Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Mie Ayam Favorit


__ADS_3

Saat ini


Mobil yang dikendarai oleh Satria sudah melesat dijalan besar. Begitu pula dengan Ridho yang kembali ke kantornya setelah memastikan jika Raina dalam keadaan baik-baik saja.


Raina duduk dengan tenang didalam mobil sembari menikmati pemandangan kota sepanjang jalan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Satria pada Raina dengan tetap fokus menatap jalan.


"Aku pengen makan mie ayam, Mas." jawab Raina.


"Ok. Kita cari warung mie ayam." sahut Satria.


"Ehm, tapi aku mau nya makan dilangganan aku sama Sandra, Mas." ucap Raina.


"Di langganan, kamu?" tanya Satria sembari menaikkan sedikit alis nya.


"Iya, Mas. Nanti aku tunjukkan jalannya." jawab Raina.


Satria pun mengangguk paham. Dia menuruti semua kemauan ibu hamil disebelahnya. Satria sudah menjalankan mobilnya sesuai dengan arahan Raina. Berhentilah mereka didepan sebuah warung sederhana.


"Ini warungnya?" tanya Satria yang tak yakin dengan pilihan Raina.


"Iya, ini warungnya. Ayok, kita turun." ajak Raina.


Satria pun kembali menurut dengan perkataan Raina. Raina disambut ramah oleh sang penjual mie ayam yang seperti sudah sangat mengenal Raina.


"Ekh ... Neng Raina sudah lama tidak kesini ... tidak bersama dengan Neng Sandra?" tanya Lek Min sembari menengok kearah belakang Raina.


"Tidak, Lek ..." jawab Raina ramah.


"Terus, cah bagus ini siapa?" tanya Lek Min yang menatap ke arah Satria.


"Oh, ini ..." Belum sempat Raina menjawab Satria sudah menyela omongan Raina.

__ADS_1


"Saya suaminya Raina." ucap Satria.


"Jadi ... Neng Raina, sudah menikah?" tanya Lek Min lagi yang kaget saat mendengar ucapan Satria.


Raina dan Satria hanya menganggukan kepalanya secara bersamaan.


"Wah, selamat ya! Mari, mari ... Neng Raina pasti pesan yang seperti biasa. Kalau Cah Bagus mau pesan apa?" ucap Lek Min.


"Saya pesan yang sama aja Pak, seperti Raina." jawab Satria sembari memandang Raina.


"Ok. Ditunggu dulu, ya." ucap Lek Min yang kemudian mulai meracik pesanan pelanggannya.


Satria dan Raina sudah masuk ke dalam dan duduk sembari menunggu pesanannya datang. Warung kecil yang sederhana itu berada dipinggir jalan, meskipun terbilang hanya warung kecil, tapi keadaan didalam nya sangat dijaga kebersihan nya oleh Lek Min. Sehingga membuat pelanggan nyaman berada didalamnya.


"Kamu sama Sandra sudah biasa makan disini?" tanya Satria.


"Iya, waktu sekolah dulu kami suka sekali makan disini." jawab Raina.


"Aku baru tahu, kalau ternyata anak itu suka jajan dipinggir jalan juga." ucap Satria.


" Oh ya, aku jadi penasaran seenak apa sih, mie ayamnya?" ucap Satria yang mulai tidak sabaran menunggu.


Satria juga semakin mengagumi Raina, yang bisa mengubah sifat adik sepupunya yang biasanya selalu makan direstoran atau dicafe mahal, tetapi bersama Raina, adik sepupunya itu mau merakyat dan makan dari dagangan yang dijajakan dipinggir jalan. Setahunya, Sandra memang anak yang baik dan tidak pernah memilih dalam berteman. Namun jika urusan makanan, Sandra sangat pemilih dan tidak pernah sekalipun makan dipinggir jalan.


Tapi hari ini, dia baru tahu dari Raina jika Sandra mulai menyukai makanan yang dijual oleh pedagang-pedagang kecil pinggir jalan dan mau makan ditempat lesehan sekalipun, semua karena Raina yang mengubahnya.


