
"Kalau saya boleh tahu, ada hal apa yang membawa perempuan cantik seperti dirimu datang kemari?" tanya Ibu Santi sembari memuji Erlina.
"Saya hanya ingin berkunjung kesini, Bu. Oh, ya ... ini saya bawakan buah untuk ibu." jawab Erlina yang tersipu malu karena dipuji oleh mamahnya Satria, lalu Erlina menyodorkan keranjang buahnya pada Ibu Santi.
"Oh, terimakasih. Padahal kita baru saja bertemu, tapi kamu sudah repot-repot membawakan buah tangan untuk saya." ujar Ibu Santi.
"Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja ini sebagai tanda perkenalan dari saya." ucap Erlina.
Erlina memperhatikan sudut rumah Satria, yang tidak ada menampakkan foto pernikahan Satria dengan istrinya didinding rumah itu, hanya ada foto keluarga saja disana.
Tak lama kemudian, Bi Darsih datang membawa dua gelas yang berisi minuman dan menghidangkan dimeja.
"Silahkan diminum, Erlina." ucap Ibu Santi.
"Iya, Bu. Terimakasih." Erlina pun meminum minuman yang telah disajikan tersebut.
"Apa kamu teman sekolah Satria?" tanya Ibu Santi.
"Ehm ... tidak, Bu. Kami berkenalan diwaktu yang tidak disengaja saat dua tahun yang lalu." jawab Erlina sembari tersenyum mengingat perkenalan singkatnya dengan Satria kala itu.
Flashback On
Dua tahun yang lalu disebuah kota yang dikenal dengan sebutan kota khatulistiwa disanalah awal mula pertemuan Erlina dengan Satria.
Satria beserta tiga orang temannya dari divisi yang berbeda ditugaskan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak dapat diatasi diperusahaan cabang yang berada di kota tersebut.
Sedangkan Erlina, dirinya juga mendapatkan tugas dinas untuk bertugas disalah satu desa pedalaman dikota tersebut yang ternyata tidak jauh dari workshop tempat Satria bekerja.
Hari itu, bertepatan dengan hari libur demi mengusir rasa jenuh, teman-teman kerja Satria mengajak untuk jalan-jalan ke kota. Disana mereka, berkunjung ke taman alun-alun kota tersebut. Banyak dari warga sekitar atau pendatang memanfaatkan tempat tersebut untuk rekreasi keluarga. Tak jauh dari alun-alun, ada sungai yang juga merupakan ikon dikota tersebut.
Ditepian sungai tersebut, banyak bangku-bangku yang dapat digunakan untuk bersantai sembari menikmati berbagai kuliner yang dijajakan disepanjang tepian.
Satria dan kawan-kawan pun memutuskan untuk beristirahat menikmati pemandangan dikota tersebut sembari menikmati jajanan pinggir jalan itu.
Tak sengaja mata Satria bertemu tatap dengan mata seorang perempuan cantik yang juga duduk tidak jauh dari tempatnya berada. Mereka pun saling memandang dalam beberapa detik. Dan tak lama kemudian, Satria dan rombongan pun memutuskan untuk pulang ke mes mereka. Karena perjalanan yang cukup jauh, sehingga mereka tidak bisa berkata-lama berada disana.
Pertemuan Satria dengan perempuan itu yang tak lain adalah Erlina, tidak hanya sampai disitu. Beberapa minggu kemudian, salah seorang rekan kerja Satria yang bertepatan juga satu kamar mes dengan Satria sedang sakit. Pihak perusahaan memutuskan untuk memanggil dokter untuk memeriksakan karyawannya yang sedang sakit.
Dan ternyata dokter tersebut adalah Erlina. Akhirnya Satria dipertemukan kembali dengan perempuan yang tidak sengaja ia pandang.
"Ehm, apa kamu yang berada ditepian alun-alun, beberapa minggu lalu?" tanya Satria ragu.
__ADS_1
"Iya, ternyata kamu masih ingat." jawab Erlina.
"Kenalkan namaku Satria, kamu?" tanya Satria sembari mengulurkan tangannya.
"Erlina. Kamu bisa memanggil, Lin." jawab Erlina sembari membalas uluran tangan Satria dan memberikan senyuman termanisnya.
Selepas pertemuan itu, Satria tak lupa untuk meminta nomor handphone sang dokter. Yang semula hanya bertegur sapa, saling berbagi cerita dan akhirnya kedekatan mereka membuat benih-benih cinta itu tumbuh. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan mereka dengan berpacaran.
Flashback Of
Ibu Santi memperhatikan ekspresi Erlina yang terlihat senang sekali saat menceritakan pertemuan perempuan itu dengan anaknya. Ibu Santi merasakan ada cinta untuk anaknya dari sorot mata perempuan yang sekarang duduk dihadapannya ini.
"Apa kalian sempat menjalin hubungan lebih dari seorang teman?" tanya Ibu Santi yang membuat Erlina semakin tidak bisa menutupi perasaannya.
