Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Acara Syukuran


__ADS_3

"Lho, Mbak Raina ngapain? Mbak istirahat saja sana, gak usah ikut repot-repot didapur." ucap Bi Darsih yang baru menyadari kehadiran Raina.


"Gak apa-apa, Bi ... Raina bosen dikamar mulu. Toh, ini juga bukan pekerjaan yang berat." ujar Raina.


"Gimana hasil pemeriksaannya, Mbak? Tadi sewaktu bibi datang rumah sepi sekali. Kata ibu, Mbak sama mas Satria pergi ke dokter kandungan." tanya Bi Darsih.


"Oh, berarti kalian baru saja pulang dari periksa kandungan?" Bunda Eva pun ikut bertanya pada Raina.


"Iya, Bun. Alhamdulilah semua normal dan keadaan si kecil juga sehat-sehat aja. Dan insya Allah, jika Allah menghendaki, jenis kelaminnya laki-laki." jawab Raina sembari tersenyum.


"Alhamdulilah ..." ucap Bunda Eva dan Bi Darsih bersamaan.


"Wah ... kalau memang nanti yang lahir laki-laki, ini adalah cucu laki-laki pertama dikeluarga Sanjaya. Kedua cucu pertama mas Suseno semuanya perempuan. Pasti akan menjadi rebutan nih, anakmu ... Rai." ujar Bunda Eva.


"Alhamdulilah, jika nanti banyak yang menyayanginya." sahut Raina.


Semua mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Raina. Dan kembali sibuk membantu Bi Darsih memasak.


Setelah pekerjaan didapur rampung, Raina meninggalkan dapur dan berniat untuk mengistirahatkan badannya yang pegal karena terlalu lama duduk.


Baru saja hendak membuka pintu kamarnya, ada sebuah mobil memasuki halaman rumah. Ternyata ayah Ridwan yang datang bersama dengan Sandra. Raina pun menyambut kedatangan keduanya didepan.


"Wah ... perutmu semakin besar aja, Rai. Kamu juga semakin terlihat cantik dan dewasa." puji Sandra sembari mengelus perut Raina.


"Sudah, geli tahu!" ucap Raina sembari memukul pelan tangan sahabatnya itu yang tak berhenti mengelus-elus perutnya.


"Memang bawaan ibu hamil seperti itu, San." sahut Ayah Ridwan menimpali.


Raina tersenyum lalu mencium tangan ayah Ridwan penuh takzim.


"Mana, bunda?" tanya Ayah Ridwan yang melangkah masuk.


"Bunda ada didapur, Yah." jawab Raina.


Tak lama kemudian, Satria keluar dari kamarnya dan menyambut kedatangan omnya itu.


"Kamu pasti baru bangun tidur." tebak Ayah Ridwan pada Satria.

__ADS_1


"He, Om tahu aja." balas Satria sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Keduanya pun mengobrol diruang keluarga, entah apa yang dibicarakan, tentunya itu pembahasan antar lelaki.


Sementara Raina mengajak Sandra ke kamarnya. Keduanya juga menghabiskan waktunya untuk saling bercerita.


"Jadi, kamu dan Mas Satria tidurnya pisah?" tanya Sandra.


"Iya, San. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dan menambah dosa, lebih baik seperti ini dulu." jawab Raina.


"Bagaimana perasaanmu ke mas Satria?" tanya Sandra lagi yang mulai ingin mengetahuinya.


"Entahlah, aku masih bingung. Aku belum memikirkannya. Yang terpenting saat ini, aku hanya ingin fokus menjalani kehamilanku dan kelahirannya nanti. Seperti yang sudah pernah aku bilang ke kamu, aku serahkan semua pada yang Kuasa." jawab Raina.


"Aku akan dukung apa pun itu yang terbaik untukmu, Rai." ucap Sandra.


"Terimakasih, kamu memang sahabat yang paling is the best." puji Raina sembari tersenyum pada sahabatnya itu.


"Ehm, Rai ... apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Sandra hati-hati.


"Kamu mau nanya apa sih? Tanya aja lagi." sahut Raina.


Raina tertunduk, lalu dia kembali menegakkan kepalanya sembari menghembuskan nafasnya kasar.


"Sebenarnya, aku sudah diterima dialah satu perguruan tinggi negeri yang aku mau seminggu sebelum acara pernikahan ku." jawab Raina sembari memperlihatkan email dari universitas yang ia daftar pada Sandra.


"Kenapa gak kamu respon aja. Kan, gak apa-apa kamu tetap kuliah meskipun sudah menyandang status menikah." ujar Sandra.


