
Dua minggu telah berlalu dan bulan pun sudah berganti dari pertemuan pakde Suseno dan Satria dengan keluarga Raina. Akhir-akhir ini, Satria jarang sekali menemui Al karena kesibukannya. Ditambah tak ada perkembangan apa pun dengan Ibu Santi yang tetap pada pendiriannya, sehingga membuat keadaan semakin keruh antara ibu dan anak itu karena perbedaan pendapat.
Meskipun perang dingin dengan sang mamah, Satria tetap memperhatikan posisi dirinya sebagai seorang anak. Satria tetap memberikan sebagian uang gajinya kepada mamahnya, meskipun sempat dengan perdebatan. Sebenarnya ibu Santi menginginkan seluruh penghasilan anaknya dikelola oleh dirinya, namun Satria tidak bisa menuruti apa yang mamahnya mau. Karena sekarang dirinya yang merasa sudah menjadi suami dan ayah, tentunya Satria juga ingin bertanggung jawab atas nafkah kepada keluarga kecilnya itu.
Satria semakin merasa tertekan dan serba salah. Di satu sisi dia harus tetap menghormati sang ibu dan di sisi lain ada anak dan istri yang juga harus ditanggung.
Sore itu, Satria kembali mendatangi pakdenya dan mengeluhkan segala masalah pelik yang dihadapinya.
"Satria semakin bingung dengan mamah yang mau menguasai semua penghasilan Satria. Sedangkan Satria juga harus menafkahi Raina dan juga Al, Pakde." keluh Satria.
"Kamu harus tegas, Satria. Mana ketegasan dirimu yang biasanya, kenapa kamu menjadi lemah seperti ini. Jalan satu-satunya adalah kamu harus keluar dari rumah mamah mu. Kamu harus mulai belajar bagaimana membina rumah tangga yang baik dengan istrimu. Kalau kamu tetap bertahan dirumah mamahmu, berharap mamahmu membuka hatinya sekarang, itu tidak akan berhasil dan tak akan pernah ada selesainya. Yang ada mamahmu semakin merayu kamu untuk tetap mengakhiri pernikahanmu dengan Raina. Percaya dengan pakde." Pakde Suseno memberi jalan tengah terakhir untuk keponakannya itu.
Satria terdiam dan merenungi semua ucapan pakdenya. Entah kenapa, dia merasa berat untuk meninggalkan mamahnya yang sakit-sakitan itu.
"Tapi, bagaimana kalau Satria keluar dari rumah, penyakit mamah kembali kambuh, Pakde. Itu yang Satria takutkan lagi." ucap Satria.
"Setidaknya itu pelajaran untuk mamah mu, kamu harus bersikap tegas. Kalau mamah mu sakit kan, masih ada Bara. Tentu Bara akan meminta pertolonganmu. Kamu jangan risaukan itu, yang penting sekarang kamu keluar dulu dari rumah mamah mu itu. Jangan berfikir yang macam-macam dulu, yakin kan pada hati mu itu, jika semua akan baik-baik saja. Bagaimana kamu bisa berfikir jauh seperti itu, sebelum kamu mencobanya. Jangan buat otakmu itu bersugesti yang buruk. Pakde tidak mengajarkan dirimu untuk menjadi anak yang durhaka dengan orangtua, tapi keadaannya memang mengharuskan dirimu seperti ini. Agar otak mamahmu itu bisa berfikir secara jernih dan sadar akan kesalahannya sendiri." ujar Pakde Suseno yang geram karena Satria mulai melemah dan tidak tegas.
"Benar apa yang dikatakan pakde, aku harus mengambil keputusan yang tegas. Aku tidak boleh lemah karena mamah." batin Satria.
"Pikirkan betul-betul, apa yang sudah pakde katakan padamu." ucap Pakde Suseno sembari menepuk punggung keponakannya itu dan pergi meninggalkan Satria yang masih terdiam.
*********
Di Kediaman Raina.
"Bu, ini sudah hampir lewat dari sebulan. Tapi kenapa, Mas Satria tidak memberi kepastian lagi? Bahkan, akhir-akhir ini pun dia jarang sekali mengunjungi Al atau menanyakan kabar Al. Meski Raina sudah sering mengirimkannya pesan, tak ada jawaban darinya. Apa, mas Satria hanya mempermainkan Raina ya, Bu?" keluh Raina pada ibunya.
