Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Perasaan Ridho


__ADS_3

Malam ini Raina terlihat sangat gelisah. Dia terus kepikiran dengan penawaran yang dibuat oleh pihak keluarga Satria.


"Ayo lah, Rai ... mantap kan hatimu. Semua demi si kecil yang ada diperutmu." gumam Raina sembari mengelus lembut perut buncit nya.


Raina memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali. Raina segera bangun dari pembaringan nya. Dan berjalan keluar kamarnya untuk mengambil air wudhu.


Telah lama dirinya menjauh dari Sang Pencipta, saat itu dirinya betul-betul merasa jika Tuhan sudah tidak berpihak lagi dengan nya. Yang menyebabkan Raina sering luput dari kewajibannya sebagai seorang hamba.


Setelah mensucikan dirinya dengan air wudhu, Raina segera melakukan sholat sunnah dua rakaat. Raina melakukan seperti yang telah dinasihati oleh ibunya.


Raina menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Sang Khalik dan tidak lupa pula dia meminta agar diberi keyakinan lebih atas keputusan yang sudah dia pilih.


Setelah bermunajat dengan Sang Penentu kehidupan, Raina sudah tidak merasa gelisah lagi dan dirinya merasakan kedamaian didalam hati nya dan perlahan-lahan Raina terlelap dalam tidurnya.


*********


Suara kokok ayam mulai terdengar, embun pagi membasahi dedaunan, udara pagi saat itu begitu menyejukkan.


Pagi-pagi sekali Raina sudah bangun, setelah melaksanakan sholat subuh dua rakaat, dirinya langsung menuju halaman depan rumah untuk menghirup udara segar pagi itu sembari menyiram bunga-bunga yang sempat terabaikan oleh nya.


Raina begitu telaten membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh disekitar tanaman bunga miliknya.


Ibu Riska tersenyum melihat semangat putrinya yang mulai bangkit kembali.


"Rai, apa kamu tidak bekerja? Bersiaplah dan segera sarapan!" ucap Ibu Riska setengah berteriak dari balik jendela dapur.


"Iya, Bu. Sebentar lagi." jawab Raina sembari membersihkan rumput-rumput yang telah ia cabuti dan membuang nya ke tempat sampah yang berada didepan pagar rumah Raina.


Dan saat Raina selesai membuang rerumputan itu, tak sengaja saat bersamaan ibu Ratna melintas didepan rumah Raina dan menyapa Raina.

__ADS_1


"Gak kerja, Rai?" tanya Ibu Ratna yang melihat Raina masih dengan pakaian tidur nya.


"Ini baru mau bersiap-siap, Bu. Tadi saya habis membersihkan taman bunga itu." jawab Raina sembari menunjuk taman kecil miliknya.


Mata ibu Ratna melihat Raina dari atas hingga ke bawah. Dan penglihatan nya terhenti pada perut Raina. Yang merasa aneh dengan postur tubuh gadis yang ada dihadapannya.


"Bukannya Raina langsing banget, ya? Kok, ini perutnya terlihat menonjol? Apa jangan ... jangan?"


Ibu Ratna menaikkan satu alis nya dan tetap memandang Raina dengan tatapan jijik. Raina yang merasa risih dengan tatapan bu Ratna pun segera berlalu meninggalkan ibu seribu bibir itu.


"Maaf, Bu. Saya masuk dulu mau mandi." ucap Raina.


"Hemm" jawab Ibu Ratna dengan senyuman sinis nya.


Ibu Ratna pun pergi setelah Raina meninggalkan nya.


"Ah, dapat topik terhangat lagi donk, aku pagi ini." gumamnya.


"Kenapa tuh muka kayak kue lapis, ketekuk gitu? Tadi kelihatannya ceria banget. Eh, ini masuk-masuk sambil cemberut." tanya Ibu Riska yang melihat perubahan wajah pada anaknya.


"Ehm, itu Bu, si ibu Ratna ... ngeliat Raina kayak ngeliat setan aja. Raina dilihatin dari ujung rambut sampai ujung kuku dengan mimik muka seperti orang jijik gitu." gerutu Raina.


"Oh, biarin aja gak usah di ambil hati. Kan, kamu tahu sendiri watak tetangga kita yang satu itu." ujar Ibu Riska.


"Tapi kan, bikin kesel, Bu. Sudah, ah! Raina mau mandi dulu." ucap Raina sembari berlalu menuju kamarnya.


Ibu Riska hanya menggeleng-geleng kan kepalanya melihat putrinya kesal akibat ulah si ratu gosip ibu Ratna.


Sementara itu dikamar Raina, dirinya berdiri didepan cermin yang tidak begitu besar, namun bisa memperlihatkan anggota badan Raina hingga ke perut.

__ADS_1


Raina hanya mengenakan handuk yang ia balutkan ditubuhnya. Dirinya melihat perubahan pada bentuk tubuhnya yang kian hari bentuk perutnya semakin menonjol.


"Tak terasa sebentar lagi anak bunda mau empat bulan. Sehat-sehat ya sayang, kamu didalam sana. Ibu akan berjuang untuk masa depan mu, agar status mu sebagai anak dari keluarga Sanjaya dapat diakui." gumam Raina sembari mengelus lembut perutnya dan tak terasa bulir bening jatuh dari sudut matanya.


Namun, Raina segera menyeka nya. Dirinya tidak ingin berlarut dalam kesedihan lagi. Kali ini dirinya harus kuat. Dan dirinya pun sudah mantap atas keputusan yang telah ia ambil.


Raina segera memakai seragam kerjanya, kemudian menikmati sarapan pagi nya bersama dengan ibu dan kedua saudara laki-laki nya.


Dan Ibu Riska menyempatkan diri untuk mengantar kan Raka ke sekolahnya dan Raina menuju tempat kerjanya.


**********


Didalam mobil diperjalanan yang lain, Ridho juga merasakan bahagia dihati nya. Hari ini dirinya berencana untuk bertemu dengan Satria untuk membahas keputusannya menikahi Raina.


Segera ia raih handphone nya dari saku celana nya, mencari nama Satria didalam kontak telepon nya dan kemudian melakukan panggilan ke nomor tersebut.


Tak butuh waktu lama menunggu karena Satria langsung menjawab panggilan nya.


[Hallo, Do ... ada apa? Tumben kamu menelepon ku pagi-pagi begini]


[Hahaha, maaf mengganggu waktu mu. Aku mau kita ketemu dicafe biasa jam makan siang nanti. Ada yang ingin aku sampaikan padamu.]


[Terdengar dari suaranya, sepertinya ada yang lagi bahagia, nih. Ayo bicara saja disini.]


[Ah, gak asik lah ... enaknya kita berbicara secara langsung. Aku tunggu jam makan siang nanti.]


Belum sempat Satria membalas ucapan sahabatnya itu, Ridho telah lebih dulu memutuskan panggilannya.


Senyum bahagia terukir diwajahnya. Dan beberapa jam lagi dirinya akan mengutarakan maksud hatinya kepada sahabatnya itu agar dapat merestui keinginan nya untuk mempersunting gadis impian nya.

__ADS_1


Bayang-bayang pernikahan sudah menghiasi pikirannya.


Mohon like, komen dan vote untuk mendukung author agar lebih semangat lagi πŸ˜πŸ™


__ADS_2