
Diruangan yang hanya berukuran 3 x 3, berlantaikan semen yang dingin hanya ada sebuah tikar tipis yang menjadi alasnya, di sinilah dibalik jeruji besi ini, Awan berada. Sudah sekitar tiga bulan dia mendekam dibalik dinginnya tembok penjara bersama dengan para napi lainnya dengan kasus yang berbeda.
Awal kedatangannya disini, dia menjadi bulan-bulanan warga lapas karena tingkah slengekan nya yang terkadang membuat geram orang. Sehingga dia dikerjai habis-habisan oleh tahanan seniornya. Tapi, lama kelamaan dia sudah terbiasa dan mulai mendapatkan seorang teman didalam sana.
Hari ini, dia tidak pernah menyangka sebelumnya akan ada orang yang mengunjungi nya. Betapa senangnya saat dia melihat pakde dan kakaknya yang datang. Tapi, kesenangan itu hanya sementara. Setelah mendengar kabar yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Sang ibu ternyata terbaring sakit selama kepergiannya dan ditambah hal yang sangat mengejutkan baginya. Mendengar kabar jika gadis yang telah berhasil ia rampas kehormatannya itu, kini tengah mengandung anak dari hasil perbuatan kejinya. Dan bagaikan serangan busur panah yang melesat tepat dihatinya, sang kakak dengan rela menikahi gadis yang sebelumnya dia cintai itu untuk mempertanggungjawabkan hal yang tak pernah kakaknya lakukan. Semua karena kebodohannya.
Awan terduduk lemas, didalam ruang tahanan nya. Ucapan Satria terus berputar-putar dikepalanya.
"Jangan pernah menyentuh kehidupannya lagi setelah ini, karena aku yang akan membahagiakannya." Kalimat itu yang ditekankan Satria padanya.
"Arggghhh, bodoh ... bodoh ... bodoh ..." teriaknya frustrasi sembari membenturkan kepalanya pada tembok berkali-kali.
Teman-teman yang satu tahanan dengannya menghentikan aksi gilanya yang menyakiti dirinya sendiri.
"Kamu gila, ya! Kamu mau mati! Hentikan, bodoh!" ucap mereka mengumpat Awan yang bertingkah bodoh sembari menarik tubuh Awan agar menjauh dari tembok.
Awan merosot kelantai, menangisi semua penyesalan.
__ADS_1
"Seandainya, aku tidak gegabah dengan merusaknya, mungkin ini semua tak akan pernah terjadi. Gadis yang aku inginkan, kini menjadi istri kakakku sendiri." gumamnya dan bulir bening sudah berhasil menerobos keluar dari sudut matanya.
"Yang terjadi biarlah terjadi, emang penyesalan itu datangnya belakangan. Tapi, kamu gak boleh larut dalam penyesalanmu. Kita disini diberi hukuman untuk memperbaiki dan bangkit menjadi pribadi yang lebih baik. Tanam kan dihatimu, jika kamu akan berubah menjadi lebih baik. Jangan terus menanamkan benci dan dendam, karena itu akan semakin memperburuk kepribadianmu." ucap salah seorang teman Awan menasihati.
" Semangat, bro ...!" ucap yang lain lagi.
Awan merasa bersemangat lagi, setelah mendapatkan dukungan dari teman-temannya.
"Mungkin ini teguran Tuhan untukku, Raina pantas untuk bahagia bersama orang yang baik seperti mas Satria." batin Awan mencoba merelakan semua yang sudah terjadi.
***********
Satria sudah tidak sabar untuk sampai dirumahnya. Kondisi jalan yang tidak begitu ramai sehingga membuat Satria dapat melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Satria meliuk-liuk diatas jalan, melewati setiap kendaraan yang ada didepannya. Hanya butuh waktu tiga puluh menit dan akhirnya dia sampai didepan rumahnya.
Satria memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi dan kemudian memencet bel rumahnya. Raina yang baru saja akan terlelap tidur, kini terbangun lagi setelah mendengar ada seseorang yang memencet bel diluar.
Raina segera bangun dan melihat siapa yang berada diluar.
"Mas Satria ...." ucapnya lirih sembari membukakan pintu untuk Satria.
__ADS_1
"Assalamualaikum ... kamu belum tidur, Dek." sapa Satria sembari mengelus kepala Raina dan berjalan masuk.
"Walaikumsalam ... sebenarnya Raina sudah mau tidur tadi, tapi dengar bel rumah bunyi jadi Raina bangun lagi." ujar Raina sembari mengikuti langkah suaminya dan duduk disamping Satria.
"Maaf ya, sudah mengganggu tidurmu. Apa mamah dan Bara sudah tidur?" tanya Satria sembari menyandarkan kepalanya disandaran sofa.
"Mamah sudah tidur dari tadi, Mas. Kalau Bara ... ehm, anak itu belum pulang sepertinya, Mas. Tadi dia ijin sama Raina jika dia ada kerja kelompok dirumah temannya." jawab Raina.
"Ehm, biar nanti mas yang hubungi dia. Ini ada oleh-oleh untukmu dan juga keluargamu." ucap Satria sembari menyodorkan satu paper bag besar pada Raina.
"Terimakasih, Mas. Apa Mas Satria mau makan? Pasti Mas belum makan malam, kan?" tanya Raina.
"Iya, siapkan aja. Mas mau membersihkan badan dulu." ucap Satria sembari beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Raina segera ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk Satria. Setelah membawa barang-barang pemberian Satria dan meletakkannya didalam kamarnya.
Sementara Satria masih duduk dipinggir kasurnya menatap kotak kecil yang berisi kalung yang ia belikan untuk Raina.
"Aku akan memberikannya pada saat yang tepat." gumam Satria sembari tersenyum dan kemudian beranjak ke kamar mandi.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate kalian ya π
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author π