"Ehm, hanya sebuah pendekatan yang tidak resmi. Tapi, saya rasa ... saya sudah tidak punya kesempatan lagi. Karena yang saya dengar, Satria sudah menikah dan memiliki seorang anak. Tujuan saya kesini ingin memberikan selamat kepada Satria dan juga perempuan yang telah berhasil mengambil hati Satria." jawab Erlina sembari mengedarkan pandangannya yang sedari tadi tidak melihat perempuan yang berada dirumah sakit bersama Satria.
"Ternyata dia sudah tahu status Satria yang sekarang." batin Ibu Santi.
Ibu Santi seakan tahu pandangan mata Erlina yang sedang mencari kehadiran seseorang yang tak nampak dirumah itu.
"Satria sedang bekerja dan Raina bersama anaknya, sedang mengunjungi orangtuanya." ucap Ibu Santi.
"Oh, nama gadis itu ternyata Raina." batin Erlina.
"Praktek? Memangnya ... Nak Erlina kerja apa?" tanya Ibu Santi.
"Saya sebagai salah satu dokter umum dan bekerja di rumah sakit melati, Bu." jawab Erlina.
Ibu Santi hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum mendengar jawaban dari Erlina. Erlina pun beranjak pergi meninggalkan rumah Satria setelah berpamitan dengan ibu Santi.
*******
Setelah penerbangan yang sempat tertunda, akhirnya Satria dan Aldo kini sudah berada didalam pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka.
Lima puluh lima menit, pesawat mendarat dengan lancar. Para penumpang pun turun dari pesawat tersebut, tidak banyak penumpang dipesawat itu. Karena sebagian orang yang akan ke kota itu lebih memilih menggunakan jalan darat yang lebih murah biayanya meskipun harus menempuh perjalanan berhati-hari.
Hanya orang tertentu saja lah yang menggunakan pesawat untuk mempersingkat waktu.
Karena Satria sudah pernah ke kota itu sebelumnya, jadi dia masih ingat jalan-jalan dikota tersebut. Satria dan Aldo menaiki taksi bandara yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka.
Satu jam perjalanan, tibalah mereka disebuah bangunan yang sangat luas yang mampu menampung sekitar satu juta lebih narapidana didalamnya.
__ADS_1
Satria dan Aldo memasuki bangunan yang seperti kantor, mereka menuju ruang informasi terlebih dahulu.
"Permisi, Pak. Saya ingin mengunjungi adik saya, salah satu tahanan disini yang bernama Awan Mahesa Sanjaya." ucap Satria.
"Kebetulan setengah jam lagi akan ada jadwal kunjungan untuk keluarga maupun kerabat. Kalian bisa menunggu dilorong ujung sana." jawab Penjaga tersebut sembari menunjukkan sebuah lorong yang menghubungkan pada ruang tunggu untuk para keluarga yang akan mengunjungi sanak saudara yang menjadi warga binaan dirumah tahanan tersebut.
"Baik. Terimakasih, Pak." ucap Aldo.
Satria dan Aldo pun berjalan menuju ruang tunggu tersebut. Disana mereka berdua diperiksa terlebih dahulu sebelum memasuki ruang tunggu dan mengisi daftar kunjungan.
Hingga tibalah waktu yang mereka tunggu, kedua lelaki itu dipersilahkan masuk kesebuah ruangan yang dipenuhi dengan kursi dan meja yang panjang. Dan tak lama kemudian, seorang sipir membawa masuk orang yang ingin mereka temui ke ruangan itu.
"Mas Satria ...." ucap Awan sembari memeluk kakaknya itu.
"Ini Aldo, kakaknya Raina." ucap Satria memperkenalkan Aldo pada Awan.
Awan memang mengenal wajah Aldo karena mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi Awan tidak mengetahui nama kakak dari Raina itu. Awan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Aldo.
"Mamah beberapa minggu yang lalu datang kesini saat aku sedang melakukan sidang. Dan mamah mengikuti jalannya persidanganku." ucap Awan tanpa ditanya terlebih dahulu oleh kakaknya.
"Ternyata benar dugaanku. Mamah pergi kesini diam-diam dariku dan juga Bara. Bagaimana dengan hasil sidangmu?" Satria menimpali ucapan adiknya dan kemudian melemparkan pertanyaan pada Awan.
"Putusan terakhir aku terkena hukuman enam tahun penjara." jawab Awan.
"Kamu yang sabar, semoga selama disini kamu bisa banyak belajar dan lebih baik lagi. Anggap saja, kamu sekarang sedang belajar dipondok." ucap Satria yang memberikan semangat pada Awan.
"Iya. Terimakasih, Mas." jawab Awan.
Sedangkan Aldo hanya diam, membiarkan kakak beradik yang ada didekat nya itu saling melepas rindu mereka.
"Sebenarnya tujuan Mas kesini bukan hanya mengunjungi dirimu. Mas kesini, ingin menanyakan sesuatu padamu." ucap Satria.
"Tentang apa, Mas? Apa Mas Satria ingin menanyakan perasaanku lagi pada Raina?" Satria belum melontarkan pertanyaannya pada Awan, ternyata adiknya malah bertanya lebih dulu kepadanya.
Satria dan Aldo saling melempar pandang. Dan kini Aldo sudah merapatkan tubuhnya lebih dekat untuk mendengar jawaban dari Awan karena ini berhubungan dengan adiknya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π