Tak berapa lama, pesanan mereka pun akhirnya tersaji di meja mereka. Satria yang melihat isi mangkuknya terlihat sangat antusias untuk segera menikmatinya. Dia langsung mulai menambahkan sambal, kecap, saos dan perasan jeruk nipis ke dalam mangkuknya.


"Mas, Neng Raina, mau minum apa?" tanya Lek Min.


"Saya es teh ... Saya es jeruk." jawab Raina dan Satria bersamaan.


Lek Min pun berlalu mengambilkan minuman yang mereka pesan. Sementara itu, mereka berdua lanjut menikmati mie ayam mereka masing-masing.

__ADS_1


"Benar yang kamu bilang, ini mie ayam terenak yang pernah aku rasakan." ucap Satria sembari terus menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Aku akan menjadikannya sebagai warung mie ayam favorit." tambah Satria lagi.


Raina pun hanya tersenyum melihat tingkah Satria yang berbicara dengan mulut penuhnya. Kemudian dia mengambil selembar tisu dan berniat ingin mengelapkan bibir Satria yang terlihat belepotan.


Raina memajukan sedikit badannya agar dapat memudahkannya membersihkan bibir Satria. Satria terkaget saat Raina menyentuh bibirnya dan tak sengaja Satria refleks memegang tangan Raina. Terciptalah kecanggungan diantara keduanya saat mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Terasa ada getaran didada Satria saat menatap wajah Raina dengan intens.


"Shit, kenapa dia begitu sangat cantik dilihat sedekat ini. Semoga dia gak dengar debaran jantungku." batin Satria.


"Permisi, ini minumannya." ucap Lek Min yang datang memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Eh, iya. Terimakasih Lek." balas Raina dengan canggung dan kembali duduk ditempatnya. Sementara Satria langsung tertunduk dan kembali memakan mie ayam miliknya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka menghabiskan mie ayam mereka masing-masing. Terlihat kepuasan Raina karena dapat menikmati mie ayam kesukaannya, begitu pun dengan Satria yang sudah memasukkan mie ayam Lek Min ke dalam daftar menu favoritnya.


Satria pun membayar semua yang telah ia makan dengan Raina. Kemudian mereka pun beranjak pulang.


Di dalam mobil, mereka berdua kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Raina ... ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucap Satria dan membuat Raina menoleh kepadanya.


"Iya, bicaralah." sahut Raina.


"Ehm, besok rencananya aku akan berangkat ke pulau B bersama dengan pakde Suseno. Aku ingin menemui Awan disana. Apa kamu mengizinkan?" tanya Satria.


"Pergi lah, aku tak akan melarang." jawab Raina datar.


Satria memperhatikan raut wajah Raina yang berubah saat dia mengatakan nama Awan.


"Aku kesana ingin memberitahukan padanya jika kita telah menikah. Dan aku akan memberikannya pelajaran karena sudah banyak yang ia rugikan karena ulahnya. Meskipun dia adik kandung, tapi jika dia melakukan kesalahan yang fatal, aku tak akan membelanya." ucap Satria dengan mata yang penuh amarah.


"Jangan mengotori tanganmu hanya karena menuruti emosimu. Aku sudah memaafkannya dan tak menyimpan dendam apa pun kepadanya. Biarkan, yang Kuasa yang akan membalas semuanya. Cukup dia tidak mencampuri kehidupanku selanjutnya, ku rasa itu sudah cukup." ucap Raina dengan menegaskan setiap kata-katanya.

__ADS_1


Satria hanya diam mencerna perkataan Raina. Dan dia menarik kesimpulan jika Raina tidak menginginkan Awan untuk mendekati kehidupannya mau pun dengan anaknya kelak.


Mohon like, komen, vote dan rate kalian. Dukungan kalian semua sangat berarti untuk author 😘


__ADS_2