Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Hanya Masa Lalu


__ADS_3

Satria sudah mengendarai sepeda motornya dijalan besar, tujuan pertamanya adalah pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk memberitahukan pada istrinya, lalu dia akan ke rumah mamahnya untuk mengambil keperluan mamah dan juga adiknya.


Sesampainya dirumah sewaannya, Satria langsung memarkirkan sepeda motornya dan segera masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum ...." ucapnya saat memasuki rumah.


"Walaikumsalam, Ayah." balas Raina yang menyambut kedatangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu penuh takzim.


Terlihat kekhawatiran diraut wajah Raina, tentu dirinya turut merasa khawatir karena sudah mengetahui kabar berita kecelakaan adik iparnya dari Sandra.


"Ayah sudah dari rumah sakit, sekarang Ayah mau ganti baju dulu. Setelah itu, Ayah akan mengambilkan beberapa keperluan mamah dan juga Bara selama berada disana." ucap Satria seolah mengerti apa yang ada dipikiran istrinya.


"Oh iya, Yah." Raina pun dengan cepat menyiapkan baju yang akan dikenakan oleh suaminya.


"Ayah akan menginap disana, menjaga mamah dan juga Bara." ucap Satria sembari mengganti pakaiannya.


"Hmmm, Yah ... apa lebih baik jika mamah gak usah ikut menunggu Bara? Kasihan mamah, lebih baik kita aja yang gantian menjaga Bara." usul Raina.


Dirinya memang belum mengetahui jika mertuanya juga sekarang ikut diopname dirumah sakit.


"Mamah juga diopname dirumah sakit yang sama dengan Bara, mamah langsung drop waktu dengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Bara." balas Satria.


"Astagfirullah! Ya sudah, kalau gitu Bunda ikut ke rumah sakit. Kita bagi tugas jaga mamah dan Bara." ucap Raina.


"Kamu yakin, Bun?" tanya Satria dengan menatap wajah teduh Raina.


Dia tahu, bahwa istrinya itu masih merasa takut tidak diterima lagi jika kembali bertemu dengan mamahnya.


"Yah, gak ada waktu untuk membahas itu. Biarlah semua berjalan dengan apa adanya. Bagaimana pun juga mamah kamu adalah mertua aku. Semoga dengan cara seperti ini, beliau dapat menerima kita kembali." jawab Raina.


"Terimakasih, sayang. Kamu sudah mau mengerti dengan keadaan yang menimpa keluargaku. Lalu, bagaimana dengan Al?" tanya Satria lagi.


"Untuk sementara, biar Al sama neneknya dulu." jawab Raina.


Satria setuju dengan usul istrinya, Al sekarang sudah tidak bergantung pada ASI lagi, karena Raina sudah menyelinginya dengan memberikan susu formula pada Al. Sehingga membuatnya bisa meninggalkan Al dengan menitipkan anaknya itu pada ibunya.


Keduanya pun sudah bersiap, pertama kali yang mereka lakukan adalah mengantarkan Al terlebih dahulu kerumah ibunya Raina. Satria sudah menghubungi Bi Darsih untuk meminta tolong menyiapkan perlengkapan mamahnya dan juga Bara yang akan ia bawa ke rumah sakit. Karena dengan begitu, bisa menghemat waktunya.


*********


Sementara itu dirumah sakit, bunda Eva berbincang-bincang dengan keluarga Dino. Sesekali bunda juga memperhatikan Erlina yang masih berada disana dengan orangtuanya.


"Apa ini tantenya Satria yang punya resto itu, ya?" batin Erlina sembari sesekali melihat ke arah bunda Eva.


"Apa ini perempuan yang dikatakan oleh Sandra? Yang mereka temui waktu dirumah sakit mengantar Raina kontrol? Apa jangan-jangan, dia mantannya Satria, ya? Karena kalau dilihat-lihat mereka semua seperti mengenal Satria dengan dekat." Bunda Eva bertanya-tanya sendiri didalam hatinya.


"Tante, apa saya boleh melihat keadaan tante Santi?" tanya Erlina memecahkan lamunan bunda Eva.

__ADS_1


"Eh, iya. Tentu saja boleh." jawab Bunda Eva tergagap.


"Kalau boleh tahu, dimana kamar perawatannya?" tanya Erlina lagi.


"Diruang mawar nomor 202." jawab Bunda Eva cepat.


"Terimakasih, tante." ucap Erlina.


"Lin, apa kamu akan menemui mamahnya Satria sendiri?" tanya Ibu Ros.


"Iya, Mah. Memangnya kenapa? Atau Mamah dan Papah juga akan menemui beliau?" Erlina balik bertanya pada kedua orangtuanya.


"Boleh. Lebih baik kita sama-sama saja menengoknya." usul Pak Hendrawan.


"Ok." sahut Erlina.


"Kalau begitu, kami pamit menengok orangtuanya Bara dulu ya, Bu. Dan sekalian kami langsung pamit pulang setelah itu." ucap Ibu Ros pada Bunda Eva.


"Iya, Bu." balas Bunda Eva dengan tersenyum ramah.


