Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Sisi Lain Raina


__ADS_3

Suasana malam di perkotaan sangat lah berbeda dengan di perkampungan, meskipun terbilang tidak begitu ramai malam ini, tapi tetap saja masih banyak yang seliweran dijalan, baik dari berbagai pedagang kaki lima maupun muda-mudi yang keluar hanya untuk menikmati suasana malam kota.


Raina menghentikan sepeda motornya ditepi jalan, mendekati dua orang anak yang masih duduk dipinggir jalan menunggu seseorang yang akan membeli koran-koran yang mereka jajakan.


"Dek, kenapa belum pulang? Ini adiknya, ya?" tanya Raina pada seorang anak yang lebih besar sembari menunjuk anak kecil yang mungkin berusia lima tahunan disebelah nya.


"Koran nya belum habis, Kak. Iya, ini adik saya. Kalau pulang tapi masih bawa sisa koran seperti ini, nanti dimarahin sama ibu." ucap anak itu.


Raina sangat terpukul mendengar kalimat yang dilontarkan oleh anak tersebut.


"Bagaimana bisa seorang ibu dengan tega memperlakukan anaknya seperti ini?"


Raina memalingkan wajahnya mengusap sudut matanya yang berair.


"Kalian sudah makan?" Raina kembali bertanya.


Anak tersebut hanya menggelengkan kepalanya.


Raina mengerti dengan jawabannya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan. Mencari warung makan didekat dia berada. Matanya tertuju pada sebuah warung nasi goreng yang terletak diseberang jalan.


Raina mengajak kedua kakak beradik itu ke warung tersebut. Sesampainya diwarung, Raina langsung memesan untuk dua porsi.


Raina sangat bersyukur, meski dirinya pernah dihadapkan pada situasi tersulit saat itu, tapi masih ada bapak yang tidak pernah berhenti melakukan apa pun agar anak-anaknya tidak sampai mengemis atau kelaparan.

__ADS_1


Raina memperhatikan kedua anak itu makan dengan lahapnya. Raina sangat bahagia bisa membantu mereka. Karena dirinya sadar, dari sebagian rejeki yang ia punya, juga ada sebagian hak untuk mereka. Dan dia selalu ingat dengan pesan bapaknya, karena masih banyak orang diluar sana yang lebih menderita dibanding dengan keluarga mereka.


Raina kembali menitik kan air matanya, mengingat almarhum bapak nya.


"Bapak ... sudah lama Raina tidak menengok bapak."


Tanpa ia sadari semua gerak geriknya sudah di video oleh orang suruhan Ridho yang mengikutinya. Dan video tersebut sudah mendarat dengan cantik di ponsel majikannya.


********


Notifikasi pesan masuk ke aplikasi chating berwarna hijau di ponsel Ridho. Ridho segera meraih nya dan membuka isi chat yang ternyata adalah sebuah video yang dikirimkan oleh orang suruhan nya.


Dia memperhatikan dengan seksama isi video itu. Dan tersenyum saat tahu siapa yang berada didalam video tersebut.


"Gak cuma wajah kamu aja yang cantik, ternyata hati kamu juga jauh lebih cantik." gumamnya sembari tersenyum.


********


"Sudah, Kak. Terimakasih, Kak." ucap anak itu.


Raina mengeluarkan dompet yang ada didalam tas nya. Mengeluarkan selembar uang merah yang menjadi simpanan nya jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ya, sekarang dia membutuhkan nya untuk membantu sesama.


Raina segera menuju kasir dan membayar semua makanan yang ia pesan untuk kedua anak itu. Setelah itu, dia kembali ke kursi dia duduk tadi.

__ADS_1


"Sisa berapa lagi koran nya?" tanya Raina melihat tumpukan koran didepan nya.


"Masih sisa tujuh lagi, Kak." jawab anak itu.


"Berapa harganya?" tanya Raina lagi.


"Satuan nya lima ribu rupiah, Kak. Per koran ada tiga puluh halaman, Kak." jawab anak itu menjelaskan.


Raina menghitung sisa uang yang ia pegang setelah membayar dikasir, dan memberikan semuanya kepada anak itu.


"Ini mungkin gak seberapa, tapi cukup untuk membayar semua sisa koran kamu. Kamu sekarang pulang, ya. Kasihan adik kamu sudah mengantuk." ucap Raina sembari memberikan uang tersebut.


"Terimakasih banyak, Kak." Terlihat matanya berkaca-kaca saat menerima uang dari Raina.


"Rumah kamu dimana? Apa jauh dari sini? Biar sekalian kakak antar, ya?" tanya Raina.


"Rumah aku dijalan D, Kak." jawabnya.


Tambah terasa sesak rasanya hati Raina, saat tahu dimana letak rumah anak itu. Alamat yang dia sebutkan sangat cukup jauh dari lokasi dia menjajakan koran nya.


"Jika koran nya tidak habis, bagaimana mereka pulang? Semalam apa dan menggunakan apa mereka pulang?" Pikiran Raina terus jauh melalang buana memikirkan nasib kakak beradik itu.


Akhirnya, Raina memutuskan untuk mengantarkan anak tersebut terlebih dahulu. Karena itu yang lebih penting, melihat si kecil sudah terlihat sangat lelah dan mengantuk seharian menemani sang kakak berjualan.

__ADS_1


**Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian 😘**


__ADS_2