Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Raina & Sandra


__ADS_3

Di ruang yang berukuran 4 x 5 yaitu ruang kerja Raina diresto sekaligus ruang kontrol yang hanya dibatasi dengan dinding itu, disini lah tempat favorit kedua bagi Raina sesudah kamar dirumah nya.


Diruangan ini, Raina dapat menghilangkan sejenak masalahnya dengan setumpuk laporan untuk dikerjakan. Diruangan ini pula dia dapat bersembunyi dari kegalauan hatinya, di sinilah dirinya dapat menangis, mengeluarkan segala yang terpendam sendiri tanpa ada yang tahu jika dirinya bersedih.


Dan disini lah awal mula dirinya, berbagi kesakitannya dengan sahabatnya, membongkar semua masalah yang sudah sangat menyesakkan hatinya.


Hari ini, seperti biasa dirinya tetap menjalankan kewajiban nya sebagai karyawan diresto milik bunda Eva itu. Meskipun sang ibu telah melarang nya untuk turun bekerja, tapi Raina tetap kekeh untuk berangkat bekerja.


Raina berdalih jika hanya berdiam diri dirumah saja akan membuatnya terus-terusan kepikiran dengan masalahnya yang akan berakibat dirinya menjadi stres dan mempengaruhi janin nya.


Tentu saja, dengan alasan seperti itu membuat ibu Riska tak bisa membantah kemauan sang anak. Walau bagaimana pun dirinya tetap menyayangi Raina beserta calon cucu pertamanya, meski jalan mendapatkan nya bukan jalan yang baik.


Raina merasa bosan ditengah-tengah mengerjakan pekerjaannya. Dia menghentikan sejenak aktifitasnya, beralih memainkan handphone nya. Raina sudah mulai berselancar didunia maya.


Matanya terbelalak saat melihat wajah yang tak asing itu berada disebuah artikel berita kriminal. Raina membuka situs tersebut dan mulai membaca kalimat demi kalimat. Sontak berita tersebut membuatnya semakin down.


Bulir bening sudah bebas menerobos dinding pertahanan nya. Raina menangis mengingat nasib anak yang di kandung nya.


"Ya Tuhan, haruskah hamba mu ini menghadapi semua cobaan tersulit ini? Jika memang hamba harus membesarkan dan merawat anak ini sendiri, berikan hamba mu ini mental yang kuat dan kesabaran yang penuh untuk tetap bisa berdiri diatas kaki hamba sendiri."


Raina kembali menangis dan kembali meratapi kemalangan-kemalangan yang telah menimpanya. Tak lama kemudian, suara dering handphone nya membuyarkan lamunannya.


Raina menatap layar ponsel yang tertera nama ibu. Raina segera menjawab panggilan tersebut.

__ADS_1


[Hallo, assalamualaikum, Bu.] Raina mencoba berbicara dengan normal agar tidak terdengar bahwa dirinya habis menangis.


[Walaikumsalam, Nak. Apa Raina sudah tahu berita hari ini?] tanya Ibu Riska diseberang sana, rupanya ibu Riska pun sudah mengetahui berita penangkapan Awan yang terjerat kasus narkotika di pulau B dari siaran ditelevisi.


Raina menarik nafasnya perlahan, mencoba kuat dan tegar dengan permasalahan yang sedang dihadapi nya.


[Raina sudah tahu, Bu.] Dengan suara yang tetap mencoba tenang.


[Kamu yang sabar ya, Nak. Pasti semua akan ada jalan keluarnya.]


[Iya, Bu. Sudah dulu ya, Bu ... Raina mau lanjut kerja lagi banyak kerjaan, nih.] ucap Raina berbohong, dia ingin cepat mengakhiri panggilan itu karena dirinya sudah tidak bisa menahan air matanya yang hendak keluar lagi. Dia tidak ingin ibunya akan merasa sedih dan mengkhawatirkan dirinya, jika tahu saat ini dirinya benar-benar sangat down.


Ibu Riska memang sengaja menelepon Raina, dirinya ingin mengetahui keadaan anaknya jika mengetahui kabar tersebut. Tapi, mendengar Raina yang dengan tenang berbicara dengannya, membuat dirinya juga ikut merasa tenang telah memastikan putrinya dalam keadaan baik-baik saja tidak seperti yang dia pikirkan.


"Assalamualaikum ... Raina ..." ucap Sandra dan langsung menghampiri Raina yang duduk meringkuk disamping kursi kerjanya.


Raina masih dalam keadaan bersedih, setelah mengakhiri panggilan telepon bersama ibunya.


Sandra segera memeluk sahabat nya itu untuk menenangkan nya.


"Aku tahu ini sangat berat buat kamu, Rai. Tapi, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu wanita yang hebat dan kuat. Aku tahu Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah untuk kamu." ucap Sandra mencoba menguatkan Raina.


Raina masih menangis tersedu dipelukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bersiaplah, bunda memintaku untuk menjemput mu." ucap Sandra dan membuat Raina melepas pelukan nya.


"Kenapa?" tanya Raina dengan disertai isak tangis yang mulai mereda.


"Entahlah, aku hanya disuruh untuk menjemput mu." jawab Sandra sembari membantu sahabatnya itu untuk berdiri dan merapikan perlengkapan kerjanya.


Kini mereka sudah berada didalam mobil dengan Sandra yang mengemudinya. Pikiran Raina sudah berlarian kemana-mana. Bertanya-tanya didalam hati untuk apa dia dijemput seperti ini.


"Apa mas Satria sudah berhasil membebaskan mas Awan? Semoga apa yang aku pikirkan ini benar. Amin"


"Rai, ehm ... apa pun keputusan yang akan diambil nanti kamu terima, ya. Kamu harus memikirkan masa depan anak kamu, itu yang lebih penting." ucap Sandra.


"Kamu gak usah mikirin orang itu lagi." tambah Sandra.


Deg, perasaan Raina menjadi semakin galau.


"Apa maksud Sandra bicara seperti itu? Keputusan seperti apa yang dia maksud?"


Raina hanya diam tak ingin membahas nya dengan Sandra. Dirinya hanya ingin segera mendapatkan jawaban yang pasti untuk solusi dari masalahnya.


**Mohon like, krisan dan vote kalian ya 😘


Author akan tetap berusaha UP meski 1 episode tiap harinya, selalu setia dan dukung author ya... Terimakasih πŸ™**

__ADS_1


__ADS_2