
Satria terus melajukan sepeda motornya, hingga sepeda motor itu berhenti tepat didepan sebuah rumah yang sudah seharusnya dirinya berada didalam rumah itu.
Kakinya melangkah menyusuri halaman dengan taman kecil disamping-sampingnya, sampai tibalah dirinya didepan pintu rumah yang tertutup rapat. Satria terdiam sejenak, hingga akhirnya dirinya memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu.
Tak lama kemudian, pintu rumah dibuka oleh sang tuan rumah yang tak lain adalah ibu Riska, ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bu." ucapnya pada wanita paruh baya itu sembari mencium punggung tangan mertuanya penuh takzim.
"Wa'alaikumsalam, Nak Satria. Kamu habis darimana, bawa ransel sebesar ini?" tanya Ibu Riska yang menatap bingung ke arah menantunya.
"Satria gak dari mana-mana. Satria dari rumah dan sekarang Satria kesini untuk berkumpul dengan istri dan anak Satria." jawab Satria dengan nada yang menyiratkan ada beban berat yang ia rasakan saat ini.
Ibu Riska mengajak menantunya itu untuk masuk ke ruang keluarga. Diruang keluarga ada Aldo dan juga Raka yang sedang menonton televisi. Dan saat kedatangan Satria ke ruang keluarga, sama halnya dengan ibunya, Aldo dan Raka pun menatap bingung ke arah Satria yang membawa tas ransel besar yang sepertinya penuh dengan barang bawaan.
"Letakkan dulu ranselmu itu disini, istirahatlah dulu. Baru kemudian kamu jelaskan pada kami semua alasan dirimu datang kesini dengan membawa barang yang cukup banyak seperti ini." ucap Ibu Riska yang diberi anggukan kepala oleh Satria sebagai jawaban.
Satria meletakkan tas ranselnya dilantai ruang keluarga, kemudian dirinya menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memejamkan matanya sejenak. Aldo dan Raka hanya diam melihat Satria seperti itu, terlihat jelas bahwa begitu berat beban yang sedang dihadapi oleh iparnya itu.
Sementara itu, Ibu Riska masuk ke dalam kamar Raina untuk memberitahukan kedatangan Satria pada Raina.
"Rai, siapkan minuman hangat dan juga makanan untuk suamimu. Sepertinya dia lelah sekali." titah Ibu Riska.
"Mas Satria ada disini, Bu?" tanya Raina kurang yakin.
"Iya, dia baru saja datang membawa tas ransel besar yang terlihat sangat berat." ujar Ibu Riska.
Raina hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mendengar ucapan ibunya.
"Kenapa kamu cuma manggut-manggut? Cepat sana, siapkan apa yang ibu bilang. Kasihan suamimu itu." Ibu Riska kembali mengulang perintahnya pada anak perempuannya itu.
"Eh ... iya, Bu." Raina segera bergegas menuruti perintah sang ibu.
Raina langsung menuju dapur setelah sekilas dirinya melihat Satria yang terduduk disofa dengan memejamkan mata.
Raina dengan cepat menyiapkan apa yang telah diperintahkan oleh ibunya itu. Setelah dirasa semua sudah siap, Raina beranjak dari dapur menuju ruang keluarga untuk memanggil Satria.
"Mas, makan malam dulu, yuk. Pasti Mas belum ada makan, kan?" ucap Raina sembari mengelus lembut lengan Satria.
Satria yang merasakan sentuhan lembut dari Raina pun terbangun dari tidur sesaatnya. Dan terperanjat saat melihat Raina yang sudah ada disampingnya.
"Aku pikir aku sedang bermimpi, ternyata ini nyata kamu membangunkan diriku." ucap Satria sembari tersenyum kikuk pada Raina.
"Ayo, makan dulu." Raina kembali mengajak Satria.
Satria pun tak menolak ajakan Raina dan langsung mengikuti langkah Raina menuju ruang makan. Raina mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Satria. Raina begitu telaten melayani Satria, seperti istri sesungguhnya yang melayani suaminya. Raina juga tak beranjak dari duduknya menemani Satria makan.
"Kamu gak ikutan makan?" tanya Satria yang melihat Raina hanya memperhatikan dirinya saja sedari tadi.
