Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Apa ini kecupan sayang?


__ADS_3

Hari-hari berlalu dan bulan pun telah berganti. Sejak kepulangan Satria dari bertemu dengan Awan, Satria tak bercerita apa pun pada Raina tentang apa yang sudah ia katakan pada adiknya itu. Raina juga tak mempermasalahkan nya, dirinya juga tak pernah bertanya apa pun pada Satria. Lebih tepatnya ia enggan untuk mencari tahu, baginya biarlah itu menjadi urusan Satria dengan adiknya.


Seperti hari-hari biasa, Raina melakukan perannya sebagai seorang istri maupun seorang menantu dengan baik. Kesehatan ibu Santi pun berangsur membaik, meski belum sepenuhnya tapi setidaknya dirinya sudah merasa kuat untuk membawa tubuhnya sendiri baik ke toilet atau pun ke tempat lain dirumah itu tanpa bantuan orang lain lagi. Meskipun dirinya tak seaktif saat waktu masih sehat bugar yang dapat melakukan hal apa pun, karena dia masih sangat menjaga kondisi tubuhnya agar tidak drop lagi karena kelelahan. Dan penyakit jantung yang dideritanya membuat dirinya kehilangan berat badan yang langsung menurun drastis, yang membuatnya semakin terlihat kurus dan semakin menua.


Malam telah bersambut, Raina menyiapkan segala lauk pauk untuk makan malam dirinya dan keluarga dari suaminya. Dan kali ini, meja makan terlihat ramai karena kehadiran ibu Santi yang sudah mulai mengikuti makan malam bersama dengan anak dan mantunya. Tapi, tetap dia masih sangat menjaga asupan makanan untuknya sehingga Raina paham betul apa yang harus dirinya buat untuk mertuanya itu.


Makan malam berlangsung dengan tenang, tak ada satu pun yang bersuara. Hanya dentingan alat makan saja yang terdengar. Dan seperti biasanya, setelah makan malam Bara dan Satria membantu membersihkan sisa-sisa piring kotor sehabis mereka pakai untuk makan. Keduanya bahu membahu mengerjakannya. Karena, mereka telah sepakat untuk melakukannya agar Raina tidak terlalu lelah.


Sementara Raina, sudah duduk santai menemani mertuanya di ruang keluarga.


"Terimakasih, Nak ... kehadiranmu ke rumah ini sangat membawa perubahan." ucap Ibu Santi yang tiba-tiba.


"Ehm, Raina tidak melakukan apa pun, Mah. Semua sudah atas kehendak Allah." ujar Raina sembari tersenyum dan mengelus lembut pucuk tangan mertuanya.


"Kamu benar-benar berhati baik, mamah sangat beruntung mendapatkan menantu sepertimu." puji Ibu Santi.


"Mamah jangan berlebihan, nanti Raina besar kepala, lho." ucap Raina sembari tertawa kecil, begitu pula dengan ibu Santi yang tertawa mendengar candaan Raina.


Perubahan besar memang sangat dirasakan ibu Santi semenjak kehadiran Raina. Dimulai dengan pola makan kedua anaknya yang teratur terutama untuk Satria, yang selalu berusaha makan dirumah untuk makan masakan Raina. Kemudian, bagi kesehatannya sendiri. Raina selalu memberikan dorongan semangat untuknya agar segera sembuh dari sakitnya, Raina selalu membuat hatinya tenang sehingga dirinya tidak memikirkan hal-hal yang berat lagi yang dapat mempengaruhi penyakitnya.


"Tertawakan apa, sih? Sepertinya senang sekali?" tanya Satria yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan Raina dan mamahnya diruang keluarga.


"Kamu mau tau aja atau mau tau pake banget?" canda Ibu Santi.


"Ah, kalian main rahasia-rahasiaan, ya." Satria memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didada seperti anak kecil yang lagi merajuk. Sontak tingkahnya semakin membuat kedua wanita yang ada dihadapannya tergelak tawa.


"Sudah, sudah, jangan tertawa terus nanti perut kamu sakit kasian dedek bayinya." ucap Ibu Santi sembari mengelus perut Raina yang semakin membesar diusia kehamilannya yang sudah memasuki enam bulan.


Satria sebenarnya adalah orang yang sangat penyayang pada keluarga, dia selalu menumbuhkan rasa hangat ditengah-tengah keluarganya. Lain halnya untuk orang asing yang tak pernah ia kenal, dia akan bersikap dingin. Apa lagi pada wanita yang mendekat ingin menggodanya dari dulu hingga sekarang pun Satria tidak mengubah sikapnya, malah dia semakin dingin semenjak mengingat statusnya sebagai suami. Itu lah alasan Satria yang tidak mau membalas Renita yang mencoba mendekatinya saat itu.

