Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Apa yang mamah tutupi dariku?


__ADS_3

"Dek ... Mas pamit pulang, ya?" pamit Satria pada Raina yang sedang memakai kan baju pada si kecil Al.


"Iya, Mas. Pasti mamah menunggu dirumah." jawab Raina.


"Al ... ayah kerumah eyang uti dulu. Al gak boleh rewel, ya?" ucap Satria pada si kecil Al.


Al menyunggingkan bibirnya setengah seperti sedang tersenyum pada Satria.


"Ih, dia tersenyum padamu, Mas." ucap Raina senang.


"Anak pintar ... ayah pamit, assalamualaikum ...." ucap Satria sembari tersenyum dan kemudian mengecup kening Al.


"Walaikumsalam, ayah ...." balas Raina menirukan suara anak kecil.


Satria pun tersenyum dan mengacak lembut kepala Raina. Lalu, beranjak pergi meninggalkan Raina dan juga si kecil Al.


**********


Mobil Satria sudah melaju dijalur kota, senyum terus mengembang diwajah tampannya.


Satria merasa begitu bahagia dengan statusnya sekarang yang sudah bergelar sebagai ayah. Meskipun dirinya bukan ayah biologis dari Al, tetapi dirinya sudah sepenuhnya bertanggungjawab atas Al.


Dan dirinya juga sudah menganggap keponakannya itu sebagai anak kandungnya sendiri dan dirinya berjanji akan terus menyayangi, mencintai dan melindungi Al.


"Kebahagiaan ini akan menjadi bertambah, jika dirimu mau melanjutkan pernikahan kita." gumam Satria yang terus melajukan mobilnya.


Sanking bahagianya, sampai-sampai dia tidak sadar jika sudah melewatkan rumahnya sendiri.


"Kenapa jalanannya seperti ini? Ini seperti bukan jalan blok rumah." gumam Satria sembari memperhatikan sisi kanan dan kiri jalan perumahan itu.


"Shit! Kenapa bisa sampai kelewat?" gerutu nya sembari memutar balik mobilnya.


Di dalam mobil, Satria menertawakan kebodohannya sendiri yang telah terhipnotis oleh kebahagiaannya.


"Assalamualaikum ...." ucap Satria saat memasuki rumahnya.


Dia langsung menuju kamar mamahnya. Rasanya dirinya ingin sekali berbagi kebahagiaannya itu pada sang mamah.


Namun, saat dirinya masuk ke dalam kamar mamahnya, tak ia dapati mamahnya didalam sana.


"Mah ... mamah ...." panggil Satria.


"Eh, Mas Satria sudah pulang ... Mas Satria cari ibu? Ibu ada ditaman belakang, Mas." ucap Bi Darsih yang melihat kedatangan Satria saat dirinya sedang bersih-bersih didapur.

__ADS_1


"Iya, Bi. Terimakasih." jawab Satria yang langsung bergegas menemui mamahnya ke taman belakang.


Satria melihat mamahnya sedang duduk sendiri dibangku taman. Dia pun langsung mendekati wanita paruh baya itu.


"Mamah ...." sapa Satria.


Wanita itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Hei, sudah pulang kamu." ucap Ibu Santi yang menyambut kedatangan anak bungsunya itu.


"Iya donk, Mah. Mah ... Satria mau cerita sama Mamah." Satria duduk disamping mamahnya sembari memegang erat kedua tangan yang mulai terlihat berkerut.


"Mau cerita tentang apa?" tanya Ibu Santi yang terlihat antusias untuk mendengarkan cerita anak lelakinya itu.


"Satria mau cerita apa yang terjadi selama Satria berada dirumah Raina dan bagaimana Satria belajar jadi ayah yang siap siaga." ucap Satria dengan mata yang berbinar-binar bahagia.


Dia pun mulai menceritakan kejadian demi kejadian apa saja yang telah ia lakukan sebagai ayah siaga. Dan kedekatannya dengan si kecil Al, hingga bayi mungil itu tidak ingin ditinggalkan olehnya.


Ibu Santi mendengarkan semua apa yang telah Satria ceritakan padanya. Selama ini yang dia tahu, anak sulungnya itu tidak pernah sekalipun mau berbagi cerita apa pun dengannya. Satria lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.


Tapi, hari ini dia menemukan hal lain pada diri anaknya itu. Tampak sekali kebahagiaan yang terpancar dimata anaknya setiap kali anaknya itu menceritakan bagaimana bahagia dirinya telah menjadi seorang ayah.


