
Raina sudah berada dirumah sakit bersama dengan Ibu Riska yang menemaninya. Hari itu Raina datang lebih awal agar bisa mendapatkan antrian depan, mengingat bulan sebelumnya dia menunggu antrian terlalu lama dan membuatnya sangat bosan.
Tinggal satu orang pasien yang mendapat antrian didepan Raina. Tibalah giliran Raina yang masuk keruang dokter setelah namanya dipanggil.
"Mari, Bu. Langsung berbaring." ucap seorang perawat yang meminta Raina untuk berbaring dikasur pemeriksaan.
Perut Raina diolesi gel khusus terlebih dahulu, kemudian sebuah alat sudah bergerak diatas perut Raina. Dan tampillah gambar bayi yang betul-betul terlihat sempurna secara fisik dilayar monitor. Dan terlihat sang bayi seperti sedang menghisap jempolnya.
Ibu Riska pun tertegun dengan penampakan sang cucu yang kehadirannya sangat ditunggu oleh semua orang. Dan ini pertama kalinya selama kehamilan Raina, dirinya menemani anaknya untuk pemeriksaan kehamilan.
"Ini air ketubannya bagus, posisi bayinya juga bagus tidak sungsang. Jika posisi bayi seperti ini terus sampai masa persalinan tiba, kemungkinan besar ibu bisa melakukan persalinan melalui jalan normal." ucap dokter Roy.
Seperti biasa, Raina selalu diam mencermati gambar bayinya dan hanya mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama.
"Nah, ini belalainya benar-benar terlihat ya, Bu. Dan dipastikan insya Allah, si bayi laki-laki." tambah sang Dokter lagi.
Raina sudah melihat perkembangan bayinya dan sekarang dia sudah duduk dihadapan sang dokter kandungan.
"Apa yang dapat mempermudah proses persalinan secara normal, Dok?" tanya Raina.
"Pertanyaan yang bagus, sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya ibu harus aktif bergerak, berolahraga seperti yoga ... itu bisa membuat otot-otot ibu semakin kuat dan Ibu bisa mengatur ritme pernapasan selama persalinan nanti, ibu harus tetap rileks dan selalu berfikir positif, serta bisa juga saat mendekati persalinan, ibu dan ayah lebih aktif berhubungan intim karena itu bisa mempercepat kontraksi dan harus dalam posisi yang tidak membahayakan si baby pastinya." jawab dokter Roy.
Raina dan Ibu Riska mendengarkan penjelasan dokter Roy dengan seksama, pada saat menjelaskan dibagian hubungan intim kedua ibu dan anak itu saling berpandangan, mengingat Raina tidak bisa melakukan bagian terakhir yang disebutkan oleh sang dokter. Dan Raina langsung tersenyum kecut saat mendengar penjelasan terakhir itu.
"Dan saran saya, sebaiknya ibu harus mengurangi asupan karbohidratnya, lebih banyakin makan buah dan sayur saja. Karena ini berat bayi sudah sangat cukup, jika ibu terlalu banyak makan karbohidrat, bisa-bisa bayinya over size dan malah tidak bisa melahirkan secara normal." tambah dokter Roy lagi.
"Baik, Dok. Terimakasih atas sarannya." ucap Raina.
"Iya, sama-sama. Semoga selalu sehat hingga waktu persalinan tiba dan dilancarkan proses persalinannya." Dokter Roy memberikan doa untuk Raina.
"Amin. Terimakasih banyak sekali lagi, Dok." jawab Raina sembari bersalaman pada dokter Roy dan kemudian keluar meninggalkan ruangan itu.
Ibu dan anak itu pun berjalan beriringan disepanjang koridor rumah sakit. Keduanya hanya diam dan sesekali melempar senyuman. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Saat mereka berdua sudah berada didalam mobil, ibu Riska melihat ke arah Raina yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah, jangan dipikirin lagi saran dokter yang terakhir tadi. Kan, masih banyak cara lainnya selain itu." ucap Ibu Riska yang mencoba menggoda Raina.
"Ih, apaan sih, Ibu. Raina gak lagi mikirin itu, kok." jawab Raina yang terlihat malu-malu jika membahas masalah hubungan intim.
Ibu Riska hanya tertawa melihat kedua pipi anaknya yang terlihat merah merona.
**********
Dua minggu menjelang persalinan Raina, Satria sudah kembali ke kota dimana ia tinggal. Satria juga sudah meminta untuk dipindah tugaskan ke kota asalnya. Dan tentu tidak mudah untuk Satria mendapatkan izin pindah tugas. Dirinya harus melewati tahapan demi tahapan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan oleh perusahaan yang menaunginya.
