Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kepulangan Ibu


__ADS_3

Tin...Tin...Tin...Tin..


Suara klakson mobil yang berhenti tepat didepan rumah Raina.


Raka segera berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Melihat mobil siapa yang mengagetkan nya.


"Ibu" gumamnya, dan segera menghampiri mobil ibunya.


"Nak, tolong bantu Ibu mengeluarkan semua barang yang ada dibagasi mobil." ucap Ibu Riska saat melihat kedatangan Raka.


"Baik, Bu."


Dengan sigap Raka membantu ibunya mengeluarkan semua barang-barang yang dibawa ibunya dan mengangkat nya ke dalam kamar orang tuanya.


"Aldo dan Raina belum pulang?" tanya Ibu Riska setelah menyadari hanya ada anak bungsu nya dirumah.


"Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi." jawab Raka sembari melihat jam dinding dan kembali sibuk memasukkan barang-barang milik ibunya ke kamar.


Ibu Riska berjalan keluar rumah, duduk dibangku halaman depan yang biasa diduduki Raina jika sore menjelang.


Beberapa orang tetangga berdiri didepan rumah, berbisik-bisik dan melihat kearah rumah Raina.


"Itu kan, Ibu Riska. Mau apa dia kerumah ini lagi? Bukannya dia sudah bahagia ya, jadi istri orang kaya." ucap salah seorang ibu.


"Mungkin ketahuan sama istri tua, makanya dia kembali kesini. Makanya jangan jadi pelakor" balas ibu yang lain lagi dengan nada sinis nya. Sementara ibu-ibu yang lainnya pun menimpali dengan tertawa.


Rupanya berita kepergian nya saat itu meninggalkan citra negatif untuknya. Banyak nya kabar burung yang simpang siur ditelan mentah-mentah oleh warga sekitar.


Ibu Riska yang menyadari bahwa dirinya lah yang menjadi topik pembicaraan ibu-ibu di depannya langsung beranjak dari tempat duduk nya dan masuk ke dalam rumah.


Dia terduduk diam diruang keluarga sembari mengamati orang-orang yang membicarakan nya tadi dari balik kaca jendela.


Tak lama kemudian, suara deru sepeda motor memasuki halaman rumah. Aldo memarkir kan motornya, melihat kearah sekumpulan ibu-ibu yang masih saja berkumpul didepan rumahnya.


"Maaf, Bu, ada apa ya? Kok pada lihatin rumah saya?" tanya Aldo yang merasa risih dengan pemandangan didepan nya.


"Ibu nya Nak Aldo sudah kembali, ya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Iya, Bu. Sekarang ibu sudah kembali lagi." jawab Aldo santai sembari tersenyum.


"Dijaga yang bener ibunya. Takutnya nanti malah godain bapak-bapak disini. Kan, kita takut kalau suami kita diambil sama pelakor." ucap ibu-ibu yang lain lagi.


"Maaf, ya, Bu. Mohon dijaga juga mulut nya, agar tidak sembarangan ngomong. Lebih baik ibu urusin aja rumah tangga ibu masing-masing, jangan jadi tukang ghibah." Jawaban Aldo yang cukup menohok membuat semua ibu-ibu itu merasa jengkel dan meninggalkan tempat mereka berkumpul.


Aldo pun masuk kedalam rumah, mendapati ibunya yang sedang duduk sendiri diruang keluarga.


"Assalamualaikum ...." sapa nya sembari mencium tangan ibunya penuh takzim.


"Walaikumsalam, Nak." balas Ibu Riska sembari mengelus lembut kepala anaknya.


Tampak mata teduh nya menggambarkan kesedihan membuat Aldo bertanya tentang keadaan ibunya.

__ADS_1


"Apakah ibu baik-baik saja?" tanya Aldo.


"Iya, Nak. Ibu baik-baik saja." Ibu Riska tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihan nya.


"Ibu pasti mendengar omongan dari ibu-ibu yang berkumpul didepan tadi, ya? Ibu jangan khawatir dan jangan takut selama ibu tidak melakukan apa yang mereka tuduh kan. Ada Aldo dan adik-adik disini yang akan menguatkan ibu." ucap Aldo memeluk hangat ibunya.


"Terimakasih, Nak."


"Raina belum pulang?" tanya Aldo pada ibunya.


"Belum. Jam berapa biasanya dia pulang kerja?" Ibu Riska kembali bertanya pada Aldo.


"Seharusnya sih, lebih cepat Raina pulang nya dibanding Aldo." ucap Aldo.


*******


Sementara ditempat lain....


"Aduh, kenapa ban motor pakai acara bocor segala, sih?" gerutu Raina.


Kembali dia melihat jam tangannya.


