
Erlina menatap lekat laki-laki yang ada dihadapannya. Laki-laki yang merebut hatinya dua tahun lalu, laki-laki yang ia proklamirkan sebagai calon suaminya itu pada semua keluarganya, laki-laki yang begitu ia cintai hingga detik ini pun dirinya masih menyimpan rasa yang sama pada Satria, laki-laki yang telah membuat hatinya merasakan sakit dan kecewa dengan keputusan Satria yang memutuskan dirinya melalui orangtuanya.
Flashback On
Disebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota disinilah Erlina mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter. Memberikan pelayanan kesehatan untuk penduduk desa disana. Dengan segala kesabaran dan loyalitasnya sebagai seorang dokter, Erlina sangat disambut baik didesa itu.
Erlina dengan sepenuh hati memberikan pelayanan terbaiknya untuk penduduk desa yang membutuhkan jasanya.
Sore itu, dirinya baru saja tiba dirumah dinas yang telah disiapkan oleh kepala desa untuknya menginap. Rumah sederhana namun sangat nyaman ditempati. Erlina merasa sangat lelah karena banyaknya pasien yang membutuhkan dirinya.
Erlina segera membersihkan tubuhnya, air yang berada didalam sebuah guci besar yang terbuat dari tanah liat itu terasa sangat menyejukkan dan menyegarkan. Tubuhnya terasa begitu rileks. Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Erlina beranjak dari kamar mandi dan mulai mengenakan piyamanya.
"Sudah lama, aku gak dengar suaramu, Mas." Erlina meraih handphonenya bermaksud untuk melakukan panggilan telepon dengan kekasihnya yang sekarang berada jauh darinya.
Erlina menatap layar handphonenya, tertera dua puluh panggilan tak terjawab disana.
"Papah ... kenapa papah meneleponku hingga sebanyak ini?" gumam Erlina sembari mengernyitkan dahinya.
Erlina selalu bekerja dengan profesional, saat dirinya bekerja handphonenya selalu dalam keadaan senyap sehingga tidak terdengar jika ada panggilan telepon yang masuk, karena saat bekerja Erlina tidak suka waktunya diganggu.
"Mungkin papah sedang merindukanku, sebaiknya aku menelepon nya kembali." Erlina tersenyum sembari menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh papahnya.
Panggilan pun tersambung.
[Hallo, putri papah sayang]
[Iya, Pah ... kenapa papah menelponku dijam kerja? Apa sebegitu rindunya papah pada putri papah satu-satunya ini?]
[Apa papah tidak boleh meneleponmu?]
[Iya, tentu saja boleh. Tapi, tidak seperti biasanya papah menelepon Lin disaat jam kerja Lin. Pasti ada sesuatu bukan?]
[Hemm, tidak juga. Papah dan mamah memang sangat merindukanmu.]
[Sama. Lin juga merindukan kalian.]
Hening, tak ada yang bersuara. Erlina menatap layar ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan telepon bersama papahnya.
Sementara diseberang sana, Pak Hendrawan dalam posisi bimbang. Dirinya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan pada anak perempuannya itu, jika lelaki yang anaknya cintai itu telah meminta padanya untuk mengakhiri hubungan keduanya.
"Pah, sebaiknya tunggu Erlina pulang saja baru disampaikan." ucap Istrinya yang sedang berada disebelahnya.
__ADS_1
Karena, memang jadwal seharusnya Erlina pulang dalam waktu dua minggu lagi. Maka dari itu, istri pak Hendrawan melarang suaminya itu, untuk tidak memberitahukan pada anak perempuannya itu melalui telepon.
[Hallo ... pah ... papah? Apa papah masih mendengar Lin?]
Tak ada jawaban.
"Apa sinyalnya lagi buruk, ya?" gumamnya.
[Papah ...]
[Hei, iya Nak. Sepertinya jaringan disana kurang bagus. Suara kamu terputus-putus.]
[Iya, Pah. Sepertinya begitu. Apa mamah ada disamping papah?]
[Iya, Lin. Ini mamah, Nak. Kamu baik-baik ya, disana. Jaga kesehatanmu juga.]
[Iya, Mah.]
[Lin, sebaiknya kamu jangan menghubungi Satria lagi.]
[Kenapa, Mah?]
Tut... Tut... Tut... panggilan terputus karena kualitas signal didaerah desa tempatnya bertugas memang kurang bagus.
"Kenapa? Apa maksud mereka bicara seperti itu?" tanya nya.
Hatinya gelisah, dirinya menjadi resah dan terus terpikirkan perkataan orangtuanya. Demi menjawab rasa penasarannya, Erlina tidak menggubris ucapan orangtuanya. Dia mulai melakukan panggilan telepon pada kekasihnya. Panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban dari orang diseberang sana. Berkali-kali dia mencoba untuk menghubungi, tapi tetap dirinya tidak menerima jawaban.
