
Sebulan sejak kejadian itu, Raina sudah berangsur membaik, dirinya berusaha keras untuk mencoba menyembuhkan dirinya dari ketakutan atas trauma nya. Meskipun, masih ada jarak antara dirinya dengan Ridho.
Dan rencana Gina dan Ridho yang ingin mencari tahu tentang Raina pun tidak berbuah manis. Pasalnya, Raina yang masih tetap bungkam. Dan lambat laun pun, mereka berdua sudah melupakan apa yang telah mereka rencanakan.
Raina tetap beraktivitas seperti biasa nya, dan rencana Raina untuk melanjutkan pendidikan nya tetap ia lanjutkan. Raina mulai mendaftarkan dirinya ke perguruan tinggi negeri dikota itu. Dan dia sangat berharap dapat diterima di perguruan tinggi negeri agar tidak memakan biaya yang sangat mahal seperti di perguruan tinggi swasta.
Sedangkan Awan, sudah tidak tahu dimana rimba nya. Semua keluarga mencari keberadaan nya, namun tak ada yang menemukan nya. Awan bagaikan hilang ditelan bumi.
Di dalam kantor, Raina sibuk dengan pekerjaan nya merekap berbagai macam laporan.
Ditengah-tengah kesibukan nya, Raina di kagetkan dengan suara ketukan pintu.
"Masuk." ucap nya tanpa beralih pandangan nya dari tumpukan kertas yang ada didepan nya.
"Assalamualaikum ... hai, Rai!" sapa seseorang yang tak lain adalah Sandra yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Walaikumsalam ... eh, kamu, San. Alhamdulilah aku baik aja. Kamu sendiri?" tanya Raina sembari melangkah ke sofa mendekat dengan Sandra.
"Aku ... alhamdulilah baik juga. Oh, iya ... kata bunda waktu itu kamu sempat gak masuk kerja beberapa hari karena sakit, ya? Maafin aku ya, gak bisa jenguk kamu waktu itu." ucap Sandra sembari memegang kedua tangan Raina.
"Iya, gak apa-apa kok. Aku ngerti kesibukan mu saat itu." balas Raina dengan senyuman.
Raina tahu, bahwa sahabatnya itu tengah berada diluar kota dalam rangka kegiatan kampus nya saat dirinya sakit dulu. Meskipun, Sandra ada pada waktu itu, Raina juga akan tetap merahasiakan apa yang telah terjadi kepada dirinya.
"Raina, apa sore nanti kamu ada acara?" tanya Sandra.
"Ehm, gak ada. Memang nya kenapa?" Raina kembali bertanya.
"Aku pengen ngajak kamu shopping, sudah lama nih, kita gak seru-seruan bareng lagi. Mau ya?" ajak Sandra dengan tatapan memohon.
"Ok deh, tuan putri ...." jawab Raina terkekeh kecil.
__ADS_1
"Apaan sih, Rai ... ok, pulang kerja nanti langsung aku jemput disini." ucap Sandra.
"Kenapa mesti dijemput? Aku kan, bawa sepeda motor ... lebih baik kita ketemuan aja langsung di sana." jawab Raina.
"Sepeda motor kamu titipkan aja sama pak Abdul dibelakang, pokoknya aku mau bareng sama kamu." ucap Sandra.
"Iya, iya deh, aku gak nolak. Paling gak bisa deh, bantah kemauan tuan putri satu ini." goda Raina lagi.
"Hahaha, bodo amat! Aku mau pulang dulu, sampai ketemu nanti sore. Muaach ...." Sandra keluar sembari memberi ciuman jauh kepada sahabat nya itu.
Raina hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu yang tidak pernah berubah sifat kekanakan nya.
Raina kembali berkutat dengan pekerjaan nya. Waktu semakin bergulir, tak terasa jam pulang kerja pun tiba. Raina membereskan semua yang berantakan diatas meja kerjanya. Lalu, keluar dari kantor dan menunggu Sandra didepan resto. Sebelumnya, dia sudah menitipkan sepeda motornya kepada pak Abdul yang menjaga keamanan resto.
Tak lama kemudian, Sandra pun datang mengendarai mobil nya. Raina segera masuk ke dalam mobil sahabatnya itu. Dan mobil tersebut dengan cepat sudah keluar dari area resto.
"Btw kita mau ke mall mana nih?" tanya Raina.
"Kita ke mall PC aja, lagi banyak diskon disana." ucap Sandra
Dipertengahan jalan, Raina melihat sesosok yang dia kenal. Sosok itu ternyata Gina, yang berjalan sendiri dipinggir trotoar.
"Stop di depan, San." ucap Raina.
"Kenapa, Rai?" tanya Sandra.
"Itu kasian Gina jalan kaki sendiri." jawab Raina.
Sandra melihat ke arah yang disebut oleh Raina. Sandra segera memarkir mobil nya tepat didepan Gina.
Gina terkejut melihat mobil Sandra berhenti didepan nya.
__ADS_1
Raina membuka kaca mobil, dan mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil itu.
"Gina ...!" teriak Raina sembari melambaikan tangannya.
Gina pun melangkah maju ke arah mobil.
"Kenapa kamu jalan kaki? Sepeda motor kamu mana?" tanya Raina kepada Gina yang baru saja berhenti didepan nya.
"Sepeda motor aku dibengkel, Rai. Kerusakan nya parah, kata montirnya kemungkinan besok baru bisa diambil. Dari tadi aku nunggu angkot tujuan ke arah rumah ku, tapi gak muncul-muncul. Jadi aku berinisiatif jalan kaki aja sambil menanti angkot." jawab Gina.
"Sudah, Gin. Kamu ikut kita aja, ayo masuk!" ucap Sandra.
"Memang nya kalian mau kemana?" tanya Gina.
"Sudahlah, gak usah banyak tanya. Kita mau senang-senang. Ayo, buruan masuk!" jawab Sandra.
Raina pun menganggukan kepalanya tanda setuju jika Gina ikut bersama mereka.
Akhirnya, Gina pun dengan senang hati langsung masuk ke dalam mobil Sandra. Sandra tidak pernah memilih-milih teman, meskipun Gina karyawan diresto bunda nya, Sandra tetap berbaur dengan mereka tanpa ada batas.
Mobil sudah kembali melaju dijalan kota yang mulai ramai dengan pengendara lain nya. Setelah sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai dipusat perbelanjaan terbesar dikota itu.
Mereka bertiga pun, masuk ke dalam mall itu. Mata mereka disuguhkan dengan berbagai macam barang yang bertuliskan diskon disetiap sudut nya.
Bukan wanita jika namanya tidak tergiur dengan yang nama nya diskon, terutama dibagian baju, tas dan sepatu.
Sandra sudah melancarkan aksinya, melihat dan memilih apa saja yang ada didekat nya. Sementara kedua orang dibelakang nya hanya melihat dan mengikuti kemana pun Sandra beranjak.
"Hei, kalian kenapa gak milih? Pilih aja, nanti aku yang bayarin. Banyak yang bagus-bagus, nih." ucap Sandra.
Gina dan Raina saling pandang dan kemudian mereka berdua sama-sama tersenyum setelah mendengar ucapan Sandra.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka bertiga larut dalam keseruan bershopping ria. Dan tentunya belanjaan terbanyak adalah milik Sandra.
Mohon like dan krisan nya ya ππ