Dan akhirnya, permohonannya pun dikabulkan. Satria sengaja meminta dipindahkan kerjanya, karena mengingat Raina akan melahirkan sebentar lagi. Satria ingin terus berada disisi orang yang ia cintai. Meskipun dia belum tahu bagaimana perasaan Raina untuk dirinya.
Setibanya dirumah, Satria hanya bertemu sebentar dengan mamahnya. Setelah itu, langsung pergi ke rumah Raina untuk menemui wanita pujaannya itu.
"Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Satria pada Raina.
"Alhamdulilah, aku baik." jawab Raina.
"Dia baik juga dan sudah siap untuk menyapa dunia." jawab Raina sembari tersenyum dan mengelus lembut perutnya.
"Kapan perkiraan lahirnya?" tanya Satria yang sudah tidak sabar untuk bertemu keponakan yang akan ia angkat sebagai anaknya itu.
"Kalau menurut perkiraan dokter sih, seminggu lagi. Tapi, ada yang bilang kalau dia akan lahir dalam beberapa hari lagi." jawab Raina.
"Kenapa orang itu bisa menduga seperti itu?" tanya Satria yang penasaran.
"Mereka bilang dilihat dari kakiku yang sudah sangat membengkak ini." jawab Raina yang memperlihatkan telapak serta jari-jari kakinya yang membengkak.
"Bagaimana mereka mengukurnya dari kaki yang bengkak?" tanya Satria lagi.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kata ibu, itu mitos yang masih sangat dipercaya dan kebanyakan memang terbukti." jawab Raina.
__ADS_1
"Apa itu sakit?" tanya Satria yang terlihat khawatir.
"Ini tidak terasa sakit, tapi aku kepayahan untuk memakai sandal ataupun flat shoes karena kakiku semakin melebar dan gendut." jawab Raina sembari mengerucutkan bibirnya.
Satria tersenyum melihat Raina yang mengerucutkan bibirnya, menurut Satria hal tersebut sangat menggemaskan baginya. Tapi, dia juga merasa bersedih karena tidak mudah bagi Raina menjalani kehamilannya dari awal hingga sekarang. Namun, dimata Raina tampak ketenangan menunggu hari persalinannya tiba.
"Bagaimana bisa kamu setenang ini, apa mamah juga seperti Raina saat akan melahirkan aku? Memang, makhluk Tuhan yang bernama wanita ini sangat tangguh." puji Satria dalam hatinya.
**********
Hari-hari berlalu, waktu perkiraan persalinan pun semakin dekat. Raina melakukan apa pun yang telah disarankan oleh dokter untuk mempermudahkan dirinya dalam menghadapi persalinan normal nanti.
Tepat pukul dua belas malam, Raina terbangun dari tidurnya. Raina merasa gelisah setiap kali dia memejamkan matanya, Raina kerap kali buang air kecil, hingga Raina tidak bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak. Sesekali Raina duduk, sesekali dirinya kembali berbaring dan kembali berdiri, posisi itu dilakukannya berulang-ulang. Tiba-tiba, Raina merasa sakit didaerah pinggangnya. Terasa seperti pegal setelah melakukan pekerjaan yang berat, padahal Raina tak pernah melakukan pekerjaan yang berat selama hamil tua ini.
Raina mondar-mandir didalam kamarnya, hingga dia lelah dan akhirnya bisa tertidur. Namun, lagi-lagi saat dirinya mulai pulas, rasa ingin buang air kecil pun kembali menyerang. Raina kembali beranjak dari kasurnya dan mulai menyelesaikan buang air kecilnya. Tak disangka, Raina melihat sebercak flek berada dicelana dalamnya.
Raina segera membangunkan ibunya dan memberitahukan hal tersebut.
"Kamu yakin itu flek?" tanya Ibu Riska.
"Iya, Bu. Raina juga tidak bisa tidur nyenyak, dari tadi bawaannya pengen buang air kecil mulu." jawab Raina dengan wajah kesalnya.
"Apa kamu merasakan sakit diperutmu?" tanya Ibu Riska lagi.
"Tidak, Bu. Raina hanya merasa pegal sekali dipinggang Raina." jawab Raina sembari memegangi pinggangnya.
"Tunggu saja hingga perutmu sakit, baru kita periksa ke dokter." ucap Ibu Riska.
Pagi sudah menyambut, hingga pagi itu Raina masih belum bisa juga tertidur. Raina mulai mempersiapkan baju ganti untuknya serta kain yang ia masukkan menjadi satu didalam tas bayinya. Raina merasa dirinya akan melahirkan hari itu. Ketika dirinya hendak berdiri, Raina merasa sakit yang teramat sakit dibagian perutnya.
"Apa ini yang dinamakan kontraksi?" gumam Raina.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author ya π
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