"Kalau ada apa-apa dengan Bara, langsung saja hubungi saya, Bu." ucap Pak Hendrawan sembari menyerahkan kartu namanya pada Bunda Eva.


"Oh iya, Pak. Terimakasih." Bunda Eva pun menerima kartu nama tersebut.


Ketiga orang itu pun pergi meninggalkan bunda Eva sendiri diruang tunggu IGD.


Hanya ada Sandra yang menemani didalam ruangan itu.


"Assalamualaikum ...." ucap mereka bertiga bersamaan.


"Walaikumsalam ...." balas Sandra dan menengok pada orang yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan budenya.


Sandra terkejut saat melihat perempuan muda yang melangkah maju ke arah kasur budenya.


"Bukannya, dia yang waktu itu dirumah sakit itu? Mau apa dia disini? Apa dia juga bertugas dirumah sakit ini?" batin Sandra.


"Perkenalkan, saya Erlina dan ini kedua orangtua saya. Kami keluarga dari Mas Dino." ucap Erlina memperkenalkan dirinya dan juga kedua orangtuanya.


Sandra pun membalas perkenalan ketiga orang yang ada dihadapannya ini dengan sopan.


"Bagaimana dengan kondisi ibunya?" tanya Ibu Ros.


"Bude baru saja tertidur, setelah minum obat yang diberikan oleh dokter." jawab Sandra.


"Oh gitu, beliau memang harus banyak beristirahat dan tidak boleh terlalu berfikir dengan keras." ucap Pak Hendrawan.


"Beberapa bulan yang lalu, Lin sempat menjadi dokter pribadi beliau. Dan saat beliau sudah merasa lebih baik dan kembali sehat, Lin tidak melanjutkan menjadi dokter pribadinya lagi." ucap Erlina.

__ADS_1


Kedua orangtuanya saling berpandangan, banyak hal yang ingin sekali mereka tanyakan pada anak perempuannya itu. Mereka baru tahu, jika anak mereka pernah mengurus ibu dari mantan kekasih anaknya itu.


Namun, mereka urungkan niat mereka untuk bertanya karena ada Sandra dan juga tidak apik bila membahas hal tersebut didepan orang yang sedang sakit.


Tak lama kemudian, terdengar pintu yang di ketuk dan muncullah Satria bersama dengan Raina.


Raina menatap Erlina yang berdiri tepat diujung kasur mertuanya. Dan kemudian langsung menundukkan kepalanya.


"Assalamualaikum, semuanya." ucap Satria.


"Walaikumsalam ...." balas semuanya.


"Om, Tante ... Lin. Sudah lama disini?" tanya Satria berbasa-basi.


"Tidak, baru saja. Kami ingin melihat kondisi mamahmu sekalian ingin berpamitan, tapi ternyata beliau sedang tidur." jawab Pak Hendrawan.


"Oh, begitu. Terimakasih Om dan Tante serta Erlina sudah meluangkan waktunya untuk kesini." ucap Satria.


"Iya, sama-sama. Ini semua karena anak Om, jadi sudah seharusnya kami juga turut memperhatikan adik serta mamah kamu. Oh ya, ini istri kamu?" Pak Hendrawan tertuju pada Raina yang berdiri dibelakang Sandra.


"Iya, Om." jawab Satria cepat.


"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, ya. Mamah kamu juga lagi tidur. Beliau butuh banyak istirahat, kami tidak enak bila mengganggu istirahatnya." pamit Pak Hendrawan.


"Iya Om." jawab Satria.


Sebenarnya bukan hanya karena itu alasannya, Pak Hendrawan sengaja berpamitan lebih cepat karena atmosfer ruangan tersebut sudah tidak baik bagi anaknya. Dia tahu betapa sayang dan cintanya anak perempuannya itu pada Satria dan betapa susahnya anak perempuannya itu mencoba untuk melupakan lelaki yang kini sudah resmi menjadi suami orang lain.


Dia tidak ingin melihat Erlina kembali bersedih setelah pertemuannya kembali dengan Satria dan juga istri dari Satria itu.


Erlina dan Raina sama-sama merasakan sesak di dada mereka. Meski keduanya sama-sama bersikap setenang mungkin dan meskipun Erlina juga sudah melupakan Satria, tapi hatinya masih belum bisa diajak untuk berdamai dengan keadaan dan kenyataan.


Erlina dan kedua orangtuanya pun langsung keluar dari ruang perawatan ibu Santi setelah mereka berpamitan dengan Satria dan juga kedua perempuan muda yang ada didalam sana.


"Kamu yang kuat dan sabar ya, sayang. Jodoh dan maut itu sudah ada yang mengaturnya. Kamu harus bisa ikhlas dengan apa yang sudah terjadi." ucap Ibu Ros sembari menggenggam erat tangan anaknya.


"Hahaha, Mamah ngomong apa, sih? Mamah dan Papah tenang aja, Lin baik-baik aja, kok." ucap Erlina membohongi dirinya sendiri.


Ibu Ros yang ingin kembali bersuara, langsung dicegah suaminya untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Karena dirinya tahu, bahwa Erlina sedang mencoba tegar dan menyembunyikan rasa sakitnya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian berkenan, silahkan berikan tip kalian untuk author 😜


__ADS_2