Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Sah


__ADS_3

Hari-hari berlalu, hari yang di nantikan pun tiba. Hari dimana Raina merasa begitu gugup, begitu pula dengan Satria ditempat yang berbeda mulutnya terus berkomat kamit menghafalkan ijab kabul yang akan ia ucapkan.


Raina telah selesai dirias, wajahnya yang memang sedari awal sudah cantik natural, tidak begitu susah bagi sang penata rias mendadani dirinya. Hanya dengan sedikit polesan menambah kecantikan nya yang semakin sempurna.


Balutan gaun pengantin putih panjang berbentuk mengembang dibagian pinggulnya sengaja dipilih oleh Raina untuk menutupi bagian perutnya yang mulai menonjol. Namun, tak mengurangi kesan indah ditubuh Raina. Dan Raina juga memilih untuk mengenakan jilbab di akad nikah nya.


"Kamu sangat cantik, sayang." puji sang ibu yang melihat anak perempuan nya mengenakan gaun pengantin lengkap dengan riasannya.


Raina hanya tersenyum mendengar pujian itu, kemudian dirinya tertunduk sedih.


"Hei, kenapa kok, kamu terlihat sedih begitu?" tanya Ibu Riska yang menyadari perubahan raut wajah Raina.


"Raina sedih, Bu. Dihari pernikahan Raina, bukan bapak yang langsung menikahkan Raina." jawab Raina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jangan bersedih sayang, nanti make up kamu luntur, lho. Percayalah bapak mu pasti bahagia diatas sana melihat anak perempuannya yang cantik ini akan menikah dengan orang yang tepat." ujar Ibu Riska.


"Tapi, Bu ... pernikahan ini, kan ...." ucap Raina yang langsung dihentikan oleh Ibu Riska.


"Sssttt ... jangan berfikir yang macam-macam lagi, percayalah pada Tuhan yang telah mengatur ini semua." ucap Ibu Riska yang masih menempelkan jari telunjuk nya di bibir Raina.


Terdengar langkah kaki memasuki kamar Raina.


"Ibu, Kak Raina, pengantin pria sudah datang. Bersiap lah." ucap Raka.


Ibu Riska dan Raina pun melihat kearah Raka dan bersama-sama menganggukan kepala.


"Hapus air matamu, jangan bersedih lagi. Sebentar lagi kamu akan jadi istrinya orang. Ibu gak mau melihat kamu bersedih dihari yang harusnya bahagia ini." ucap Ibu Riska.

__ADS_1


Satria beserta keluarganya sudah memasuki rumah Raina yang sudah didekor seindah mungkin. Dan dengan gagah nya Satria mengenakan beskap putih senada dengan Raina. Dirinya telah duduk menghadap sang penghulu.


Raina sudah dipersilahkan keluar dan duduk berdampingan dengan Satria. Satria tak henti-henti nya memandangi wajah pengantin wanita nya yang kini telah duduk disamping nya.


Aldo sebagai wali nikah untuk Raina sebagai kakak kandung yang menggantikan sang ayah pun sudah duduk disebelah penghulu berhadapan dengan Satria. Dan disudut kanan kiri sudah ada saksi-saksi dari pihak mempelai pria dan juga mempelai wanita.


Acara pernikahan ini memang sengaja dibuat sederhana tidak mengundang terlalu banyak orang, hanya tetangga sekitar rumah Raina, teman kerjanya dan kerabat terdekat. Begitu pun dengan Satria yang hanya mengundang beberapa orang saja dari rekan kerja nya. Meski pun yang diundang kerabat terdekat mereka, tetapi tidak ada yang mengetahui jika pengantin wanita nya telah hamil, hanya keluarga inti lah yang mengetahui hal tersebut.


Acara dimulai dengan pembukaan membaca Al-qur'an yang dibacakan langsung oleh Raka adik Raina, Raina tersentuh mendengar ayat demi ayat yang dilantunkan oleh Raka dengan suara merdu nya. Kemudian setelah itu dilanjutkan pembacaan khutbah nikah oleh penghulu. Setelah membaca khutbah nikah, ini lah yang ditunggu-tunggu oleh semua orang dan membuat sang calon pengantin menjadi deg degan.


