" ucap Ridho yang membuat kedua orang dihadapannya langsung menoleh kearahnya.


"Eh, kamu, Do. Bunda pikir tadi laki-laki kurang ajar yang ingin menggoda kita berdua, hampir saja bunda ingin melempar pakai tas bunda ini." ucap Bunda Eva sembari menunjukkan tas miliknya.


Sementara Raina hanya diam dan menundukkan kepalanya kembali setelah melemparkan senyumannya pada Ridho.


"Ridho boleh gabung disini ya, Bun?" tanya Ridho kembali.


"Iya, silahkan, Do. Kok, bisa kebetulan gini sih, ketemu kamu disini." ucap Bunda Eva.


"Iya, Bun. Tadi Ridho habis bertemu dengan klien yang ingin memakai jasa EO dari perusahaan Ridho dan pas sekali pulang dari sana Ridho mampir kesini untuk makan siang dan kita bertemu disini." balas Ridho sembari tersenyum pada Bunda Eva.


Ridho melirik kearah Raina, yang terdiam tidak seperti biasa saat waktu Raina belum menikah. Yang selalu ceria bila bersamanya.


"Bagaimana kabarmu dan juga Satria?" tanya Ridho pada Raina.


"Alhamdulilah, kami semua baik, Mas." jawab Raina.


"Tapi, dari tadi aku gak ada lihat dia. Apa Satria tidak bersamamu?" tanya Ridho lagi.


"Gimana sih, Mas Ridho ini ... kalian kan, bersahabat. Kenapa Mas Ridho tidak tahu, kalau mas Satria sudah kembali ketempat kerjanya." ucap Raina dengan memicingkan matanya menatap Ridho.


"Eh, ehm ...." Baru saja Ridho akan berbicara, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.


"Permisi, ini pesanannya. Silahkan dinikmati." ucap Pelayan yang baru saja menyajikan pesanan dengan sangat ramah.


"Terimakasih, Mbak." ucap Raina dan Bunda Eva bersamaan.


"Mbak, untuk pesanan dimeja nomor sembilan tolong dibawa kesini, ya. Saya pindah duduk disini." titah Ridho pada pelayan itu.


"Baik, Pak. Mohon ditunggu." balas Pelayan tersebut dan kemudian pergi meninggalkan meja Raina.


"Do, kami makan duluan, ya." ucap Bunda Eva.


"Silahkan ... silahkan." balas Ridho yang kemudian memainkan handphonenya sembari menunggu pesanannya datang.


"Ada apa sebenarnya antara kalian berdua? Bukankah sahabat itu selalu ada dan mengerti satu sama lain." batin Raina.


Raina memang tidak pernah mengetahui bahwa alasan sebenarnya Ridho menjaga jarak dengan Satria adalah karena dirinya. Karena rasa sayang Ridho yang terlalu besar pada Raina, hingga Ridho juga tidak ingin memperburuk persahabatannya dengan Satria.


"Hingga detik ini pun, rasa ini masih sama pada mu, Rai. Tapi sayang, Satria lebih dulu mengambil dirimu. Bahkan kamu belum sempat mengetahui isi hatiku padamu. Aku selalu mencoba untuk melupakanmu. Tapi, semakin aku mencoba rasa itu semakin dalam untukmu. Dapat melihatmu tersenyum saat ini, setidaknya dapat sedikit mengobati rasa rinduku padamu." batin Satria yang terus saja bergejolak saat menatap Raina.

__ADS_1


Setelah mereka semua selesai makan siang, semuanya berpamitan untuk pergi ketujuan masing-masing. Raina dan bunda Eva melanjutkan belanja untuk perlengkapan bayi Raina, sedangkan Ridho kembali ke kantornya.


"Terimakasih, Nak Ridho ... sudah mentraktir kami makan siang." ucap Bunda Eva.


"Hahaha, santai aja, Bun. Kan, gak sering-sering juga seperti ini." balas Ridho sambil tertawa.


"Terimakasih ya, Mas." ucap Raina juga.


"Iya, Rai. Kalian setelah ini mau kemana?" tanya Ridho.


"Bunda mau menemani Raina berbelanja untuk perlengkapan bayinya." jawab Bunda Eva."


"Oh, begitu. Baiklah, saya duluan, ya. Karena masih banyak pekerjaan lain yang menunggu." ujar Ridho.


"Iya, hati-hati, Nak Ridho." sahut Bunda Eva.


Sedangkan Raina hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Bunda Eva dan Raina pun melanjutkan perjalanannya, menyusuri toko demi toko yang menjual perlengkapan bayi.


Dan akhirnya, mereka putuskan masuk ke salah satu toko terbesar yang khusus menjual berbagai keperluan untuk bayi. Mulai dari baju, popok, celana, perlengkapan mandi, kasur bayi dan masih banyak lainnya.


Raina memilih-memilih perlengkapan baju bayi untuk yang baru lahir dibantu dengan pramuniaga toko tersebut. Raina tertegun saat melihat harga yang terbandrol pada sehelai popok yang ia pegang.


"Bun, ini gak salah harganya?" tanya Raina setengah berbisik pada Bunda Eva sembari menunjukkan harga yang tertera dipopok tersebut.


"Gak, memang segitu harganya." jawab Bunda Eva santai.


"Tapi, Bun. Kalau kita beli dipasar kita bisa menawar dan bisa mendapatkan banyak popok dengan harga segitu." ujar Raina.


"Gak apa-apa, pilih saja yang mana yang menurut mu bagus dan cocok. Kalau uangmu kurang, nanti Bunda yang akan menambahkan nya." Bunda Eva kembali menjawab dengan santainya.


Raina hanya melihat bunda Eva yang sudah memilihkan seperangkat tempat tidur lengkap untuk bayinya.


"Bun, apa itu tidak terlalu mewah?" tanya Raina yang melihat tempat tidur bayi yang berbentuk box yang dipilih oleh Bunda Eva.


"Ssst, Bunda yang akan membelikannya. Anggap ini sebagai hadiah untuk cucuku." jawab Bunda Eva.


"Pantas saja mamah memberiku begitu banyak uang, ternyata harga-harganya mengerikan." batin Raina.


Raina baru menyadari alasan mertuanya memberikan uang yang banyak dan menyuruh bunda Eva untuk menemaninya. Ternyata Raina diajak ke toko perlengkapan bayi langganan keluarga Sanjaya dan menurut mereka disinilah tempat terbaik yang menyediakan keperluan untuk bayi.


"Memang sih, disini bagus dan lengkap. Tapi, kalau aku tahu harganya bikin bulu romaku bergidik, mending aku belanja sendiri ke pasar." batin Raina.


Untuk pertama kalinya, Raina berbelanja dengan harga yang begitu fantastis untuknya. Dan langsung membuat surut isi amplop yang diberikan mertuanya.

__ADS_1


Note : Kalian berkhayal sendiri aja ya, disini keluarga Sanjaya memang kaya, tapi kekayaannya masih dikategorikan normal tidak sesultan keluarga-keluarga besar dinovel sebelah ya 🀭


__ADS_2