__ADS_1


"Satria, bagaimana dengan pekerjaan mu, Nak? Apa kamu tidak meninggalkannya terlalu lama?" tanya Ibu Santi.


Satria terdiam dan berfikir sejenak.


"Ehm, sebenarnya tiga hari lagi sudah waktunya Satria kembali ke lokasi, Mah. Apa mamah sudah merasa benar-benar baik untuk Satria tinggal?" jawab Satria dan kemudian kembali bertanya pada mamahnya.


"Mamah sudah membaik, kamu tidak perlu khawatirkan mamah lagi karena sudah ada Raina yang menemani mamah." jawab Ibu Santi sembari memandang ke arah Raina.


"Kalau benar seperti itu, Satria tidak ragu lagi untuk meninggalkan mamah disini." ucap Satria.


"Iya, Nak. Bagaimana pun kamu harus bekerja, kalau kamu tidak bekerja bagaimana kamu menafkahi anak dan istrimu nanti? Apa lagi, tidak lama lagi Raina akan melahirkan. Keperluan kalian akan semakin banyak nantinya." ujar Ibu Santi.


Lain halnya dengan ibu Santi, Raina tampak murung setelah tahu jika Satria akan kembali bekerja dan meninggalkan dirinya untuk waktu yang terbilang cukup lama. Satria pun menyadari kesedihan Raina.


" Hai, kenapa kamu bersedih? Mas, hanya dua bulan disana dan Mas akan pastikan, Mas ada disini saat kamu melahirkan nanti." ucap Satria yang mencoba menenangkan Raina.


"Sungguh?" tanya Raina.


Bagaimana pun kehadiran suami saat seorang istri akan melahirkan itu sangat diharapkan, karena akan membangkitkan semangat untuk sang ibu yang akan melahirkan. Meskipun gelar suami hanya status, tapi Satria ingin memberikan yang terbaik untuk Raina. Agar Raina juga dapat merasakan jika Raina mempunyai suami yang siap siaga.


"Mah, mamah belum meminum obat mamah, lho. Ayo mah, mamah harus minum obat mamah dulu kemudian beristirahtlah ini sudah mulai larut." ucap Raina yang mengingatkan mertuanya.


"Iya sayang, kamu juga beristirahatlah. Kamu pasti sudah sangat lelah bekerja seharian memenuhi kebutuhan kami dan mengurus rumah ini." balas Ibu Santi.


"Ah, mamah ... mulai, deh. Raina gak mengerjakan nya sendiri, Mah? Kan, ada Bi Darsih yang membantu Raina." ujar Raina dengan suara manjanya.


"He, baiklah. Mamah akan pergi ke kamar mamah dan kalian berdua juga beristirahatlah." ucap Ibu Santi dan beranjak meninggalkan ruang keluarga menyisakan Raina dan Satria disana.


Raina pun mulai bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Dek ...." panggil Satria yang juga ikut berdiri.


"Iya, Mas." jawab Raina menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Satria.


"Selamat malam dan selamat tidur." ucap Satria.


"Iya, Mas juga." balas Raina.


Satria mendekati Raina dan berjongkok didepan perut besar Raina, sementara Raina kaget dengan apa yang dilakukan oleh Satria.


"Eh, mau ngapain ini orang?" batin Raina bertanya.


"Selamat tidur juga anak ayah, jangan nyusahan bunda kamu, ya." ucap Satria seakan tengah berbicara dengan anak yang dikandung Raina. Seperti biasa, selalu ada respon dengan tendangan tiap kali Satria mengajaknya berbicara.


Raina hanya diam mendengarkan Satria yang sedang berbicara dengan anaknya dan merasakan tendangan demi tendangan dari sang buah hati.


Satria pun berdiri dari jongkoknya dan sehingga membuat tubuh mereka sangat dekat. Lama mereka berdua terdiam, Satria memandang Raina yang tertunduk. Satria mengangkat wajah Raina dan kemudian mencium kening Raina cukup lama. Sementara Raina hanya diam tanpa perlawanan mendapat serangan dadakan oleh Satria.


"Tidurlah, semoga kamu mimpi indah." ucap Satria sembari mengelus pucuk kepala Raina setelah mencium kening perempuan itu.


"Iya." Dengan segera Raina berbalik badan dan langsung menuju kamarnya dengan langkah cepat.


Raina langsung mengunci pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Jantungnya begitu berdebar serasa ingin meletus saat itu juga.


"Apa itu kecupan sayang? Dan dia mengucapkan dirinya sebagai ayah." gumam Raina.


Raina tersenyum dan hanyut dalam pikirannya sendiri hingga dia terlelap, hanyut dalam irama debaran jantungnya sendiri.


Mohon like, komen, vote serta berikan rate untuk karya author ini ya 😁

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2