Aldo sudah mulai bersiap untuk menikahkan adiknya, begitu pula dengan Satria yang sudah menjabat tangan Aldo untuk mengucapkan ijab kabul.


Aldo mulai mengucapkan shighot taukil dan menghentakan tangan Satria tanda Satria harus menerima dan menjawab dengan melafazkan ijab kabul. Dengan satu tarikan nafas Satria mampu mengucapkan nya dengan baik dan lancar. Dan para saksi pun mengucapkan kata sah secara bersamaan, lalu mengucapkan syukur karena sang pengantin pria telah berhasil mengucapkan nya pertanda kedua mempelai pengantin sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Jauh dibelakang dibalik kerumunan para tamu yang hadir ada sepasang mata yang sedari tadi juga mengikuti jalannya acara hingga pengucapan ijab kabul selesai. Ya, sepasang mata itu adalah milik Ridho. Ridho tetap menghadiri acara sakral sahabatnya itu. Meski masih dengan rasa sakit yang terselip, tapi dirinya mencoba merelakan gadis yang kini telah resmi menjadi istri dari sahabatnya itu.


"Sekarang, sematkan cincin nikah kalian dijari pasangan masing-masing." ucap Pak Penghulu.


Satria pun melakukan apa yang telah diperintahkan oleh sang penghulu, begitupun sebaliknya dengan Raina.


"Selanjutnya, serahkan mahar yang telah kamu pilih kepada istrimu." ucap Pak Penghulu lagi.


Satria pun kembali melakukan hal yang telah diperintahkan oleh penghulu dan Raina menerima dengan senyum tulus yang terukir dibibirnya.


Setelah itu, mereka pun disuruh saling berhadapan untuk sang pengantin wanita mencium tangan suami, sedangkan suami mencium kening istri. Semua tamu yang hadir bersorak dan membagikan momen bahagia itu dihandphone mereka masing-masing.


Wajah Raina menjadi merah merona, setelah Satria mendarat kan ciuman dikening nya. Begitu pula dengan Satria, ada sesuatu yang berdesir dihati nya saat dia mencium Raina.

__ADS_1


"Secepat ini kah, aku jatuh cinta padanya." batin Satria.


Kemudian momen yang mengharukan pun tiba, dimana kedua pengantin meminta restu kepada orang tua masing-masing. Yang sama-sama hanya tinggal seorang ibu yang mereka miliki. Dan keadaan ibu Santi yang memaksakan hadir menggunakan kursi roda demi melihat anaknya mengucapkan janji suci itu. Tak sedikit yang menyaksikan adegan sungkeman itu, membuat mereka juga ikut menitik kan air mata.


Acara hanya berlangsung hingga sore hari, semua para tamu undangan sangat menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh sang empunya acara.


Dari pihak keluarga Satria sudah pulang terlebih dahulu, hanya tertinggal Sandra yang masih menemani kakak sepupu nya dipelaminan.


Tak lama kemudian, Ridho pun mendekat ke arah kedua pengantin untuk memberikan selamat kepada keduanya.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut yang memisahkan kalian." ucap Ridho.


Raina hanya membalas dengan sebuah senyuman.


"Terimakasih, kamu mau hadir diacara ku ini." balas Satria.


"Untuk kamu, aku masih memegang janjimu. Jangan pernah sia-siakan dia. Buat dia bahagia." bisik Ridho ditelinga sahabatnya itu.


Satria tak mampu berbicara, dirinya hanya menepuk pundak sabahatnya itu. Ridho pun berlalu meninggalkan tempat acara.


Sementara Satria masih tak bergeming setelah mendapatkan mandat dari sahabatnya itu untuk membahagiakan gadis yang telah menjadi istrinya sekarang.


"Apakah aku bisa menghapus luka mu? Dan menggantikan nya dengan kebahagiaan? Aku akan berusaha menyayangimu." batin Satria sembari memandangi wajah Raina.


Mohon like, komen, vote serta berikan rate kalian 😁😁


Dukungan kalian semua sangat berharga untuk author agar lebih semangat lagi πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2