Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Anniversary Resto


__ADS_3

Hari-hari berlalu, hari yang ditunggu para karyawan resto pun tiba. Ya, hari ini adalah hari perayaan anniversary resto. Hari dimana mereka bebas dari tugasnya masing-masing dan turut andil dalam memeriahkan acara.


Halaman samping resto hingga halaman depan resto disulap begitu indahnya menjadi tempat pesta yang begitu megah. Banyak teman-teman dari bunda Eva yang juga turut hadir, tak ketinggalan pula dengan Ridho yang juga hadir memperhatikan jalan kerja acara yang telah disusun rapi oleh tim EO.


Awal acara dibuka dengan pembacaan doa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh pemilik resto yang tak lain adalah bunda Eva. Dilanjutkan dengan berbagai hiburan.


Semua tamu undangan dan para karyawan resto sangat menikmati jalannya acara. Begitu pula dengan Raina yang sangat senang karena semua berjalan dengan sesuai harapan.


Sandra sebagai anak dari pemilik resto juga turut hadir dengan beberapa teman kuliah nya yang dia undang.


Sandra berjalan menghampiri Raina yang berdiri didepan stand makanan.


"Hai, Rai ... aku cariin dari tadi, ternyata disini kamu rupanya." sapa Sandra.


"Eh, San. Iya, nih, tadi aku haus. Niatnya cuma mau ambil minum kesini, eh ... mata aku gak tahan lihat cemilan-cemilan segar ini." ucap Raina sembari menunjukkan piring kecil yang sudah terisi dengan beberapa potongan buah diatas nya.


"Ah, alasan kamu aja kali. Sebenarnya kamu laper, kan." goda Sandra.


Mereka berdua saling pandang dan akhirnya tertawa pecah.


Ridho yang melihat keseruan kedua sahabat itu pun, akhirnya datang menghampiri dan ikut berkumpul dengan keduanya.


"Hai ... kalian berdua lagi ngomingin apa, sih? Sepertinya seru banget. Boleh gabung, donk." ucapnya.

__ADS_1


"Boleh kok, Mas." jawab Sandra.


Sementara, Raina yang melihat kedatangan Ridho berniat untuk segera menghindar dari orang yang menyebalkan itu.


Namun, niatnya tersebut digagalkan oleh Ridho yang sudah mencegah nya terlebih dahulu.


"Mau kemana, disini aja. Sebentar lagi kan acara puncak nya." ucap Ridho.


"Iya, Rai ... disini aja. Suka banget sih, kamu pergi-pergi." Sandra pun ikut menimpali ucapan Ridho agar Raina tidak jadi pergi.


Dan akhirnya, dirinya pun tetap bertahan bersama kedua orang yang telah menahan nya.


Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pengumuman yang berhasil mendapat kan give away dan pembagian hadiah yang telah memenangkan game sederhana yang sudah dibuat.


Dan acara pun ditutup dengan penampilan band lokal yang cukup hits dikalangan anak-anak muda. Semua mengikuti alunan lagu yang dibawakan. Begitu pula dengan ketiga orang yang berada dibelakang, yaitu Sandra, Raina dan Ridho. Mereka bernyanyi mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh vokalis band.


"Tahu donk ... kan, aku masih muda." tukas Ridho dengan senyum manisnya.


"Muda darimana nya? Sama kita berdua aja jelas jauh beda. Dari muka aja sudah terlihat keriputnya." ejek Raina sembari tertawa.


"Wah, wah, kamu mengejek ku, ya?" Ridho tak terima dengan ejekan Raina dan menjewer telinga Raina, layaknya menjewer anak kecil yang nakal.


Sandra yang melihat adegan itu, menjadi tertawa lepas.

__ADS_1


Ternyata Awan memperhatikan tingkah ketiga orang yang sangat akrab itu dari jauh.


Acara pun berakhir dengan berjalan lancar. Semua para tamu undangan dan sebagian para karyawan resto juga berangsur meninggalkan tempat acara.


Tidak dengan Raina, dirinya sibuk ikut membantu membersihkan tempat acara bersama tim cleaning servis yang sudah disediakan oleh pihak EO. Meskipun sudah dilarang, dirinya tetap kekeh ikut membantu.


Setelah merapikan beberapa bagian tempat, dirinya berhenti sejenak dan duduk dikursi pojokan sembari beristirahat dan melihat beberapa cleaning servis yang masih sibuk merapikan tempat acara.


Awan menghampiri Raina yang duduk sendiri.


"Silahkan diminum, lelah banget sepertinya." ucap Awan sembari menyodorkan segelas minuman kepada Raina.


"Terimakasih." Raina menerima minuman itu dan langsung menghabiskan nya.


Awan tersenyum senang memperhatikan setiap tegukan minuman yang dihabiskan oleh Raina.


Namun, beberapa menit kemudian Raina merasa kan berat dikepalanya.


"Kenapa, Rai?" tanya Awan berpura-pura khawatir.


"Gak tau, nih. Kepala ku pusing banget. Aku bisa minta tolong gak, untuk ambilin tas aku masih dikantor." jawab Raina sembari memegang kepalanya yang semakin terasa sakit.


Namun, perlahan-lahan penglihatan Raina kabur dan gelap. Hingga akhirnya dia terjatuh dipelukan Awan.

__ADS_1


Awan dengan sigap menyambut tubuh Raina.


Bersambung


__ADS_2