
Mobil Sandra melesat dengan kecepatan normal menembus kemacetan jalan. Banyak sekali pengendara lalu lalang merayap perlahan untuk dapat menembus padat nya jalanan.
Hiruk pikuk kota yang penuh dengan para pekerja yang baru saja meninggalkan pekerjaannya, membawa sejuta lelah yang ingin segera sampai dirumah masing-masing agar dapat beristirahat dan berkumpul lagi dengan keluarga mereka dirumah.
Akhirnya, mobil dapat menembus padat nya jalan, melaju dengan cepat dan tiba lah memasuki gerbang perumahan kampung yang dipadati masyarakat ekonomi menengah kebawah.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang asri. Ya, inilah rumah ku, tempat berlindung yang menyimpan sejuta kenangan didalam nya.
"Mampir dulu yuk, San." ajakku sembari keluar dari mobil.
"Next time deh, Rai. Mau langsung balik aja badanku sudah gerah banget, nih." ucap Sandra.
"Ehm, ok deh. Terimakasih ya, San." ucapku sembari tersenyum.
"Iya, sama-sama. Sudah, masuk sana." balas nya.
"Iya, iya, kamu hati-hati, ya." ucapku terakhir kali nya sebelum Sandra meninggalkan rumahku.
Aku berjalan memasuki rumah.
Rasanya lelah sekali akhir-akhir ini, lelah hati dan pikiran. Menguras perasaan dan emosi, semoga semua ada titik baiknya.
"Assalamualaikum ...."
"Walaikumsalam ... Kak Raina kelihatannya lelah sekali hari ini, lagi banyak kerjaan ya, Kak." ucap Raka yang sedang asik menonton diruang keluarga.
"Ya, begitu lah, Dek. Gimana sekolah mu?" Berhenti sejenak, menemui Raka.
"Alhamdulilah, lancar, Kak." ucapnya.
"Bagus deh, sekolah yang betul, jangan main-main." ucapku pada Raka.
__ADS_1
"Siap, Kak. Raka gak akan ngecewain kakak-kakak ku tersayang." balasnya meyakinkan.
"Kakak ke kamar dulu ya, Dek." ucapku meninggalkan Raka yang masih asik dengan tontonan nya.
Ku hempaskan badanku dikasur, beristirahat sejenak. Ku tatap langit-langit kamarku, berfikir dan mengingat kembali semua ucapan Sandra mengenai ibu.
Aku harus menyampaikan semua nya ke kak Aldo dan Raka. Pasti mereka juga merindukan ibu.
Sebuah senyuman terukir di bibirku, membayangkan jika ibu benar-benar berubah dan akan kembali lagi dengan kami semua anak-anaknya.
******
Malam ini, kak Aldo dan Raka tidak ada kegiatan di luar rumah. Jadi, kami bertiga bisa melakukan sholat berjamaah, makan malam dan tentunya dapat berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Kak Aldo, Raka, berhubung kita bertiga semua bisa berkumpul disini, ada yang mau Raina bicarakan ke kalian." Aku memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kamu mau bicara apa, Rai? Kelihatannya serius sekali."ucap Kak Aldo antusias ingin mendengarkan kelanjutan nya.
"Betul, kamu mau kado apa dari Kakak?" ucap Kak Aldo menimpali perkataan Raka.
Aku sendiri sampai lupa, jika besok hari ulang tahunku.
"Ehm, Raina bukan mau bahas masalah ulang tahun, ini lebih penting dari itu." ucapku menegaskan.
"Apa yang lebih penting?" tanya Raka sembari mengernyitkan alis nya.
Sementara Kak Aldo memandang ku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ini tentang ibu." ucapku ragu.
"Ibu" Mereka berdua menjawab bersamaan dan saling pandang.
__ADS_1
"Iya, ini tentang ibu. Raina sudah ketemu ibu dua kali." ucapku sembari memperhatikan ekspresi dua orang yang ada di depanku.
"Kamu sudah ketemu sama ibu dua kali, tapi kenapa kamu baru bicara sekarang?" tanya Kak Aldo mulai sedikit dengan emosi.
"Iya, pertama, Raina melihat ibu di plaza waktu Raina membeli handphone tapi saat itu ibu hanya melihat Raina sekilas dan terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan Raina. Dan kedua, Raina bertemu ibu secara langsung hari ini di resto." ucapku.
"Jadi, kamu sudah bertemu langsung dengan wanita itu. Apa dia masih mengenali mu sebagai anaknya?" ucap Kak Aldo dengan emosi yang mulai bertambah.
"Iya, ibu masih mengenal Raina." ucapku.
Aku menjelaskan semua yang sudah terjadi hari ini dan menyampaikan semua yang sudah Ibu bicarakan ke Sandra. Kak Aldo mendengarkan nya dengan seksama meski sempat terlihat ada amarah yang muncul dimata nya, namun amarah itu perlahan hilang setelah mendengar semua penjelasan dari ku
Sementara Raka, sepertinya dia yang belum bisa menerima semuanya. Sangat jelas masih tergambar kebencian dimata nya. Dimana dia lah anak yang sangat kehilangan sosok ibu, kurangnya perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu saat itu.
Kak Aldo mencoba untuk memberi penjelasan ekstra ke Raka agar dia mau mengerti dan menerima kenyataan yang ada.
"Sampai kapan pun, aku gak mau bertemu dengan orang itu. Yang aku tahu dihidup ku cuma ada dua orang kakak dan seorang bapak yang sudah membesarkan ku dengan kasih sayang." ucap Raka penuh amarah.
"Tapi, Dek, bagaimana pun dia ibumu yang sudah mengandung dan melahirkan mu." ucapku sembari menyentuh bahunya dengan lembut.
"Kalau Raka boleh minta sama Tuhan, Raka gak mau lahir dari rahim seorang ibu seperti dia." ucap Raka membangkitkan kembali emosi Kak Aldo.
"Jaga ucapan mu Raka. Bapak gak pernah ngelajarin kita semua jadi anak yang pendendam." tegas Kak Aldo.
Penuh perdebatan dan adu mulut antara Kak Aldo dan Raka. Hingga akhirnya, Raka luluh. Dan kesepakatan malam ini, kita bertiga mau menerima ibu kembali dengan hati tulus ikhlas.
Bersambung
Terimakasih untuk kalian para readers yang mau mampir di cerita ini.
Semoga kalian selalu suka. Mohon untuk like, komen dan vote nya karena itu semua sangat saya butuhkan dan sangat mendukung saya πππ
__ADS_1