
Ditengah keheningan, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat kearah meja Raina dan Satria.
"Hai ... bro! Kebetulan sekali kita bertemu disini." ucap lelaki itu pada Satria sembari bersalaman ala cowok-cowok cool.
"Hai ... Iya, pas banget ya." jawab Satria sembari membalas pelukan hangat dari lelaki itu.
Kemudian tatapan lelaki itu beralih kepada Raina dan kembali menatap ke arah Satria meminta penjelasan.
"Dia ... gadis yang kamu ceritakan itu?" tanya lelaki itu sembari melirik kearah Raina.
"Iya." jawab Satria santai.
"Berarti ... adik kamu itu Awan?" tanya lelaki itu lagi.
"Iya. Bagaimana kamu bisa tahu?" Satria kembali bertanya dan mulai tertarik dengan lelaki yang berdiri disampingnya.
Lelaki itu pun menduduki kursi yang berada disebelah Satria. Sama halnya dengan Satria, Raina pun tampak penasaran dengan orang yang baru saja menyapa Satria.
"Aku pernah melihatnya, waktu itu dalam keadaan pingsan dibawa sama Awan masuk ke dalam kamar kos nya. Aku juga ngekos disitu, beda dua kamar setelah kamar adikmu. Besoknya, aku juga lihat Nona ini keluar dari kamar kos nya Awan sambil menangis. Benarkan?" jelas lelaki itu dan bertanya kepada Raina.
" Iya." Raina kembali tertunduk setelah menjawab pertanyaan dari teman Satria.
__ADS_1
"Sudah ku duga saat itu Awan melakukan hal yang tidak baik dengan Nona ini. Aku sempat bertanya dengannya saat itu, jika ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu seperti apa? Dia hanya menjawab, biarkan saja. Aku tidak akan pernah bertanggung jawab setelah itu, siapa suruh dia gak mau sama aku." ucap lelaki itu memperagakan apa yang sudah pernah diucapkan Awan kepadanya.
Satria mengepalkan tangannya dan mengatupkan rahang nya mendengar penjelasan teman nya itu. Sedangkan Raina terlihat shock.
"Benar-benar lelaki berhati busuk kamu, Awan"
Air mata Raina telah mengalir bebas dikedua pipi nya.
"Apakah omongan mu dapatku percaya?" tanya Satria dengan sorot mata elangnya.
"Kapan aku pernah bohong sama kamu, Sat? Disitu gak cuma aku sendiri yang dengar ucapan Awan seperti itu, masih ada beberapa teman lainnya yang juga mendengarnya dan mereka masih tinggal dikos yang sama juga dengan ku." jawab lelaki itu penuh percaya diri dengan ucapannya.
Satria tahu betul sifat temannya itu, meski dari sekolah dulu orangnya slengekan tapi dia selalu berkata jujur pada Satria maupun teman lainnya, itu lah yang membuat Satria suka berteman dengannya. Dan menjadi tempat kedua nya selain Ridho jika dia butuh teman curhat.
Satria dan Raina saling pandang ketika lelaki itu pergi.
"Jangan pernah kamu keluarkan air matamu untuk dia lagi. Anggap dia sudah lenyap dari kehidupan mu. Aku janji akan buat kamu bahagia bersamaku." ucap Satria dengan tegas sembari menghapus sisa air mata Raina yang masih menempel.
***********
Matahari kembali menyinari seisi bumi, sinar nya yang menghangatkan menerpa wajah Raina yang masih terlelap. Perlahan-lahan Raina mengerjapkan kedua matanya, kehamilan yang akan memasuki bulan ke lima itu membuatnya semakin lelah tiap hari.
__ADS_1
Raina segera bangun dari tidurnya, setelah mengingat jika pagi itu Satria akan menjemput nya. Raina memutuskan untuk tidak bekerja selama beberapa waktu hingga pernikahannya berlangsung nanti dan untungnya bunda Eva sangat mengerti dengan kondisi Raina.
Setelah meminta ijin kepada bunda Eva, Raina segera menyiapkan sejumlah berkas yang diminta oleh Satria untuk melengkapi persyaratan menikah yang akan dibawa nya ke KUA. Dan setelah menyiapkan semuanya, barulah dirinya membersihkan diri dan bersiap sebelum Satria menjemput nya.
"Pagi, Bu." sapa Raina pada ibunya yang masih berada di meja makan.
"Hai, pagi juga sayang. Kemana aja semalam sama calon suami?" goda ibu Riska.
"Apa sih, Bu? Mas Satria hanya mengajak Raina makan malam." jawab Raina sembari mengambil sarapan nya.
"Apa yang dia bicarakan? Pasti dia membahas sesuatu, kan?" tanya Ibu Riska lagi.
"Hmmm, Raina disuruh berhenti bekerja sama mas Satria." jawab Raina.
"Terus kamu jawab apa?" jiwa kepo ibu Riska semakin meronta.
"Raina bilang, Raina akan mempertimbangkan nya dulu." jawab Raina sembari menyuapkan makanannya.
"Mungkin maksudnya dia itu, kalau kamu berhenti bekerja kan, kamu bisa lebih fokus dengan kehamilan mu, lebih dekat dengan mertuamu, apalagi sekarang kondisi nya lagi sakit. Semua terserah dari kamunya aja lagi seperti apa. Nasehat ibu sih, baiknya kamu menuruti kemauan suami kamu. Kamu tidak boleh membantahnya selagi itu diposisi yang benar." ucap Ibu Riska.
Raina terdiam mencerna semua ucapan sang ibu. Namun, dirinya masih merasa nyaman dengan pekerjaan nya yang membuatnya bimbang.
__ADS_1
Mohon like, komen dan vote ya kawan βΊοΈ
Dukungan kalian sangat berarti untuk menambah amunisi semangat author ππ