
Mereka pun saling berpamitan, Yumna pun turut mengantarkan pasangan Satria dan Raina itu hingga diambang pintu ruangannya.
"Kalian ini klien istimewa, sampai saya harus mengantarkan kalian ke depan pintu seperti ini." ucap Yumna sembari terkekeh.
"Hahaha, bisa saja Bu dokter ini. Kami sangat berterimakasih kasih karena kami sudah diistimewakan oleh Bu dokter." balas Satria juga dengan tertawa.
Semua ikutan terkekeh dan sekali lagi, mereka pun saling berpamitan untuk kedua kalinya. Raina sudah merasa dekat dengan Yumna, bukan hanya sekedar hubungan antara pasien dengan dokternya, tapi Raina merasakan memiliki kakak perempuan karena sifat Yumna yang mengayomi.
"Mas Satria ...." panggil seseorang dengan suara yang lirih.
Semua mata tertuju ke arah orang yang telah memanggil nama Satria. Orang itu tak bisa menyembunyikan perasaannya melalui tatapan penuh maknanya kepada Satria. Meskipun dia sudah berusaha untuk menerima kenyataan bahwa memang sudah tidak ada ruang dihati lelaki itu untuknya.
Dan mencoba melupakan apa yang sudah pernah terjadi dengan dirinya dan lelaki itu, tapi tak dipungkiri bahwa saat kembali bertemu tatapan itu masih menyimpan sejuta kerinduan disana.
Yumna yang memperhatikan ekspresi dan tatapan sahabatnya itu pada suami pasiennya, sekarang mulai mengerti kenapa saat itu sahabatnya itu begitu antusias ingin mendengarkan dan selalu bertanya padanya tentang masalah apa yang dihadapi pasiennya yang tak lain adalah Raina.
Yumna mengerti, jika sahabatnya itu pasti pernah ada hubungan dimasa lalu dengan lelaki yang sudah berkeluarga ini.
"Hai, Lin." balas Satria yang mencoba berusaha setenang mungkin membalas sapaan orang yang telah memanggilnya yang tak lain adalah Erlina.
Erlina kembali menatap ke arah Raina.
"Hai, salam kenal. Pasti kamu, istrinya Mas Satria, kan?" ucap Erlina sembari tersenyum ramah pada Raina dan mencoba menenangkan hatinya dan bersikap normal dihadapan semua orang.
"Iya." jawab Raina dan tetap membalas senyuman Erlina.
"Maaf, kami harus pulang sekarang." pamit Satria lagi yang diberi anggukan oleh Yumna dan juga Erlina.
Setelah kepergian Satria beserta keluarga kecilnya, Yumna menatap lekat wajah sahabatnya itu yang masih berdiri memandang kepergian pasangan suami dan istri itu.
"Ekhem, mau sampai kapan bengong dan berdiri disitu?" tanya Yumna.
Erlina yang kaget dengan deheman Yumna, hanya tersenyum kikuk ke arah sahabatnya itu.
"Ikhlaskan ... dia sudah miliknya orang lain. Percayalah, suatu saat akan ada jodoh yang tepat untukmu. Ayo, bangkit dan move on." sindir Yumna.
"Apaan, sih?" elak Erlina.
Yumna hanya terkekeh melihat ekspresi wajah sahabatnya yang masih saja menutupi perasaannya saat ini. Yumna pun berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangannya, begitu pula dengan Erlina yang meninggalkan tempatnya berdiri.
Raina, Sandra dan Satria serta Al yang kini berada didalam gendongan Satria, mereka berjalan keluar secara beriringan melewati koridor-koridor rumah sakit. Betapa bahagianya Satria bisa kembali menggendong anak lelakinya itu. Tak habisnya dia terus menciumi pipi chuby milik Al.
Raina sesekali hanya melempar senyum saat melihat Al yang tertawa geli karena terus-terusan dicium oleh Satria.
Sesampainya di pelataran parkir rumah sakit, Sandra langsung memberikan kunci mobilnya pada Satria. Satria pun tampak bingung dengan adik sepupunya itu.
"Nih, bawa mobilku. Biar aku yang bawa sepeda motor Mas Satria. Mana kuncinya?" ucap Sandra sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Satria dan meminta kunci sepeda motor kakak sepupunya itu.