"Sudah jam segini, pasti orang rumah khawatir. Mana handphone juga mati lagi, gak bisa kasih kabar ke kak Aldo." gumamnya.


Raina kembali menuntun sepeda motornya, menengok kanan dan kiri jalan berharap menemukan bengkel yang masih buka atau mendapat pertolongan dari seseorang.


Hampir satu jam Raina menuntun sepeda motornya, namun belum tampak sama sekali bengkel yang diharapkan. Raina terduduk lelah disamping sepeda motornya.


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Raina.


Dia melihat kearah mobil yang mendekati nya.


Seseorang turun dari mobil itu dan menghampirinya. Raina segera berdiri dari duduk nya dan melihat orang tersebut.


"Mas Ridho ...." sapa Raina.


"Kenapa kamu duduk disitu?" tanya Ridho yang menghampirinya.


"Ehm, itu Mas, ban sepeda motor aku bocor dari tadi aku sama sekali gak melihat ada tanda-tanda bengkel disekitar sini." ucap Raina sembari menunjuk ke arah sepeda motornya.


"Ehm ...." Ridho hanya berdehem dan mengambil handphone dari saku celananya dan nampak dirinya sedang menelepon seseorang.


Raina nampak canggung berdiri berduaan dengan Ridho yang sudah berada disamping nya. Beda saat waktu pertama kali mereka bertemu ada Sandra yang mencairkan suasana.


Tak lama kemudian ada seseorang yang datang menggunakan ojek online. Rupanya itu adalah orang suruhan Ridho yang telah dihubungi nya tadi.


"Pak tolong urus sepeda motor ini." ucap Ridho pada lelaki paruh baya yang berdiri dihadapannya.


"Baik, Mas." ucap lelaki itu.


"Mana kunci motor mu, serahkan pada Pak Pras. Percayalah, besok aku pastikan sepeda motor mu sudah di antar ke resto tempat mu bekerja dengan keadaan baik." ucap Ridho meyakinkan Raina.

__ADS_1


Raina pun akhirnya menyerahkan kunci sepeda motornya pada orang suruhan Ridho.


"Ayo, aku antar kamu pulang. Ini sudah mau malam." ucap Ridho sembari menarik lengan Raina untuk masuk kedalam mobil nya.


Sontak Raina kaget dengan perlakuan Ridho yang tiba-tiba itu.


"Maaf, Mas, saya bisa masuk sendiri, kok." ucap Raina sembari melepas pegangan tangan Ridho.


"Oh, iya, maaf." ucap Ridho yang tersadar atas apa yang sudah dilakukan nya.


Mobil melaju, menyusuri jalan kota disenja hari.


"Sejak kapan kamu bekerja diresto bunda?" tanya Ridho memecahkan kebisuan diantar mereka.


"Sejak aku selesai ujian sekolah." ucap Raina dengan mata terfokus menatap kedepan.


"Oh ... Ehm, kalau aku perhatikan wajah mu mirip dengan seseorang, tapi siapa, ya?" tanya Ridho sembari memperhatikan wajah Raina dari samping.


Deg,


"Ya, tentu saja aku mirip dengan ibu ku." batin Raina.


Raina hanya mengangkat kedua bahu nya, mengisyaratkan bahwa dirinya juga tidak tahu dengan orang yang dimaksud oleh Ridho.


********


Kembali kerumah....


Senja berangsur menjadi malam, namun yang ditunggu tak kunjung tiba. Tampak kekhawatiran diwajah wanita paruh baya itu. Yang sedari tadi menunggu putri nya yang belum pulang.


"Aldo ... Aldo ... coba telepon lagi adik kamu!" teriak nya dari arah ruang tamu.


"Iya, Bu."


Baru saja Aldo hendak menelepon adiknya, terdengar suara mobil berhenti didepan rumahnya.


"Raina, ini benar rumah kamu?" tanya Ridho


"Iya, ini rumah aku. Kenapa?" Raina balik bertanya dan melihat tatapan Ridho yang tertuju pada sebuah mobil yang terparkir dihalaman rumahnya.


Raina menyadari dengan apa yang dilihatnya. Dia sudah menduga jika Ridho mengetahui mobil siapa yang terparkir didepan nya. Hanya saja Raina bungkam, seolah-olah dia tidak mengetahui ada hubungan apa Ridho dengan pemilik mobil tersebut.


Ibu Riska dan Aldo keluar dari rumah melihat siapa yang datang.


Raina turun dari mobil diikuti pula oleh Ridho yang ingin memastikan wanita paruh baya yang sudah berdiri didepan pintu rumah.


Langkah Ridho terhenti, ketika posisi nya sudah sangat dekat dengan Ibu Riska dan Aldo.


Dan betapa terkejut nya Ibu Riska saat melihat siapa yang berjalan disamping putrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2