"Aku sudah mengubur semua harapan itu, San. Aku hanya ingin fokus mengurus dan merawatnya sendiri. Aku tidak mau melewatkan waktu tumbuh kembang anakku nantinya. Dan aku tidak ingin dirinya merasakan kurangnya kasih sayang dari ibunya." ucap Raina tertunduk sembari mengelus lembut perutnya.


" Yang sabar ya, Rai. Aku tahu meskipun mas Satria akan mengizinkan dirimu untuk tetap melanjutkan kuliah, tapi pasti kamu tidak mau melakukan itu." balas Sandra sembari memeluk sahabatnya itu.


" Aku gak mau jadi ibu yang egois, mementingkan keinginan sendiri tapi anak tidak terurus. Aku gak mau menjadi ibu yang seperti itu. Aku akan mendedikasikan diriku sebagai ibu yang baik untuk anak ku dan menjadi seorang istri yang soleha untuk suamiku kelak." ucap Raina.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang mendengar semua pembicaraannya dengan Sandra dibalik pintu kamarnya.


"Kamu benar-benar perempuan yang tidak pantas untuk disia-siakan. Kamu sudah sangat rela mengubur semua cita-citamu untuk menjadi seorang ibu yang baik." batin Satria.

__ADS_1


Sebenarnya Satria ingin keluar rumah untuk mengecek sepeda motornya yang sudah seminggu tidak ia gunakan. Tapi ketika dia melintas didepan kamar Raina, tak sengaja dia mendengar semua obrolan kedua orang yang berada didalamnya.


"Ah, aku mau mandi dulu lah. Sudah sore, nih." ucap Raina beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Sandra masih tetap setia menunggu sahabatnya itu diatas kasur.


Diruang tamu, semua orang sibuk mempersiapkan ruangan itu untuk dijadikan tempat syukuran nanti malam. Ruang tamu dibersihkan dan digelar ambal besar.


Catering dari resto bunda Eva juga sudah datang membawa berbox-box makanan yang akan dibagikan kepada anak yatim piatu yang diundang dan untuk dibagikan kepada tetangga sekitar rumah Satria. Pakde Suseno beserta istri dan anaknya juga sudah hadir.


Malam pun tiba, setelah melakukan solat isya bersama. Acara syukuran pun dimulai dengan khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-quran dan doa-doa yang dilantunkan oleh seorang ustad.


Acara pun berlangsung dengan lancar. Para tamu undangan juga berangsur-angsur sudah mulai meninggalkan rumah Satria. Pembagian berkat untuk tetangga sekitar pun sudah dilakukan. Setelah semua dirasa beres, semua keluarga pun berkumpul diruang keluarga tak ketinggalan Raina juga ikut berbaur bersama dengan keluarga Satria.


"Sat, Pakde sudah mengurus semua persiapan untuk keberangkatan kita besok. Pakde sudah memesan tiketnya, keberangkatan jam tujuh pagi, jadi kita bertemu saja dibandara." ucap Pakde Suseno pada Satria.


"Iya,Pakde. Siap." jawab Satria dengan tegas.


"Kamu jangan telat bangunnya, nanti kesiangan ketinggalan pesawat kita." ujar Pakde Suseno lagi.


Satria hanya tertawa mendengar ucapan pakdenya. Semua memang mengetahui jika Satria susah sekali untuk bangun pagi.


Sementara Raina hanya diam saja, karena dia sudah mengetahui jika Satria akan pergi besok.


Malam semakin larut, cukup banyak hal yang dibicarakan oleh keluarga Satria. Dan akhirnya, satu persatu mereka pamit undur diri meninggalkan rumah Satria.


Raina pun beranjak ke kamarnya, dirinya sudah merasa lelah dan gerah karena gamis yang dipakainya. Ia ingin segera menggantinya dengan piyama dan ingin langsung tidur dikasur empuknya.


Baru saja Raina ingin menutup pintu kamarnya, Satria dengan cepat menahannya.


"Rai, besok pagi tolong bangunkan aku, ya." pinta Satria.


"Oh, iya Mas." jawab Raina cepat.


"Ok. Selamat malam dan selamat tidur." ucap Satria.


"Iya, Mas juga." balas Raina dan langsung menutup pintu Kamarnya dengan cepat.


Dengan cepat Raina mengganti bajunya dan langsung naik ke atas kasur. Dirinya merasa sangat begitu lelah hari ini. Baru beberapa menit kepalanya menyentuh bantal, dia pun langsung hanyut dibawa mimpi.

__ADS_1


Mohon like, komen, vote dan sertakan rate pada karya author ini 😁


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2