Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kerinduan seorang ibu


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, Raina dan Satria dikejutkan oleh tangisan baby Al yang tengah lapar dan haus. Dengan mata yang masih mengantuk, Raina mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya, Raina memberikan ASI nya pada anaknya itu. Al yang tengah lapar itu pun langsung menerima asupan ASI dari sang bunda dengan sangat lahapnya.


"Kamu lapar dan haus, ya ... kuat sekali mimiknya. Bunda harus kuat makan agar ASI bunda selalu banyak untukmu." Raina berbicara pada Al yang masih asik menghisap sumber makanannya itu.


Raina sudah banyak belajar bagaimana caranya menjalin ikatan antara ibu dengan anak agar menjadi semakin erat. Salah satunya adalah pemberian ASI eklusif untuk sang buah hati, menatap wajah sang anak dengan penuh kasih sayang saat ibu menyusuinya. Karena interaksi yang terus menerus dilakukan dengan penuh kasih sayang akan membuat ikatan antara ibu dan anak semakin kuat.


Seperti halnya dengan ayah yang sudah berinteraksi dengan si kecil dari semenjak dia berada didalam kandungan, dan itu membuat sang bayi mampu mengingat suara yang kerap kali mengajaknya berbicara. Terbukti, baby Al langsung mengenali suara Satria, jika Satria adalah ayahnya.


Tanpa Raina sadari, dirinya sudah diperhatikan oleh Satria yang juga ikut terbangun mendengar tangisan baby Al.


Selain memperhatikan Raina yang begitu penuh kasih sayang menyusui baby Al, mata Satria juga tertuju pada buah dada milik Raina yang terbuka. Jiwa lelakinya meronta, dengan susah payah Satria menelan salivanya, karena ini untuk pertama kalinya dia melihat benda yang menggantung milik Raina itu.


Karena lelah menunduk, Raina pun mendongakkan kepalanya. Dia terkejut saat melihat Satria yang tengah duduk memperhatikan dirinya. Dengan cepat Raina meraih kain lampin milik baby Al untuk menutupi buah dadanya yang masih terbuka karena si kecil masih enggan untuk melepasnya.


"Ehm, Mas kenapa bangun?" tanya Raina dengan gugup.


"Aku bangun karena mendengar Al menangis." jawab Satria.


"Tidurlah lagi, dia sudah tenang sekarang." ucap Raina.


Satria menyadari ketidaknyamanan Raina karena tatapannya. Dengan sedikit rasa kecewa, akhirnya Satria menuruti perkataan Raina untuk tidur kembali.


"Apa katanya? Dia bangun karena mendengar tangisan Al. Itu berarti dia sudah lama melihatnya. Astaga!" Raina malu bukan kepalang karena Satria sudah melihat buah dada miliknya.


*********


Matahari telah memancarkan sinarnya, membakar semangat setiap orang untuk melanjutkan hidup. Pagi ini, semua seisi rumah Raina sudah bangun. Tapi tidak dengan penghuni baru. Ya, siapa lagi kalau bukan si kecil Al.


Al masih tertidur dengan pulasnya, karena memang pada umumnya bayi yang baru lahir cenderung lebih senang tidur.

__ADS_1


Raina sudah mandi terlebih dahulu, dengan susah payah dan cukup lama dirinya berada didalam kamar mandi, akhirnya ritual mandi pun selesai. Satria masih dengan setia duduk dikasur Raina menemani Al.


"Ehm, maaf Mas. Bisa tidak, Mas Satria keluar sebentar. Raina mau memakai baju." ucap Raina, saat dirinya masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Satria disana.


"Oh, silahkan." ucap Satria yang melihat Raina masuk kedalam kamar hanya menggunakan baju mandi diatas lutut dengan kepala yang tertutup dengan handuk.


Lagi-lagi jiwa lelakinya meronta, saat melihat kaki hingga ke paha Raina yang putih mulus dan leher Raina yang terlihat jenjang.


"Shit, terkutuklah kau mata." gumam Satria sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat sudah keluar dari kamar Raina.


"Kamu kenapa, Sat? Apa kamu sedang sakit?" tanya Ibu Riska yang melihat menantunya itu terlihat sangat kusut dengan memegang kepalanya.


