Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Terungkap


__ADS_3

Sandra sudah sampai diresto. Sesuai rencana, dia ingin bertanya dengan sahabatnya itu mengenai penyebab yang membuat kondisi sahabatnya itu tidak terlihat baik.


Setelah mengetuk pintu kantor, Sandra langsung masuk ke dalam ruangan kerja sahabatnya itu.


"Assalamualaikum ... hai, Rai? Apa kamu sibuk?" sapa Sandra.


"Walaikumsalam ... seperti yang kamu lihat." jawab Raina sembari tersenyum kepada Sandra dan kembali beralih ke komputer lagi.


Walaupun dirinya sedang tidak enak badan akibat morning sicknes yang dialaminya, tetapi Raina tetap berusaha bekerja memenuhi kewajibannya sebagai karyawan diresto itu.


"Bagaimana keadaan mu? Apa kamu masih suka merasakan pusing dan mual?" tanya Sandra.


"Aku baik-baik aja. Gak ada yang perlu dikhawatirkan dariku." jawab Raina.


Sandra melihat senyum yang dipaksakan oleh sahabatnya itu. Dia tahu jika sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik seperti yang diucapkan kan nya. Sandra melihat dari gelagat Raina yang sedang menyembunyikan sesuatu. Dan juga terlihat dari wajah sendu sahabatnya itu, jika dia menahan sesuatu yang berat.


"Kamu yakin?" tanya Sandra lagi dengan hati-hati.


Sekilas Raina menatap wajah Sandra dan kemudian mengalihkan pandangannya dilain arah. Dia merasa sudah tidak kuat untuk menahan nya sendiri. Tanpa dirasa air matanya menetes dengan sendirinya.


Sandra yang melihat tubuh sahabatnya itu bergetar dengan segera memeluknya dan menenangkan Raina.


"Menangis lah, jika itu membuatmu lega. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan mu. Dan aku harap kamu mau berbagi keluh kesahmu dengan ku." ucap Sandra.


"Ini berat, San. Dan sangat-sangat berat." jawab Raina dengan masih berderai air mata.


"Tenang kan lah dirimu. Baru cerita kepada ku. Ingat aku sahabatmu, aku akan bantu apa pun itu selama aku masih mampu. Jika masalah yang kamu hadapi sekarang sangat berat, berbagi lah dengan ku agar kita bisa mencari solusi untuk meringan kan nya." ucap Sandra menyemangati sahabatnya itu.


Raina membalikkan tubuhnya menghadap Sandra dan menggenggam erat kedua tangan sahabatnya itu. Raina menarik nafas nya dan menghembuskan nya secara perlahan.


Dia terdiam, entah dari mana ia akan menceritakan nya pada Sandra. Sekali lagi dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya menarik nafas dan menghembuskan nya. Raina mencoba menguatkan dirinya untuk dapat mengungkapkan rasa sesak yang tertahan dihati nya.


"San, aku ... a- a-ku ... hmmm, aku hamil, San." Keluar sudah kalimat yang menggantung dibibir nya sedari tadi.

__ADS_1


"Astagfirullah ...." Sandra terkejut dan menutup mulut nya dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut sahabatnya itu.


Raina kembali menangis, masih ada perasaan yang mengganjal karena belum semua nya ia ceritakan. Dan ini sudah pasti akan membuat sahabatnya lebih terpukul jika tahu siapa yang telah melakukannya hingga membuat dirinya mengandung.


Sandra menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Siapa yang sudah tega hancurin kamu kayak gini, Rai?" tanya Sandra dengan penuh emosi.


"Mas ... Awan ... San, sepupu kamu, dia yang sudah hancurin masa depan ku! Dia yang sudah merampas kehormatanku!" jawab Raina dengan setengah berteriak memberi tahukan kepada Sandra.


Seketika itu Sandra merosot turun ke lantai, seketika itu juga hatinya sakit saat tahu siapa orang yang telah menghancurkan masa depan sahabatnya. Kakak sepupu nya yang selalu dia banggakan, yang selalu peduli dengan saudara-saudaranya, yang menjaganya dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya.Ternyata, itu hanya kedok untuk menutup kebusukannya dari keluarga.


"Bagaimana bisa, Rai?" Sandra mencoba bertanya lagi dengan air mata yang mulai menetes.


"Kamu ingat waktu perayaan anniv resto? Saat itu...." Raina menceritakan semuanya dari awal dia menerima minuman dari Awan, hingga dia berada didalam kamar kos, saat dirinya terbangun sudah dalam keadaan tak berbusana dan Awan tertidur disamping nya.


Sandra yang mendengar semua penjelasan Raina ikut menangis. Bagaimana sahabatnya telah menjadi korban pelecehan seksual oleh sepupu nya sendiri.


