Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Mahar + Seserahan


__ADS_3

"Mamah ...." sapa Satria yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mamah nya.


Sementara Raina masih terpaku didepan pintu.


"Mari sini sayang, jangan gugup seperti itu." ucap Ibu Santi menyuruh Raina mendekat kepadanya.


"Assalamualaikum, Bu ...." sapa Raina dan mencium tangan ibu Santi dengan takzim.


"Walaikumsalam ... benar rupanya, apa yang dikatakan Bi Darsih. Kamu memang cantik." ucap Ibu Santi dan tersenyum ramah kepada Raina.


"Jangan terlalu memuji saya, Bu. Saya biasa aja, kok." ucap Raina mencoba mengakrabkan dirinya dengan calon ibu mertuanya.


"Jangan panggil saya ibu, panggil saya mamah sama seperti Satria. Karena kamu sebentar lagi akan menikah dengan Satria." balas Ibu Riska tersenyum kearah Raina.


Raina pun juga membalasnya dengan senyuman yang sangat manis.


"Bagaimana kesehatan mamah? Apa sudah mulai membaik?" tanya Raina sembari memijat kaki ibu Santi.


"Seperti yang kamu lihat, sekarang mamah belum bisa beraktifitas seperti biasanya, mamah sangat lemah jika terlalu lama berdiri dan tidur pun harus minum obat tidur dulu baru bisa tidur dengan nyenyak." jawab Ibu Riska sembari tersenyum getir mengingat keadaan nya yang tak lagi seprima sebelum dirinya terkena serangan jantung.


Sementara Satria membiarkan Raina dan mamahnya berbincang, agar dapat saling akrab antar keduanya.


"Bagaimana dengan proses pendaftaran pernikahan kalian tadi?" tanya Ibu Santi.

__ADS_1


"Masih ada yang belum diisi, Mah. Tanggal pernikahan nanti Satria belum dapat kepastian dari pakde Suseno dan Satria juga bingung ingin memberi mahar apa pada Raina." jawab Satria.


"Segera kamu tanyakan lagi pada pakde mu itu. Dan untuk mahar kamu mau uang atau seperangkat alat sholat, Nak?" tanya Ibu Santi pada Raina.


"Raina terserah dengan Mas Satria aja, Mah. Apa pun yang Mas Satria berikan, Raina akan menerimanya." jawab Raina.


"Kalau uang yang diberikan Satria, kamu boleh menyimpan atau menggunakan untuk kepribadian mu sendiri dan Satria tidak boleh ikut memakan atau menggunakan makanan atau pun barang yang telah kamu beli menggunakan uang itu. Sedangkan jika Satria memberimu seperangkat alat sholat, itu berarti kamu harus menggunakannya, karena setiap mahar yang telah diberikan oleh suami akan dipertanggungjawabkan kelak diakhirat. Maka dari itu jangan terlalu berat memberikan mahar, karena semua ada pertanggungjawabannya." ungkap Ibu Santi memberi wejangan kepada kedua orang yang ada dihadapannya.


"Ya sudah, Satria akan memberikan keduanya untuk mahar, uang dan seperangkat alat sholat." ucap Satria.


"Kamu yakin?" tanya Ibu Santi kepada anaknya.


"Iya, Mah. Satria yakin." jawab Satria.


"Tak perlu cincin nikah, Mah. Uang dan seperangkat sholat itu saja sudah cukup." jawab Raina.


"Harus ada cincin nikah sayang, karena itu sebagai bentuk pengikat antara kalian berdua." balas ibu Santi.


Satria dan Raina pun saling berpandangan.


"Andai mamah tahu, Mas Satria hanya bertanggungjawab atas anak yang aku kandung saja agar dapat memperoleh status yang jelas dikeluarga Sanjaya. Sedangkan selanjutnya, entah akan berlanjut atau berakhir setelah anak ini lahir."


Wajah Raina tertunduk sedih, mengingat status pernikahan nya kelak.

__ADS_1


"Tapi, Mah ...." ucap Satria yang mencoba mengingat kan kembali sang mamah.


"Kita tak pernah tahu jodoh, rejeki dan maut sudah ada Tuhan yang mengatur nya. Jika kalian memang berjodoh melalui jalan takdir Tuhan seperti ini, siapa yang bisa menolak?" ungkap ibu Santi.


"Ikuti saja jalan takdir yang sudah diberikan oleh Tuhan, kita tidak pernah tahu kehidupan selanjutnya seperti apa. Semua pasti sudah ada hikmah nya dibalik ini semua, Nak." tambah Ibu Santi menguatkan Satria dan Raina. Dirinya pun sudah mencoba berbesar hati dengan apa yang sudah terjadi dengan anak-anaknya.


Semua hening larut dalam pikiran masing-masing.


"Besok kalian cari semua keperluan untuk mahar dan seserahannya." ucap Ibu Santi memecahkan keheningan.


"Apa lagi itu seserahan?" tanya Satria yang bingung.


"Seserahan itu segala kebutuhan Raina dari ujung rambut hingga ujung kakinya, dan dari luar hingga dalam yang dipakai dan dibutuhkan oleh Raina. Kamu harus memberikan itu kepada Raina. Tak elok kalau pihak lelaki tidak memberikan itu pada pengantin wanita. Kamu tanyakan lagi lah sama bunda mu apa saja yang harus dibawa untuk seserahan selain keperluan untuk Raina." jawab Ibu Santi.


Satria hanya menganggukan kepalanya patuh mendengar semua ucapan sang mamah.


"Tidak usah terlalu berlebihan, Mah. Toh, nanti acaranya juga bukan acara yang besar hanya acara sederhana saja." ucap Raina.


"Tidak apa, sayang. Meskipun pernikahan kalian digelar secara sederhana, setidaknya ada yang berkesan dihari pernikahan mu nanti." balas Ibu Santi.


Raina terharu mendengar ucapan sang calon ibu mertua yang begitu sangat perhatian dengannya, meskipun rencana pernikahan mereka hanya akan digelar dengan sederhana tetapi calon mertuanya begitu antusias untuk memberikan yang terbaik untuk calon menantu nya.


Mohon berikan like, komen, vote terbanyak kalian serta berikan rate untuk karya author ya 😁

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berharga untuk author agar semakin semangat πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2