Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kejujuran Gina


__ADS_3

"Raina! Kamu kenapa, Rai?" panggil Gina.


Tak ku hiraukan lagi panggilan nya, aku terus berjalan dengan langkah cepat memasuki toilet.


"Ahh, kenapa dia harus lihat aku yang seperti ini, sih?" batinku ketika melewati Gina.


Ku tatap wajah ku dicermin, nampak kantung mata yang terlihat membengkak akibat aku terus menangis.


"Kenapa sih, air mata ini gak mau berhenti dari tadi?" gerutuku sembari membasuh wajahku agar tidak terlihat terlalu berantakan.


Jegkrek,


Terdengar suara pintu toilet terbuka. Ku lihat dari cermin Gina yang sudah berdiri di balik pintu dan mulai mendekatiku.


"Rai, kamu gak kenapa-kenapa, kan?" tanya nya dengan hati-hati sembari menyentuh bahuku.


Aku tidak bergeming, masih berdiri tegak di depan cermin menatap diriku sendiri. Tanpa diberi aba-aba air mata ini kembali mengalir dengan sendirinya.


"Ahh, sebegini sensitif nya sih, aku?" Kembali aku menggerutu. Entah kenapa sesuatu yang menyangkut perasaan aku selalu sensitif.


"Rai ...." Gina kembali menyentuh bahuku.

__ADS_1


Dengan spontan aku langsung memeluk dirinya yang berada disamping ku dan tangisku kembali pecah.


"Nangis aja, Rai ... sampai hatimu benar-benar merasa lega." ucap Gina sembari menepuk lembut punggungku.


"Mas Awan, Gin ...." ucapku lirih dengan disertai sesenggukan akibat menahan tangis.


Aku menggantung ucapanku, mengingat bagaimana mesra nya mereka berdua siang tadi.


"Apa aku cerita aja ya, ke Gina. Gimana Mas Awan sebenarnya? Ah ... bukannya dia sama aja jahat nya sama Mas Awan, diam-diam dia punya hubungan dengan Mas Awan meski dia tahu saat itu kalau aku menyukai Mas Awan." batinku.


Aku masih menimbang dan mengingat lagi rentetan kejadian-kejadian sebelum ini terjadi. Bagaimana tatapan tajam Gina saat melihat Mas Awan mendekatiku dan bagaimana sikapnya yang tiba-tiba baik denganku.


"Apa mungkin mereka sudah punya hubungan khusus sebelum aku bekerja disini? Berarti selama ini Gina dekat denganku hanya sebatas ingin tahu bagaimana aku dengan Mas Awan? Ahhh ... terlalu bodoh nya aku baru menyadari nya sekarang." umpatku didalam hati.


"Kenapa, Rai? Apa kamu sudah ngerasa baikan?" tanya nya dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Sudahlah, Gin, kamu gak usah pura-pura baik lagi di depanku." ucapku ketus.


"Maksud kamu apa, Rai?" tanya nya.


"Apa maksud mu yang tiba-tiba baik sama aku? Padahal aku tau dari awal aku masuk kerja disini tiap kali mas Awan dekat sama aku, kamu selalu memandang kami gak suka." Gina terdiam.

__ADS_1


"Ada hubungan apa sebenarnya kamu sama dia? Kenapa kamu peluk mas Awan mesra banget diparkiran tadi waktu kamu liat aku datang? Kamu sengaja panas-panasin aku, kan? Bahkan kamu tahu perasaanku gimana ke mas Awan. Kamu sengaja dekatin aku, manfaatin aku, ngorek-ngorek informasi dari aku, buat apa, Gin?"


Terlihat wajahnya terkejut saat aku terus melontarkan ucapanku.


"Betapa bodoh nya aku yang baru menyadari nya sekarang, bodoh nya diriku yang dengan sangat mudahnya bisa langsung percaya sama sikap mu saat itu." umpatku.


Tanpa ku sadari tubuhku bergetar, betapa emosi ini meluap-luap hingga bisa memberiku kekuatan untuk bicara seperti ini.


Sementara Gina, dia masih terdiam di tempatnya berdiri dengan wajah yang terlihat dia bersedih.


"Cih, kenapa jadi dia yang mau nangis? Kan disini aku yang lagi bersedih."gerutuku dalam hati.


Ku lihat setitik bulir bening yang jatuh di pipinya.


"Raina ... maafin aku yang dari awal gak cerita yang sejujurnya ke kamu." ucapnya sembari perlahan mendekatiku.


Dengan berderai air mata, Gina mulai menjelaskan semua alasan kenapa dia melakukan ini semua. Betapa terkejut nya aku mendengar penjelasan nya.


Dan aku pun menceritakan apa yang sudah diucapkan mas Awan kepadaku hingga membuatku menangis. Sama halnya dengan diriku, dia pun ikut terkejut atas apa yang terjadi denganku


Bersambung....

__ADS_1


Jadi disini Raina dan Gina sama-sama jadi kebusukannya Mas Awan 😒😒


__ADS_2