"Oh, saya gak apa-apa, Bu. Hanya sedikit pusing, mungkin karena semalam suka terbangun kalau mendengar Al menangis." Satria sengaja berkata bohong, karena dia tidak mungkin berbicara jujur pada ibu mertuanya jika dia sakit kepala gara-gara melihat tubuh indah Raina.


Dia harus menahan hasratnya, hingga dirinya dan Raina melakukan akad nikah lagi.


"Oh, sebaiknya kamu sarapan dulu sana. Ibu sudah membuatkan sarapan untukmu." ucap Ibu Riska.


"Kenapa dengan kakak ipar, Kak?" tanya Raka pada Aldo saat melihat Satria seperti orang yang frustasi melewati mereka dimeja makan.


Aldo hanya mengangkat kedua bahunya, seakan berkata jika dia juga tidak tahu.


Satria pun sudah selesai dengan ritual membersihkan dirinya, lalu dia keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan Aldo dan Raka dimeja makan.


"Apa dirimu dapat beristirahat dengan tenang semalam?" tanya Aldo ketika Satria mendaratkan tubuhnya dikursi.


"Cukup." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Satria.


"Makanlah dengan banyak, agar lebih bertenaga. Aku pamit, berangkat kerja dulu. Semangat lah." ucap Aldo sembari menepuk pelan punggung Satria.

__ADS_1


"Ehm ... sama, aku juga pamit ya, Kak. Aku mau berangkat sekolah. Selamat makan." ucap Raka yang juga ikut meninggalkan Satria.


Hanya tinggal Satria sendiri dimeja makan, dia mulai meminum teh hangat dan sedikit memakan makanan yang sudah dibuatkan oleh ibu Riska. Kemudian setelah itu, dia kembali ke kamar Raina.


Di dalam kamar Raina, masih ada ibu Riska yang membangunkan sang cucu untuk dimandikan.


"Aduh, aduh, si ganteng nenek ... dari tadi malas sekali membuka mata." Ibu Riska seolah mengajak Al untuk berbicara.


Sementara Raina dan Satria tersenyum melihat gaya tidur Al yang lucu, seperti tidak ingin diganggu.


"Apa Mas sudah sarapan?" tanya Raina.


"Iya, Mas sudah sarapan. Apa kamu mau Mas ambilkan makanan untuk sarapan?" Satria kembali bertanya pada Raina.


"Ehm, kalau Mas tidak keberatan." jawab Raina.


"Ok, tunggu lah."ucap Satria dan kembali keluar untuk mengambil kan sarapan untuk Raina.


Lima menit kemudian, Satria kembali masuk lagi ke kamar Raina sembari membawakan makan untuk Raina.


"Ini sarapannya, silahkan." ucap Satria.


"Eh, iya Mas. Terimakasih. Letakkan saja disitu sebentar aku akan memakannya." ucap Raina sembari menunjukkan sebuah nakas.


Raina masih berdiri memperhatikan cara ibunya memandikan Al. Raina tidak berani memandikan Al sendiri, karena Al masih terlihat kecil sekali meskipun saat lahir berat badan Al tiga kilo lima ons. Cukup besar untuk ukuran bayi yang baru lahir. Ditambah dengan tali pusar Al yang masih menggantung, membuat Raina semakin takut jika itu akan tersentuh dengannya jika ia tidak hati-hati. Maka dari itu, Raina membiarkan ibunya untuk membantunya dalam merawat Al untuk sementara.


*******


Dikediaman Satria, ibu Santi menikmati sinar pagi ditaman belakang rumahnya. Tubuhnya sudah terlihat lebih sangat sehat. Apa lagi, setelah ia mendapatkan cucu pertamanya yang membuatnya semakin bahagia.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba wajahnya menjadi sendu. Saat dirinya kembali mengingat wajah Al, dirinya juga merindukan sosok yang mirip dengan Al. Ya, kasih sayang seorang ibu memang tidak bisa dipungkiri. Mau seburuk apa pun kelakuan sang anak, baginya anak itu adalah tetap anaknya. Ibu Santi sangat merindukan Awan, yang telah lama tidak bertemu dengannya.


"Apa kabarmu, Nak? Apa dirimu baik-baik saja disana?" gumamnya sembari meneteskan air mata kerinduan.


__ADS_2