__ADS_1
"Gak, Mas. Aku sudah makan." jawab Raina sembari menggelengkan kepalanya.
Satria menganggukan kepalanya dan kembali menikmati makanannya. Memang sepulang kerja dia langsung kerumah pakdenya dan tidak ikut makan bersama keluarga pakdenya karena dia memilih untuk pulang. Dan ternyata sampai dirumah, dirinya malah disuguhkan pada hal yang membuatnya semakin muak dengan mamahnya. Hingga dirinya melupakan urusan perutnya.
********
Sementara itu dikediaman ibu Santi yang tak lain adalah mamahnya Satria, wanita paruh baya itu terduduk dan menangis. Seketika tubuhnya merasa lemas, karena sudah meluapkan segala emosinya pada anak sulungnya itu. Tubuhnya bergetar, terisak dan kembali mengingat bagaimana dirinya dengan tega mengusir anak sulungnya itu dan bahkan memutuskan hubungan darah antara ibu dengan seorang anak kandung sendiri.
"Bagaimana bisa, aku mengucapkan hal seperti itu?" isak Ibu Santi.
Bara yang saat itu baru saja masuk ke dalam rumah juga mendengar ucapan mamahnya yang seperti sebuah penyesalan.
"Mamah puas susah usir kak Satria dari rumah ini? Seharusnya mamah berfikir, kenapa kak Satria tega mengambil keputusan seperti ini. Itu semua karena keegoisan mamah sendiri." ucap Bara dan langsung beranjak dari tempatnya berdiri kembali menuju kamarnya tanpa menghiraukan mamahnya yang masih terisak menangis.
Sementara Erlina, masih dengan setia berada disamping ibu Santi. Mengelus lembut punggung wanita paruh baya itu untuk mencoba menenangkan.
"Tante yang sabar, ya. Tante jangan nangis terus, ada Lin disini yang masih bersama tante." ucap Erlina sembari menggenggam tangan ibu Santi.
Entah apa yang telah ia ucapkan, dirinya pun tak mengerti. Kata-kata itu seakan terlontar begitu saja dari mulutnya. Bahkan dia sadar, sudah tak akan mungkin dan tak akan bisa merubah posisi dirinya dihati Satria. Dirinya hanya seorang mantan dimata Satria. Usahanya untuk mendapatkan kembali hati Satria melalui ibu Santi yang merupakan mamah dari Satria, ternyata tidak membuahkan hasil.
Bahkan sekarang dirinya benar-benar merasa bersalah karena sudah memanfaatkan suasana kacau hati ibu Santi yang menginginkan perpisahan antara Satria dan istrinya.
"Ya Tuhan, maafkan diriku yang sudah menjadi manusia yang paling egois tanpa menghiraukan perasaan orang lain." batin Erlina.
Setelah ibu Santi merasa cukup tenang, Erlina pun berpamitan untuk pulang.
*********
"Maaf, jika kehadiran saya dimalam ini menganggu kalian. Kalian pasti bingung dan bertanya-tanya, kenapa saya datang kesini dengan membawa ransel besar yang terisi penuh ini? Saya sudah memutuskan untuk keluar dari rumah dan saya ingin berkumpul dengan keluarga kecil saya." ucap Satria.
Semua yang berada diruang keluarga itu saling berpandangan setelah mendengar penjelasan dari Satria.
"Maksud kamu? Kamu mau tinggal bersama kami disini?" tanya Ibu Riska.
"Untuk sementara waktu saya meminta ijin pada ibu untuk tinggal sementara disini sampai saya mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk Raina dan juga Al." jawab Satria.
"Lalu bagaimana dengan mamahmu?" tanya Ibu Riska lagi.
"Hmmm ... saya sudah gak tahan menghadapi mamah, Bu. Bahkan mamah sudah memutuskan hubungan antara saya anak kandungnya sendiri dengan dirinya. Beliau sudah tidak mau menganggap saya sebagai anaknya." jawab Satria yang terdengar pilu.
"Astagfirullah ... yang sabar ya, Nak. Mungkin beliau terbawa emosinya sampai mengucapkan hal seperti itu. Tapi, dirimu tidak boleh mengacuhkannya, bagaimana pun beliau tetap ibu kandungmu yang telah melahirkan dirimu." Ibu Riska terkejut mendengar jawaban dari Satria dan mencoba menenangkan menantunya itu serta kembali menasihati Satria.