"Kenapa?" Satria yang bingung itu pun balik bertanya pada adik sepupunya.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa? Biar Mas gak kabur dari janji, dirumah juga sudah ada pakde Suseno dan juga bunda yang menunggu Mas disana." jawab Sandra dengan nada ketusnya.
Satria menepuk dahinya setelah mendengar alasan dari adik sepupunya itu. Dia hanya pasrah dan menyerahkan kunci sepeda motornya itu pada adik sepupunya itu.
Memang sebelumnya Sandra sudah menghubungi bundanya memberitahukan tentang pertemuan Satria dan Raina dirumah sakit dan juga pernyataan cinta Satria kepada Raina. Sandra juga meminta bundanya untuk menghubungi pakdenya itu untuk menindak Satria.
Sandra tersenyum licik saat menerima kunci sepeda motor milik kakak sepupunya itu.
"Hahahah, ****** lo, Mas. Bakal disidang sama bunda dan juga pakde." batin Sandra.
********
Dikediaman bunda Eva, pakde Suseno sudah datang setelah diberi kabar dan diceritakan oleh adiknya itu mengenai masalah keponakannya.
"Kenapa lagi dengan mereka itu? Tak ada selesai-selesainya." gerutu Pakde Suseno.
"Ya, masalahnya ada dikeponakanmu itu, Mas. Sampai Raina pergi dari rumah seperti ini. Terus sekarang Satrianya yang mengejar-ngejar Raina." tutur Bunda Eva.
"Aneh-aneh saja." Pakde Suseno hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari adiknya.
"Kita tunggu saja mereka datang. Kita langsung sidak saja Mas, Satrianya. Biar tidak terus-terusan membuat Raina kecewa lagi." ucap Bunda Eva.
Pakde Suseno hanya menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan adiknya.
"Sabar, Bun. Bunda sudah seperti Sandra saja, bicaranya pake urat." ejek Pak Ridwan pada istrinya.
"Bunda kan, ibunya. Ya, jelas sama lah ... sama anaknya." Bunda Eva mengerucutkan bibirnya, membuat suaminya itu terkekeh melihat tingkah istrinya yang lagi cemberut.
*******
"Kenapa secepat ini? Apa semua yang dia katakan benar-benar tulus dari hatinya? Atau hanya karena ada Sandra dan dokter Yumna, membuat dirinya tidak ingin mengecewakan diriku dihadapan orang lain?" batin Raina.
Pikiran dan hati Raina masih mempertanyakan ketulusan Satria. Karena Satria yang selalu terus-menerus membuatnya kecewa, hingga dirinya meragukan Satria.
Meski Raina telah melihat sendiri bagaimana Satria memperlakukan dirinya begitu mesra dihadapan Erlina dan tidak lagi membalas tatapan Erlina seperti saat pertama kali Raina melihat mereka saling bertatap muka saat itu.
Raina menghela nafasnya kasar, setelah memikirkan konflik hatinya yang tak berujung.
Satria kembali menatap Raina, seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Raina.
"Aku tahu, dirimu pasti masih meragukan ketulusan cinta ini. Maafkan diriku yang sudah memupuskan harapanmu saat itu. Cinta ini kini sudah tumbuh untukmu, Raina. Meski hadirnya terlambat. Aku akan melakukan apa pun untukmu, agar dirimu bisa kembali percaya padaku." ucap Satria sembari menggenggam erat tangan Raina.
Raina terkejut saat mendengar apa yang telah diucapkan oleh Satria yang mengerti kegalauan hatinya. Raina membiarkan tangannya berada pada genggaman Satria, tanpa melepaskan tangannya itu. Raina meresapi rasa hangat yang menjalar begitu saja dari genggaman tangan Satria.
Tak lama kemudian, mobil yang di kemudikan oleh Satria sudah memasuki pekarangan rumah bunda Eva. Yang disusul oleh Sandra dibelakangnya yang mengendarai sepeda motor kakak sepupunya itu.
Mereka pun bersama-sama memasuki rumah dan langsung menuju ruang keluarga, karena disana sudah ada bunda Eva, pakde Suseno dan juga ayah Ridwan yang menanti kedatangan mereka.
"Assalamualaikum ...." ucap Sandra, Raina dan juga Satria secara bersamaan.
__ADS_1
"Walaikumsalam ...." balas ketiga orang tua itu.
"Permisi semuanya, Raina ke atas dulu, ya. Mau meletakkan Al dikasur." ucap Raina meminta izin pada semuanya.