Ibu Riska bingung harus berbicara seperti apa pada anak perempuannya itu. Karena, membela Satria saat ini pun sepertinya percuma. Karena, akan semakin membuat Raina kecewa. Satria memang belum memberi kepastian penuh dan lebih tepatnya kapan kakak dari Awan itu akan mengulang kembali akad nikahnya. Yang Satria ucapkan hanya lah sebulan setelah masa nifas Raina berakhir.
Dan kenyataannya hingga kini Satria tidak lagi memberi kepastian itu. Meskipun ibu Riska masih menaruh keyakinan bahwa orang yang masih berstatus kan sebagai suami dari anaknya itu akan tetap bertanggungjawab atas ucapannya.
"Kenapa sesusah ini, Bu? Raina hanya ingin merasakan bahagianya membangun rumah tangga seperti pasangan suami istri pada umumnya. Tapi, jalan yang diberikan oleh Allah terasa begitu sulit. Mungkin, mas Satria dan Raina memang tidak berjodoh, Bu." ujar Raina dengan senyum getir yang sedang menahan tangisnya.
Lagi-lagi ibu Riska tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dirinya hanya mampu memeluk anak perempuannya itu. Dan akhirnya, Raina menangis didalam pelukan sang ibu.
*******
__ADS_1
Satria mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, kembali terngiang dipikirannya segala nasihat dari sang pakde. Membuat dirinya semakin dilanda kekalutan.
Beberapa menit kemudian, sepeda motornya sudah memasuki gerbang perumahannya. Hanya beberapa meter, akhirnya tiba dirumahnya. Satria langsung memasukkan sepeda motornya kedalam garasi yang berada disebelah rumahnya.
Matanya tertuju pada sebuah mobil bermerk honda jazz berwarna merah terparkir cantik dihalaman rumahnya. Satria segera masuk ke dalam rumahnya untuk mengetahui siapa pemilik mobil itu.
Kakinya mulai melangkah masuk ke arah ruang tamu, tapi tak ditemukan siapa pun disana. Namun, telinganya bisa menangkap ada suara dua orang perempuan yang sepertinya sedang tertawa.
Satria pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke asal suara berada. Satria terdiam disisi ruang keluarga yang menghubungkan antara kamarnya dan juga kamar mamahnya. Disana dia mendapati mamahnya sedang asik berbincang bahkan tertawa dengan lepasnya dengan seorang perempuan yang tentu saja dia kenal. Ya, perempuan itu tak lain adalah Erlina.
Kedua wanita itu pun menyadari akan kehadiran seseorang, keempat pasang mata itu kini melihat secara bersamaan ke arah Satria yang masih berdiri ditempatnya.
"Ehm ... Mas," sapa Erlina sembari menyunggingkan senyum manisnya ke arah Satria.
Satria tetap tak bergeming, bahkan untuk membalas senyum pada orang yang pernah ada dihatinya itu pun tidak ia lakukan.
"Eh, Satria ... sini, sini, Nak Lin dari tadi menunggu kamu, lho." ucap Ibu Santi dengan manisnya.
"Ehm, gak ada yang memintanya untuk menunggu. Buat apa menunggu?" ucap Satria dengan acuhnya dan mulai membalikkan badannya melangkah ke kamarnya.
"Satria, jaga bicaramu! Kenapa kamu seakan tidak punya sopan santun pada tamu? Yang bahkan tamu kita adalah seorang perempuan." geram Ibu Santi yang mulai berdiri dari duduknya.
"Sabar ya, sayang ... maafkan, sifat Satria yang akhir-akhir ini memang dia bersikap dingin. Semua ini karena perempuan itu, yang sudah meracuni otak anak tante." ucap Ibu Santi pada Erlina.
"Ehm ... iya, gak apa-apa, Tan." balas Erlina yang merasa tidak enak hati.
Sementara, didalam kamarnya Satria Menimbang-nimbang segala perkataan pakdenya.
"Benar yang dikatakan pakde, mamah semakin nekat untuk membujukku agar tetap mau mengikuti keinginannya." gumam Satria.