Ibu Riska tak habis pikir dengan besannya yang sampai tega bertindak seperti ini terhadap anak kandungnya sendiri. Semarah-marahnya orangtua pada anaknya, tidak sepatutnya ibu Santi sampai mengucapkan hal seperti itu.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih untuk kalian semua yang masih mau menerima hadirku disini." ucap Satria.
"Hemm ... sudah seharusnya, Nak. Bagaimana pun kamu adalah suami dari Raina. Yang berarti menantu ibu dan juga saudara ipar untuk anak-anak ibu yang lain. Kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri." balas Ibu Riska.
__ADS_1
Sementara semua hanya diam mendengarkan percakapan antara Satria dengan ibu mereka. Aldo dan Raka hanya tersenyum mendengar perkataan ibunya, mereka juga sudah menerima Satria sebagai saudara ipar mereka.
" Terimakasih banyak sekali lagi." ucap Satria sembari mencium punggung tangan ibu mertuanya penuh takzim.
"Ya, sudah. Kamu istirahat dulu, bawa barang-barangmu ke atas. Kamu bisa tidur bersama dengan Aldo disana." titah Ibu Riska.
"Ehm, maaf Bu. Boleh tidak, saya tidur dikamar bersama dengan Raina saja. Biar saya juga bisa membantu Raina jika Al sewaktu-waktu bangun tengah malam nanti." pinta Satria.
Ibu Riska memandang Raina dan kemudian kembali menatap Satria.
"Iya, silahkan. Toh, kalian memang seharusnya tidur sekamar biar lebih kompak dalam urusan mengasuh anak." ucap Ibu Riska mempersilahkan menantunya itu untuk tidur sekamar dengan anak perempuannya.
Semua pun sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu pula dengan Raina dan Satria. Satria meletakkan tas ranselnya itu didalam kamar Raina.
"Letakkan saja disana, Mas. Besok biar aku yang merapikannya." ucap Raina sembari menunjuk ruang kosong disamping lemari baju milik Al.
Satria pun mengikuti apa yang dikatakan Raina. Sementara itu, Raina memindahkan posisi Al yang sudah tertidur agar ada ruang untuk Satria tidur bersama diatas kasur.
"Ehm ... Dek, biarkan Mas tidur dibawah aja. Mas gak apa-apa, kok." ujar Satria yang melihat kasur Raina yang tidak terlalu besar jika harus ditempati bertiga dengan dirinya.
"Mas yakin?" tanya Raina yang merasa tidak enak hati.
"Iya, gak apa-apa. Toh, Mas kan, juga pernah tidur dibawah sini." jawab Satria.
"Oh, kalau begitu biar Raina siapkan kasurnya dulu." ucap Raina sembari melangkah mengambil kasur lipat yang berada didalam lemari besar miliknya.
Raina membeberkan kasur itu dilantai, kemudian melapisinya dengan seprei agar Satria merasa nyaman tidur diatasnya.
"Sudah, silahkan istirahat." ucap Raina yang berdiri dan mempersilahkan Satria untuk tidur.
"Terimakasih." ucap Satria sembari mengacak lembut rambut Raina dan tersenyum pada perempuan itu.
Kini jarak mereka benar-benar sejengkal, Raina terdiam saat Satria mengacak rambutnya. Karena ini hal yang pertama lagi Satria menyentuh kepalanya dengan lembut setelah beberapa bulan tidak bersama selama dirinya keluar dari rumah mertuanya.
Tak disangka, Satria mendaratkan ciuman lembut dikening Raina dan membuat perempuan itu semakin terdiam dan merona.
"Selamat tidur." ucap Satria setelah mendaratkan ciuman tiba-tiba.
Meski hanya ciuman dikening, itu sudah berhasil membuat pipi Raina merona dan jadi salah tingkah.
"Ehm, iya selamat malam." balas Raina dengan gugup dan langsung membalikkan badannya menuju kasur miliknya. Raina langsung naik ke atas kasur dan tidur dengan posisi memunggungi Satria. Raina tersipu-sipu malu setelah kejadian tadi. Meski singkat, tapi membuat hatinya kembali bergetar dan terasa berbunga-bunga.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π