Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Rasa Penasaran Awan


__ADS_3

Raina berjalan meninggalkan ruangan restoran itu. Dengan hati yang masih jengkel karena ulah Ridho.


"Aaaaggghhh! Sebel! Sebel! Kenapa sih, harus ketemu partner kerja yang seperti dia? Kalau bukan karena bunda Eva, sudah pasti aku gak akan lanjutin pakai jasa EO dari dia." gerutu Raina.


Raina segera mengenakan helm nya yang tersimpan dibawah jok sepeda motornya. Dengan cepat dia memutar sepeda motor nya ke arah keluar.


Dia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, namun tetap menjaga keselamatan nya dalam berkendara. Karena waktu istirahat nya pasti akan habis diperjalanan pulang, jika dirinya menggunakan kecepatan sedang.


Setelah tiba diparkiran resto tempatnya bekerja, segera ia parkirkan sepeda motornya dan melangkah cepat memasuki resto.


Awan yang baru saja keluar dari toilet memperhatikan Raina yang terburu-buru menuju kantor yang terletak dilantai dua resto.


Awan melangkah mendekati meja kasir dan menanyakan nya kepada Gina.


"Dari mana si Raina? Beberapa hari ini aku gak pernah lihat dia ambil makan siang dibelakang." tanya nya pada Gina.


"Ya, mana aku tahu. Bukan urusan ku, dia mau makan dimana dan sama siapa diluar sana." jawab Gina dengan nada ketus.


Merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Gina, Awan pun pergi meninggalkan meja kasir dengan perasaan kesal dihati nya.


"Awas aja, kalau sampai aku tahu kamu dekat sama seseorang. Tidak ada yang boleh miliki kamu selain aku." Awan tersenyum sinis.


Rupanya Awan masih menyimpan dendam dihati nya karena telah ditolak Raina waktu itu.


********


Sementara itu di dalam kantor Raina kembali berkutat dengan pekerjaan nya.


Ponsel yang ia letakkan diatas meja kerja kembali berdering. Tertera di layar ponsel nama Bunda Eva, Raina segera menjawab panggilan tersebut.


[Hallo, asalamualaikum, Bun.]


[Walaikumsalam, Rai ... Bunda mau minta tolong ke kamu, untuk tetap pantau sejauh mana persiapan acara nanti. Meski pun kita pakai jasa EO tapi kita harus tetap pastikan persiapan mereka, bunda tidak mau nanti jika ada kekurangan satu hal apa pun. Bunda percayakan ini semua ke kamu.]


[Ba ... Baik, Bun.]

__ADS_1


Panggilan diakhiri setelah bunda Eva memberi amanah panjang lebar untuk Raina.


Sementara Raina terlihat frustasi dengan apa yang baru saja dia dengar dari bunda Eva.


"Aduh, bagaimana ini? Mas Ridho aja belum mengiyakan lagi seperti apa proses persiapan nya. Apa aku memohon aja, ya?" gumam Raina.


Raina mencari nama Ridho dikontak telepon nya dan segera melakukan panggilan.


Tut...Tut...Tut....


Panggilan tersambung, namun belum ada jawaban dari pemilik ponsel diseberang sana.


Raina kembali menghubungi dan kali ini langsung dijawab oleh sang pemilik ponsel.


[Hallo, ada apa, sih? Nelpon-nelpon.] Ridho berbicara dengan nada angkuhnya.


[Aku mau kita ketemu ditempat tadi.]


[Secepat itu kamu sudah kangen sama aku lagi.]


Raina langsung mengakhiri panggilan telepon nya sebelum orang yang diseberang sana terus berbicara ngelantur kemana-mana.


*******


Sementara itu ditempat lain Ridho tersenyum-senyum sendiri. Hati nya seakan berbunga-bunga, saat Raina meminta ingin bertemu.


Dan dia kembali memikirkan cara apa lagi yang akan ia gunakan untuk mengerjai gadis manis itu. Lebih tepatnya untuk membuat Raina bersamanya lebih lama.


Entah dari awal bertemu Raina saat itu, Ridho langsung terpesona dengan Raina yang sederhana dan manis itu. Apa lagi Raina mempunyai ciri-ciri kriteria cewek idaman Ridho. Membuat dirinya semakin tertarik untuk dekat dengan Raina.


**********


Raina melirik jam tangannya, dia berfikir untuk pulang lebih awal agar tidak terlalu malam jika setelah pulang dari bertemu Ridho.


Raina membereskan semua perlengkapan kerjanya. Dan seperti biasa mematikan semua instalasi listrik yang ada di dalam ruangan kerjanya.

__ADS_1


Setelah dipastikan semua aman, barulah dia mengunci pintu kantor dan meninggalkan nya.


Raina turun dari kantor bertepatan dengan jam pergantian sift kerja karyawan resto.


"Tumben, pulang lebih cepat, Rai." sapa Gina yang juga bersiap untuk pulang.


"Iya, ada yang mau aku urus, Gin. Aku duluan, ya." ucap Raina dan berlalu menuju parkiran terlebih dulu meninggalkan Gina.


Raina sudah siap diatas sepeda motornya. Bertepatan dengan Awan yang juga sudah berada diatas sepeda motornya hendak pulang.


Awan memperhatikan Raina yang sudah duluan meninggalkan area parkir. Namun, dia melihat Raina yang mengambil jalan lain bukan ke arah jalan pulang semestinya.


Awan mengikuti kemana Raina sebenarnya.


Dia melajukan kecepatan sepeda motornya agar tidak kehilangan jejak Raina.


"Mau kemana sih, anak itu."


Raina sudah berbelok kearah restoran Y. Tempat dimana dia makan siang bersama Ridho tadi.


Dia memarkirkan sepeda motor nya dan masuk ke dalam restoran.


"Hmmm, mau ngapain dia ke restoran ini? Apa dia mau bertemu sama seseorang?" gumam Awan yang masih memperhatikan Raina dari jarak jauh.


Tak lama kemudian, mobil Ridho memasuki area parkir restoran. Dia turun dari mobil dengan gagah nya.


Dia memasuki restoran dan menuju meja yang disana sudah ada Raina menunggu nya.


Mata Awan terbelalak saat melihat siapa yang datang dan duduk bersama Raina.


"Mas Ridho! Apa selama ini Raina bertemu dengan Mas Ridho?"


**Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen nya ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Terimakasih๐Ÿ™๐Ÿ™**


__ADS_2