
Raina sudah siap dengan segalanya, Al sudah berada didalam gendongannya. Sementara tangannya kanannya sudah menjinjing tas perlengkapan bayi yang sudah dia isi dengan pakaiannya dan juga pakaian Al.
Raina keluar dari kamar dan terus berjalan keluar, hingga melewati Satria yang masih duduk diam diruang tamu.
Satria yang melihat Raina membawa tas yang berisi penuh itu, langsung berdiri dari duduknya dan menghentikan langkah Raina.
"Kamu mau kemana, Dek? Ini sudah malam? Mas, minta maaf sama kamu. Kalau Mas sudah keterlaluan sama kamu." ucap Satria.
"Mas, minggir aku mau lewat." ketus Raina.
"Jangan pergi, Dek. Mas mohon." ucap Satria.
"Untuk apa Mas aku terus berada disini? Aku manusia terbodoh yang membiarkan diriku terus terluka dan tersakiti bila aku harus tetap ada disini. Tolong Mas, lebih baik bebaskan aku dari rasa sakit ini." ucap Raina tanpa memandang wajah Satria.
"Mas gak akan biarkan kamu pergi." hadang Satria.
"Mas aku sudah capek, buat apa aku bertahan dengan orang yang sama sekali tidak mencintai diriku. Raga mu berada disini, tapi hati mu masih tidak tahu berada dimana. Lebih baik kamu kembali dengan dia, Mas. Mungkin itu lebih baik." Raina menyeka air matanya yang kembali menetes.
Satria benar-benar frustrasi, mendengar ucapan Raina bagaikan busur panah yang tepat menusuk tembus ke hatinya membuatnya terdiam dan tak mampu berkata-kata.
Air matanya mulai menganak tak kuasa ia bendung lagi. Satria turut menangis dan tetap berdiri didepan Raina untuk menghalangi perempuannya itu pergi.
Tet ... Tet ... Tet ...
Suara klakson sepeda motor mengejutkan mereka berdua.
"Permisi, Mas. Aku harus pergi sekarang, itu ojek online pesananku sudah datang." ketus Raina menggeser tubuh Satria agar memberinya jalan.
"Dek ... tolong jangan pergi, Dek." pinta Satria.
Raina tetap berjalan menuju pintu untuk membukanya. Saat tangannya sudah meraih hendel pintu, Raina berhenti dan menoleh ke arah Satria.
"Biarkan aku menenangkan diriku, Mas." ucap Raina sembari menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggantung dikelopak matanya.
Raina berjalan terus keluar dan mulai menaiki sepeda motor ojek online yang sedari tadi menunggunya.
"Bang, jangan jalan dulu." ucap Satria yang mencoba kembali menahan Raina.
"Jangan dihiraukan, Bang. Ayo, tetap jalan." ucap Raina.
"Baik, Mbak." Sang Driver pun tetap melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah sewaan yang baru sebulan Raina tempati.
Rumah yang awalnya menjadi harapan Raina untuk merubah hubungannya dengan Satria akan lebih baik, ternyata malah membawa dirinya mengeluarkan segala kemarahan yang terpendam dihati, yang membuat dirinya bisa berani mengambil keputusan untuk meninggalkan Satria, orang yang telah menjadi suaminya sebelas bulan yang lalu. Meski gelar suami itu hanya sebagai status.
"Kenapa aku harus mencintai dirimu? Orang yang jelas-jelas tak pernah menerima diriku dihatinya. Orang yang hanya mampu memberi harapan tanpa kepastian yang tepat. Dan bodohnya aku yang selalu menuruti dan luluh karena kata-kata manismu. Hahaha, cinta memang membuatku bodoh."
Raina menangis mengingat semua angan-angan yang dimilikinya dan tersenyum getir saat mengingat Satria yang kembali menghempaskan harapannya.
"Mbak, ini kita mau kemana?" tanya Abang ojol tersebut.
Raina masih melamun dengan memeluk Al yang sudah tertidur dalam gendongannya.
"Mbak!" panggil Abang itu lagi dengan menepikan sepeda motornya dan menoleh ke arah penumpangnya.
Raina tersadar saat suara sang supir yang sedikit keras mengagetkan lamunannya.