Merasa diacuhkan oleh orang yang selama ini ia percaya, hatinya merasa sakit.
"Kenapa, Mas? Ada apa sebenarnya ini?" Dirinya terus bertanya-tanya dalam kebingungannya.
*********
Setahun sudah dirinya berada didesa kecil itu, hari ini dia sangat senang karena merupakan hari terakhirnya bertugas didesa itu. Erlina hanya bertugas setengah hari, karena dia akan mempersiapkan kepulangannya besok. Banyak yang menyayangkan kepulangannya, karena warga didesa itu sudah merasa cocok dan nyaman dengan dokternya itu.
Erlina berpamitan pada semua warga yang sudah berkumpul dibalai desa. Ada rasa sedih yang menguar dihatinya, karena harus meninggalkan desa kecil yang penuh ketenangan dan kedamaian itu.
Erlina harus bangun sangat subuh, karena untuk keluar dari desa itu dia harus menempuh jarak berkilo-kilometer jauhnya dengan menggunakan sepeda motor warga desa yang mengantarnya hingga bisa mencapai kecamatan, dimana mobil yang akan mengantarkan nya ke bandara berada disana.
Setibanya dikantor kecamatan, Erlina disambut oleh Pak Camat.
__ADS_1
"Terimakasih, Bu Dokter sudah sangat membantu dan sangat bersabar melayani penduduk didesa makmur. Semoga Ibu tidak jera bila ditugaskan disini lagi." ucap Pak Camat.
"Sama-sama, Pak. Itu sudah kewajiban saya sebagai dokter, harus memberikan pelayanan yang terbaik pada warga yang membutuhkan jasa saya." balas Erlina dengan ramah.
"Bu Dokter, barang-barangnya sudah saya masukan semua didalam mobil. Saya sudah siap mengantarkan Bu Dokter." ucap Aan sang supir yang akan mengantar Erlina ke bandara.
"Iya, Mas. Kita harus berangkat sekarang karena perjalanan kita masih jauh." balas Erlina.
"Baik, kalau begitu saya pamit, Pak." ucap Erlina pada Pak Camat.
Erlina sudah berada didalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Untuk sampai dibandara, membutuhkan waktu tiga jam menggunakan mobil.
Erlina memandangi kanan dan kiri pemandangan kampung itu yang masih menyajikan hamparan sawah dan pegunungan. Satu jam setengah kemudian, mobil sudah memasuki kawasan kota yang lebih ramai. Dan pemandangan nya berubah menjadi gedung-gedung dan pertokoan. Meski gedung-gedungnya memang tidak sebesar dan tidak setinggi di kota tempat ia tinggal.
Dan akhirnya, sampailah dirinya disebuah bandara yang hanya menyediakan penerbangan domestik. Setelah melakukan serangkaian proses untuk melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara itu, kini Erlina sudah duduk dikursi penumpang dan menggunakan seat belt nya. Untuk sampai dikotanya, membutuhkan satu jam perjalanan udara.
Karena dirinya merasa lelah dengan perjalanan panjangnya, Erlina memutuskan untuk beristirahat dan tanpa sadar dirinya pun terlelap. Pesawat yang membawa Erlina sudah mendarat dengan sempurna di bandara kota tempat Erlina tinggal.
Erlina terbangun saat penumpang disampingnya membangunkan dirinya.
"Mbak bangun, sudah sampai, Mbak." ucap Perempuan itu.
"Eh, iya. Terimakasih sudah membangunkan saya." jawab Erlina sembari melemparkan senyum ramahnya.
Erlina segera turun dari pesawat itu kemudian mengambil barang-barangnya dipengambilan bagasi. Erlina langsung menaiki taksi yang tersedia dibandara.
Erlina sengaja tidak memberitahukan kepulangannya pada kedua orangtuanya. Erlina juga tidak memberitahukan Satria kekasihnya, karena menurutnya percuma setelah panggilan teleponnya selalu diacuhkan oleh Satria, Erlina tidak pernah lagi menghubungi lelaki itu, dia akan mencari tahu alasannya setelah tiba dikotanya nanti, pikirnya saat itu.
Sampailah dirinya di depan rumah besar yang lama ia tinggalkan. Erlina menekan bel yang berada disamping pagar rumahnya. Mang Ujang penjaga rumah Erlina pun dengan cepat membukakan pagar kayu yang tinggi itu.
"Mbak Lin, pulang? Kenapa tidak minta dijemput, Mbak?" tanya Mang Ujang.
"Lin, mau kasih kejutan sama Papah dan Mamah." jawab Erlina.
Mang Ujang menganggukkan kepalanya mengerti dan mulai membawa barang-barang Erlina masuk ke dalam rumah.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π