"Kamu yang sabar, Rai. Aku tahu kamu pasti kuat hadapin ini. Aku pasti bantu kamu, bagaimana pun yang didalam perut mu adalah calon keponakan ku. Dan dia harus bertanggung jawab atas ini semua." ucap Sandra sembari memeluk Raina.


"Sudah kamu jangan nangis lagi. Kita hadapin ini sama-sama, ya." Sandra mencoba menguatkan sahabatnya itu.


Sekitar satu jam kemudian, dua orang yang telah dikabari Sandra pun sudah hadir diruangan itu. Raina hanya mampu terdiam dengan wajah yang tertunduk.


Kini Sandra yang berperan menjelaskan kepada kedua orang itu apa yang sudah membuat mereka datang ke resto. Sandra menceritakan semua yang sudah diceritakan oleh Raina tanpa dikurangi atau ditambahkan sedikitpun.


Satria mengepal kan kedua tangannya menahahan emosi nya, terlihat rahang nya yang mengeras menandakan bahwa dia sangat marah.


Sedangkan Bunda Eva sama seperti Sandra yang tahu saat pertama kali, Bunda Eva menangis sembari mendekati Raina dan langsung memeluk gadis malang itu.


"Sat, apa kamu bisa mengecek rekaman CCTV?" tanya Bunda Eva.


"Iya, Bun. Bisa."

__ADS_1


Semua berkumpul diruang kontrol yang masih terletak disatu ruangan kantor. Satria mencari rekaman cctv ditanggal dan bulan yang sama waktu acara anniv resto berlangsung.


Di rekaman itu terlihat jelas Awan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman sebelum dia memberikan kepada Raina. Dan terlihat juga Awan yang mengangkat tubuh Raina masuk ke dalam mobil padahal saat itu ada seorang cleaning servis yang datang menghampiri nya ingin membantu tapi ditolak oleh Awan.


Satria benar-benar gusar melihat perbuatan adiknya itu. Satria menatap Raina dengan tatapan elang nya.


"Bagaimana bisa kamu diam saja, setelah dia melakukan itu semua ke kamu?" tanya Satria dengan nada tinggi.


"A-aku takut ... Mas ..." jawab Raina lirih.


"Sabar, Nak. Kita harus mencari Awan terlebih dahulu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya." ucap Bunda Eva mencoba menenangkan keponakan nya itu.


"Bagaimana bisa, Bun? Apa yang sudah dia lakukan sekarang? Ya, Tuhan ... Bunda tahu sendiri keadaan mamah seperti apa sekarang selama kepergian anak itu? Mamah sakit-sakitan menunggu dia pulang. Mamah belum pulih dari sakitnya dan sekarang kita dihadapkan dengan masalah seperti ini lagi. Aarrrggg!" Satria mengusap wajahnya dengan kasar dan melayangkan tinjuan ke dinding.


Semua terdiam, tak ada yang berani menyentuh Satria. Bunda Eva tahu jika keponakan nya itu terlalu emosi dan membiarkan Satria meluapkan emosi nya itu.


"Bagaimana dengan keluarga mu, sayang? Apa mereka sudah tahu tentang masalah mu ini?" tanya Bunda Eva sembari membelai rambut panjang Raina dengan lembut.


Raina hanya menggelengkan kepalanya.


"Raina benar-benar menyimpan nya sendiri, Bun." ucap Sandra.


"Satria, bagaimana jika kita yang menemani Raina untuk berbicara dengan keluarganya?" tanya Bunda Eva pada Satria.


"Iya, Bun. Satria harus bertemu dengan keluarga nya untuk meminta maaf atas kesalahan fatal yang sudah dilakukan anak itu. Dan ini harus cepat diselesaikan, karena janin didalam perutnya akan terus berkembang dan itu tidak bisa disembunyikan lagi." jawab Satria dengan tegas.


Satria adalah kakak tertua Awan, yang selalu berpikiran bijak dalam mengambil setiap keputusan dan dalam bertindak. Semua menyetujui untuk mengantar dan menemani Raina.


"Bereskan semua perlengkapan mu sayang, kita akan ke rumah menemani mu pulang dan menyelesaikan masalah mu ini." ucap Bunda Eva.


Raina menurut dan segera mempersiapkan kepulangan nya dibantu dengan Sandra.


Satria turun terlebih dahulu menyiapkan mobil, sedangkan ketiga wanita itu berjalan beriringan.

__ADS_1


Semua karyawan resto yang melihat ketiganya keluar bersamaan, bertanya-tanya apa yang sudah terjadi dengan Raina. Melihat keadaan Raina yang berantakan dengan mata sembab nya habis menangis.


Mohon like dan krisan yang mendukung nya ya kawan πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2