"Eh, iya Bang. Kenapa?" tanya Raina.
"Mbaknya mau kemana?" Abang ojol kembali mengulang pertanyaannya.
Raina bingung untuk menjawab pertanyaan sang supir, dia tidak ingin pulang ke rumah ibunya. Raina tidak ingin membuat ibu dan saudaranya ikut kembali kepikiran dengan masalahnya dengan Satria yang tak kunjung ada titik terangnya.
__ADS_1
"Ye, si Mbak, ditanya malah balik melamun lagi." ucap Abang ojol.
"Oh, maaf Bang. Antar kan saya ke jalan kemuning." jawab Raina sembari tersenyum
"Gitu dong, Mbak. Senyum itu ibadah, jangan melamun aja." canda Abang ojol.
"Maaf, Mas." balas Raina.
Sepeda motor mulai kembali melaju ke arah tujuan yang sudah disebutkan oleh penumpangnya.
********
Dirumah sewaan nya, Satria baru tersadar jika Raina benar-benar keluar dari rumah dan meninggalkannya.
"Raina akan pergi kemana dia? Aku harus tahu kemana tujuannya." gumam Satria.
Satria segera meraih kunci sepeda motornya dan tak lupa mengunci rumahnya sebelum pergi.
"Bismillah, semoga masih keburu nemuin mereka." gumam Satria sembari mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi mengejar Raina.
Tak lama, Satria melihat sepeda motor ojek online yang di tumpangi Raina baru saja berjalan.
"Apa itu benar Raina?" gumamnya.
Namun sayang, pandangannya terhalang oleh dua mobil box besar yang berjalan didepannya sehingga kembali kehilangan jejak ojek online yang membawa Raina.
Satria mencoba menyelip, tapi kedua mobil didepannya seakan tak memberinya celah untuk menyelip.
Setelah kedua mobil itu beralih ke jalur yang lain, Satria benar-benar sudah tidak melihat keberadaan Raina.
Satria menepikan sepeda motornya dan berhenti ditepi jalan. Satria terlihat begitu frustrasi karena kehilangan jejak Raina.
"Arrghhh! Kemana kamu pergi Raina?" Satria memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan juga menjambak rambutnya sendiri.
********
Sepeda motor ojek itu pun berhenti tepat didepan sebuah rumah yang menjadi tujuan penumpangnya.
Raina pun segera turun dari sepeda motor itu dan tak lupa membayar ongkosnya.
"Meskipun saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Mbak dan juga suami, sepertinya itu masalah yang berat. Saya cuma mau mendoakan, semoga masalah yang Mbak hadapi cepat terselesaikan dengan baik." ucap Abang ojol itu sembari menerima uang dari Raina.
"Amin. Terimakasih." balas Raina dan sedikit menyunggingkan senyumnya.
Sepeda motor yang mengantarkannya pun pergi meninggalkan dirinya yang kini masih berdiri dihadapan rumah yang selalu menerimanya dengan pintu yang terbuka lebar untuknya dari dirinya masih sekolah dulu.
"Bismillah ...." ucap Raina memantapkan langkahnya untuk mendekat ke rumah itu.
Raina sudah sampai didepan pintu rumah itu dan menekan bel yang berada disamping pintu.
Tak lama kemudian, dari dalam rumah terdengar suara seseorang yang memintanya untuk menunggu sebentar.
Kunci pintu rumah terdengar dibuka, tak lama tampaklah wanita paruh baya yang mengenakan jilbab itu keluar dan menyambut Raina.
"Assalamualaikum, Bun." ucap Raina dan mencium tangan wanita itu yang tak lain adalah Bunda Eva.
"Walaikumsalam, sayang. Aduh, cucu Uti kenapa datang kesininya malam begini? Mana ayahmu?" Bunda Eva mencari keberadaan Satria yang tak ia temui.
"Ehm ... maaf Bun, apa Raina bisa masuk dulu ke dalam?" tanya Raina dengan suara pelan yang hampir saja tak terdengar.
Bunda Eva menatap lekat wajah Raina dan juga melirik tas yang dibawa Raina.
__ADS_1
"Iya, sayang. Ayo, masuk." jawab Bunda Eva.