"Biarkan saja Al tidur disofa dulu, Rai. Kasihan kalau harus kamu tinggal sendirian diatas. Biar Sandra mengambilkan alas tidur Al." sahut Bunda Eva.
Raina hanya menurut tanpa membantah ucapan bunda Eva. Sementara Sandra langsung bergegas mengambil apa yang sudah disuruh oleh bundanya.
Setelah semua sudah lengkap, mata bunda Eva langsung tertuju pada Raina dan juga Sandra anaknya. Bunda Eva ingin tahu alasan dari kedua perempuan muda yang ada dihadapannya ini yang sudah membohongi dirinya.
Raina dan Sandra yang mendapatkan tatapan tajam dari bundanya itu merasa bingung dan menjadi salah tingkah.
"Kenapa kalian bohong sama Bunda?" tuduh Bunda Eva.
"Bohong? Ehm, bohong apa sih, Bun?" Sandra mencoba pura-pura tidak tahu, sedangkan Raina hanya diam tanpa membantah karena dirinya sudah merasa bersalah dari awal.
"Kalian tidak membawa Al imunisasi, kan? Al baru saja berumur delapan bulan, sedangkan imunisasi bayi setelah umur empat bulan terus dilanjutkan saat bayi berumur sembilan bulan. Lalu kalian kemana?" Bunda Eva mencecar kedua anak perempuan itu dengan berbagai pertanyaan.
Sementara ketiga orang pria hanya diam saja, karena mereka tidak tahu masalah yang sedang dibahas oleh ketiga wanita itu.
" Ehm, ini semua salah Raina, Bun. Raina yang sudah tidak jujur dengan Bunda." ucap Raina dengan kepala tertunduk.
"Gak, Rai. Ini salahku juga, karena aku yang membuat alasan itu." timpal Sandra.
"Kalian berdua sudah salah, karena sudah berbohong dan membawa-bawa Al yang tidak tahu apa-apa sebagai alasan kebohongan kalian. Sekarang jelaskan pada bunda, kalian kemana sebenarnya dan kenapa sampai bisa bertemu dengan Satria?" Bunda Eva kembali mengulang pertanyaannya.
Satria mengerti arah pembicaraan bunda Eva. Dan dia paham kenapa kedua perempuan itu sudah berbohong, pasti Raina tidak ingin bunda Eva mengetahui jika dirinya sedang mengalami depresi.
"Kita ke rumah sakit, Bun. Meski memang bukan untuk membawa Al imunisasi, tapi ...." Sandra menggantungkan omongannya dan menatap Raina.
Raina yang mendapatkan tatapan dari Sandra, akhirnya membuka suara menceritakan apa yang telah ia tutupi.
"Raina yang meminta Sandra untuk menemani Raina menemui dokter psikiater, Raina tidak ingin bunda mengetahui apa yang sedang Raina alami. Karena kalau bunda tahu, bunda pasti akan semakin marah dengan Mas Satria." ucap Raina.
"Raina mengalami postpartum depression, Bun. Dan ini sudah kunjungan keduanya Raina dengan dokter psikiaternya." Sandra akhirnya memberitahukan pada bundanya apa yang telah dialami sahabatnya itu.
"Astagfirullah ...." ucap Bunda Eva, Pakde Suseno dan juga Ayah Ridwan bersamaan, lalu semua memandang Satria dengan tatapan marah.
Satria sudah menerima dengan ikhlas, jika pakde dan juga bundanya akan memarahi dirinya, karena memang dia sadar akan kesalahannya
" Satria? Masih ingin menyakiti Raina lagi? Kenapa Sat? Kamu sudah jadi suami yang dzolim pada istrimu sendiri. Bunda sudah bilang padamu, jika tidak ingin membuat Raina kecewa dan sakit hati lebih baik kamu lepaskan dia. Kamu tidak hanya menghancurkan hatinya, tapi juga mentalnya. Kamu sama mamahmu gak jauh beda, kalau begini." Bunda Eva meluapkan emosinya pada keponakannya itu.
Meskipun terasa sakit dihatinya, saat bunda Eva menyebutkan mamahnya, tapi Satria hanya diam dan tak membantah satu kata pun karena memang semua berawal dari kesalahan mamahnya dan juga kesalahan dirinya yang menyebabkan Raina seperti itu.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π