Satria membereskan semua pakaiannya serta surat-surat penting dan memasukkan semuanya jadi satu ke dalam sebuah tas ransel yang berukuran besar. Satria sudah memantapkan hatinya untuk keluar dari rumah mamahnya itu.
Setelah selesai, Satria segera membersihkan badannya. Sepuluh menit dia menyelesaikan ritual mandinya, kini dirinya sudah siap dengan segalanya. Satria meraih tas ranselnya dan mengenakan dipunggungnya. Kemudian tak lupa dirinya meraih kunci sepeda motor, dompet dan juga handphonenya yang masih tergeletak diatas nakas, barulah dirinya keluar dari kamarnya itu.
"Satria, mau kemana kamu membawa barang-barang sebanyak itu?" tanya Ibu Santi yang melihat anaknya keluar menggunakan tas ransel yang sangat besar.
"Maafin Satria, Mah. Satria akan menentukan jalan hidup Satria sendiri." ucap Satria tanpa menjawab pertanyaan dari mamahnya.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu mau keluar dari rumah ini. Ok, pergi dan jangan pernah kembali lagi menginjakkan kakimu disini. Mulai hari ini dan detik ini, kamu bukan anakku lagi. Jadi, jangan pernah memanggil diriku dengan sebutan mamah lagi. Karena aku tidak mau punya anak pembangkang sepertimu." ucap Ibu Santi dengan emosi yang membara.
Sakit, itu yang dirasakan Satria saat ini. Saat mamahnya mengucapkan segala ucapan yang tak pernah dia harapkan. Tubuh Satria bergetar, namun dirinya tidak ingin terlihat lemah didepan mamahnya. Dia juga tidak ingin membantah satu kata pun. Niatnya sudah bulat untuk tetap keluar dari rumah yang menyimpan sejuta kenangan itu.
Erlina terdiam, dirinya hanya menyaksikan bagaimana pertengkaran antara ibu dan anak itu tepat didepan kedua matanya. Ada rasa bersalah yang terbesit dihatinya. Bahkan, sekarang kedua matanya pun ikut berkaca-kaca. Karena dirinya juga merasakan sakit yang sama dirasakan oleh Satria. Dan dia menempatkan dirinya jika berada diposisi Satria saat itu.
"Assalamualaikum ...." ucap Satria sembari berjalan keluar rumah.
"Wa'alaikumsalam ...." Hanya Erlina yang membalas ucapan salam dari Satria.
Satria berjalan dengan langkah gontai menuju sepeda motornya, dengan hati yang saat ini benar-benar begitu perih.
Bara yang berada didalam kamarnya yang juga turut mendengar luapan emosi mamahnya itu pun keluar dan langsung segera berlari mengejar kakaknya tanpa menghiraukan mamahnya yang sudah terduduk lemas disofa.
Sepeda motor Satria mulai bergerak perlahan akan keluar dari garasi dan menuju pagar yang menutupi rumah mamahnya itu.
"Kak, Kak Satria ...!" panggil Bara dan membuat Satria mengerem sepeda motornya.
"Kakak mau kemana?" tanya Bara.
"Kakak akan memulai hidup kakak sendiri, Dek. Sudah seharusnya kakak keluar dari rumah ini dan berkumpul bersama dengan istri dan juga anak kakak." jawab Satria.
"Bara mendukung keputusan kakak. Semoga kakak bahagia bersama dengan kak Raina dan juga Al." ucap Bara yang membangkitkan percaya diri Satria.
"Terimakasih. Kamu harus rajin sekolah dan jaga mamah. Jika, ada sesuatu yang terjadi dengan kalian, segera kabarin kakak." titah Satria.
"Iya, Kak. Kakak hati-hati, ya." ucap Bara sembari mencium tangan kakaknya dan juga memeluk tubuh kakak tirinya itu.
Satria pun membalasnya dan kemudian kembali menyalakan sepeda motornya dan berlalu meninggalkan rumah masa kecilnya itu.
Bara masih berdiri ditempatnya menyaksikan kepergian kakaknya itu, hingga sepeda motor Satria hanya terlihat seperti titik hitam dikejauhan dan tak tampak lagi, barulah Bara masuk ke dalam rumah.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π