Bunda Eva pun langsung mengajak Raina ke kamar tidur yang kosong dilantai atas yang bersebelahan dengan kamar tidur Sandra. Karena merasa kasihan dengan Al yang sudah tertidur didalam gendongan Raina, yang dia tidak tahu sudah berapa lama Raina membawa anaknya itu keluar kena angin malam tanpa mengenakan kaus kaki dan juga jaket.
Raina hanya menutupi Al dengan selimut bayi yang langsung diambil Raina begitu saja saat dia akan keluar dari rumah.
Bunda Eva mengetuk pintu kamar Sandra agar anaknya itu tahu jika ada sahabat sekaligus kakak iparnya diluar.
Bunda Eva membukakan kamar tidur yang berada disebelah kamar Sandra untuk Raina. Setelah mendengar ada yang membuka pintu kamar yang berada disebelah kamarnya, barulah Sandra keluar dari kamarnya.
Dan melihat siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya dan juga yang sudah masuk ke dalam kamar disebelahnya.
Sandra melihat ada Raina didalam kamar itu yang sedang meletakkan Al diatas kasur dan juga ada bundanya yang sudah duduk dipinggir kasur. Namun dirinya tidak mendapati kakak sepupunya itu ada dikamar bersama dengan Raina.
Sandra menengok ke lantai bawah, namun juga tidak ada tanda-tanda ada seseorang yang berada dibawah sana. Dan akhirnya dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar yang ditempati Raina.
"Raina ...." panggil Sandra dan memeluk sahabatnya itu.
Raina pun membalas pelukan sahabatnya itu.
"Rai, mana Mas Satria? Kok, aku gak ada lihat dia." tanya Sandra yang membuka pembicaraan.
Raina pun duduk disofa yang berhadapan dengan kasur dengan kepala yang tertunduk.
Sandra menoleh ke arah bundanya untuk meminta penjelasan. Namun, sang bunda hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya menandakan jika dirinya juga tidak tahu.
"Raina sudah gak kuat, Bun." ucap Raina dengan kepala yang masih tertunduk dan tubuh yang bergetar karena kembali menangis.
"Gak kuat kenapa, sayang?" tanya Bunda Eva yang mulai memindahkan posisi duduknya ke samping kiri Raina.
Begitu pula dengan Sandra yang ikut duduk disamping kanan Raina dan mengelus punggung serta menggenggam tangan Raina.
"Raina mau nyerah aja, Bun." Tangis Raina semakin pecah.
Bunda Eva pun memeluk erat tubuh Raina yang terguncang hebat.
"Menangislah sampai kamu benar-benar merasa lega dan mampu untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan dirimu pada kami." ucap Bunda Eva dengan tenang.
"Pasti ini karena Mas Satria." geram Sandra.
Bunda Eva meletakkan jari telunjuknya dibibirnya memberi kode pada anak perempuannya itu untuk tidak berbicara dulu.
Sandra yang akan kembali mengumpat kakak sepupunya itu langsung mengunci mulutnya rapat-rapat dan mencoba ikut menenangkan sahabatnya.
"Jangan nangis terus, beb. Kamu gak kasihan sama Al ... tuh, lihat! Anak kamu yang ganteng itu makin terlihat cakep ya, kalau tidur seperti itu." hibur Sandra sembari menunjuk Al yang tertidur.
Raina menghentikan tangisnya, dengan masih terisak-isak, dia menoleh dan memandangi wajah polos Al yang menggemaskan.
Raina melepas pelukannya pada bunda Eva, beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah kasur serta menciumi wajah anaknya.
"Jangan nangis lagi, sayang. Kalau kamu menangis didekat Al, Al juga akan merasakan kesedihanmu. Sebaiknya kamu istirahat juga. Bunda akan menunggu penjelasanmu besok pagi." ucap Bunda Eva sembari mengajak Sandra untuk keluar dari kamar agar Raina bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Raina memandangi wajah Al yang begitu mirip dengan ayah biologisnya, Raina tersenyum dan kembali menghujani pipi Al dengan ciuman kasih sayang. Karena kelelahan menangis, Raina pun akhirnya tertidur dengan memeluk tubuh montok Al.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π