
Pikiran ku masih tak tenang.
"Bagaimana dengan Raina diatas ya? Apa aku samperin aja dia disana?"
Baru saja aku akan beranjak dari tempat duduk ku, Bunda sudah menahan ku lagi.
"Kamu disini aja, biarkan Raina menenangkan dirinya sendiri." ucap Bunda seakan mengerti kegelisahan ku.
Aku kembali duduk, melihat ibu nya Raina yang sudah sedikit lebih tenang.
"Silah kan, Bu, diminum dulu airnya." ucap Bunda pada Ibu nya Raina seraya menyodorkan minuman didepan beliau.
"Terimakasih, Bu." ucapnya dan tersenyum menerima minuman dari Bunda.
"Hmmm, maaf Bu, Ibu ada masalah apa ya, dengan Raina?" tanya Bunda hati-hati.
"Perkenalkan, nama saya Riska, saya ibunya Raina." ucap beliau memperkenalkan diri kepada Bunda.
"Ooo ...." Bunda seperti kaget mendengar ungkapan dari ibunya Riana, sehingga bunda hanya ber-o ria tanpa menyambut uluran tangan dari ibunya Raina.
"Bun, itu." Aku menyenggol lengan Bunda dan melirik ke arah tangan yang masih terulur.
Bunda dengan cepat meraih tangan tersebut.
"Ehm, maaf, maaf, jadi melamun saya. Saya Eva pemilik resto ini dan disebelah saya ini, Sandra anak saya." ucap Bunda sembari memperkenalkan diriku.
Sedangkan aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum ramah kepada beliau.
"Kamu ... yang waktu itu diplaza sama Raina, kan?" tanya Ibu Riska melihat ke arahku.
__ADS_1
"Hmmm, iya tante. Saya sahabatnya Raina." jawabku.
"Oh, begitu. Maaf saat itu membuat kalian lari-larian mengejar saya. Sebenarnya, saya saat itu ingin sekali berhenti sebentar sekedar untuk menyapa Raina, tapi suami saya ada keperluan mendadak jadi kami buru-buru dan meninggal kan kalian. Dan salah saya juga yang tidak memberitahukan keberadaan Raina kepada suami saya saat itu." ungkapnya.
Aku dan Bunda saling berpandangan.
"Jadi, Ibu sudah menikah lagi? Ehm, maaf." tanya Bunda sembari menutup mulutnya.
"Iya, Bu." jawab Ibu Riska singkat sembari tersenyum kepada Bunda.
"Sebenarnya saya juga tahu kabar meninggal nya mantan suami saya, bapaknya Raina. Tapi saat itu saya sedang tidak berada dikota ini saya menemani perjalanan bisnis suami saya di kota lain." ungkapnya.
Sedangkan aku dan Bunda hanya menjadi pendengar setia.
"Saya tahu pasti anak-anak merasa terpukul atas meninggalnya bapak mereka. Dan saya tidak ada disaat masa-masa tersulit mereka. Saya benar-benar ibu yang tidak berguna untuk mereka." ucap Ibu Riska yang kembali menitik kan air matanya.
"Hingga detik ini, saya masih belum punya keberanian untuk bertemu mereka semua, Bu. Pasti mereka sudah tidak mau lagi menerima saya." ucap Ibu Riska tersedu-sedu.
"Di awal memang pasti berat untuk mereka, tapi cobalah perlahan, pasti mereka akan luluh dengan sendirinya. Begitu pula Raina, dia hanya menumpahkan segala amarah nya, dia pasti mau memaafkan ibu karena sebenarnya dia adalah anak yang baik." ucap Bunda menguatkan Ibu Riska.
Ya, aku tetap menjadi pendengar setia. Mendengarkan pembicaraan kedua ibu yang ada di depan ku saat ini.
"Ibu harus bangga punya anak seperti Raina, anak setegar dan setangguh Raina, yang berusaha mandiri tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Dan dia dengan rela mengubur impian nya sementara agar adiknya dapat melanjutkan sekolahnya. Hingga akhirnya dia bekerja disini dari awal setelah selesai ujian sekolah sampai dia menerima ijazah, dia sekarang lagi berjuang mencari biaya untuk kuliah nya sendiri." ucap Bunda menjelaskan keadaan yang sudah terjadi dengan Raina.
"Ya Allah, sebegitu sulitnya mereka berjuang, sementara saya ibunya tidak pernah tahu kesulitan apa yang sudah mereka hadapi selama ini tanpa saya." Terlihat Ibu Riska sangat menyesal atas apa yang sudah dia perbuat selama ini.
"Sekarang Ibu, kembali lah ke mereka. Karena sisa Ibu satu-satu nya orang tua mereka sekarang. Perlahan tapi pasti, semua akan indah pada waktunya." ucap Bunda kembali mengingatkan Ibu Riska.
"Besok adalah hari ulang tahun Raina yang ke delapan belas, saya akan buat Raina bahagia dan tersenyum lagi." ucap Ibu Riska bersemangat.
__ADS_1
Aku dan Bunda pun dapat merasakan kerinduan yang teramat dalam dari Ibu Riska.
"Nak Sandra, tolong sampaikan ke Raina bahwa saya sudah benar-benar berubah. Saya sangat merindukan mereka dan saya sangat menyayangi mereka semua." ucap Ibu Riska kepadaku.
"Baik Tante, nanti pasti akan saya sampaikan ke Raina." ucapku.
"Sana, lihat Raina. Apa dia sudah mulai membaik atau belum?" ucap Bunda.
Aku menganggukan kepala ku dan meninggalkan kedua ibu yang masih bercerita dibawah.
*******
Ku buka pintu kantor, ku lihat sekeliling sunyi, Raina sudah terlelap di sofa.
"Mungkin dia capek kebanyakan nangis." gumamku.
Aku melangkah duduk di kursi kerja nya sembari memperhatikan sahabatku yang terbuai dalam mimpinya.
"*Raina, bagaimana kamu mampu melewati hari-hari terberat mu selama ini? Mungkin jika aku yang di posisi mu, aku tidak akan sanggup dan gak akan bisa sekuat kamu, Rai.
Aku janji, Rai, akan bantu kamu mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu lagi*."
Bersambung
Mohon maaf jika tulisan saya masih kurang bagus. Saya akan terus belajar dan belajar untuk memperbaiki nya.
Terimakasih untuk admin yang selalu meloloskan cerita ini.
Untuk para readers, mohon untuk like, komen dan vote. Karena dukungan dari kalian sangat berarti untuk saya. βΊοΈβΊοΈππ
__ADS_1