"Satria benar-benar bahagia, Mah. Tapi, kebahagiaan ini belum lengkap karena Raina belum sepenuhnya menjadi istri Satria menurut agama." ucap Satria sembari menundukkan kepalanya.


"Iya, Mah. Satria sudah merasa nyaman dengan Raina." jawab Satria.


Raut wajah ibu Santi seketika berubah, dirinya mendengar langsung dari anaknya, bagaimana anak sulungnya itu mencintai orang yang sama dengan anak bungsunya. Meskipun dia tidak tahu bagaimana perasaan Awan sekarang terhadap Raina.


"Mamah mau masuk." ucap Ibu Santi datar, dan langsung menarik tangannya dari genggaman Satria. Lalu beranjak pergi meninggalkan Satria.


Satria terdiam memandangi kepergian mamahnya. Dirinya bingung dengan respon yang diberikan mamahnya yang tiba-tiba berubah bersikap dingin dengannya.


"Apa aku salah? Kenapa tiba-tiba mamah bersikap seperti itu padaku?" Satria bertanya - tanya pada dirinya sendiri.


Satria pun beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk bertanya langsung pada mamahnya.


*********


Di dalam kamar, Ibu Santi berdiam diri. Pikirannya terus berkecamuk dengan hatinya, hati kecilnya ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Satria. Namun, pikirannya selalu mengatakan agar pernikahan kembali Satria dengan Raina tidak boleh dilakukan.


Bayang-bayang akan terjadinya perang saudara antara kedua anak lelakinya, terus saja menghantuinya. Dirinya tidak mau hal tersebut terjadi karena hanya kedua anaknya nanti memperebutkan wanita yang sama.


Pikirannya terus dilanda ketakutan yang belum tentu akan terjadi seperti apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ...


Terdengar suara pintu kamarnya sedang diketuk seseorang.


"Mah, apa Satria boleh masuk?" tanya Satria dari luar.


"Hemm ...." Hanya deheman kecil yang terdengar, seakan dirinya enggan untuk berkata-kata.


Satria membuka pintu kamar mamahnya setelah mendengar suara dari dalam kamar, dia masuk ke kamar itu dan mulai mendekati mamahnya. Satria terduduk dilantai dibawah kaki sang mamah.


"Mah ... mamah kenapa? Apa Satria ada salah sama mamah?" tanya Satria sembari memegang erat kedua kaki sang mamah yang menjuntai ke lantai dan menyandarkan kepalanya dikaki tersebut.


"Kamu tidak ada salah." jawabnya berbohong seakan menyembunyikan apa yang dirinya pikirkan.


"Kenapa mamah bersikap dingin dengan Satria? Apa Satria ada salah berbicara?" Satria masih merasa ada yang janggal dengan mamahnya dan dia kembali mempertanyakannya.


"Tidak ada yang salah dengan ucapanmu. Mamah hanya sedang rindu dengan adikmu. Mamah ingin sekali bertemu dengannya." jawab Ibu Santi.


Satria mendongakkan kepalanya, menatap lekat mata yang selalu memberikan kehangatan untuk anak-anaknya, namun disana Satria mendapatkan mata itu memang sedang merasakan kerinduan yang teramat dalam. Tapi, ada sinar kebohongan yang juga berada disana dan Satria pun menyadari hal itu.


"Mamah akan bertemu dengannya, tapi tidak untuk sekarang. Mamah harus benar-benar sehat dan Satria janji, Satria yang akan membawa Mamah untuk menemuinya disana." balas Satria.


"Ehem ...." Hanya deheman kecil dan sebuah anggukan kepala sebagai jawabannya.


Ibu Santi mengangkat kedua kakinya untuk naik keatas kasur dan mulai merebahkan tubuhnya disana. Tatapan matanya seperti kosong menatap langit-langit kamarnya.


"Keluarlah, mamah ingin istirahat. Dan untuk saat ini, mamah tidak ingin diganggu dengan siapa pun." ucapnya datar.


Satria pun tidak membantah, dia menuruti kemauan sang mamah. Dirinya keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar mamahnya dengan rapat.


"Apa yang sebenarnya mamah tutupi dariku? Apa mamah tidak suka jika aku melanjutkan pernikahan ku dengan Raina?"


Satria pun memutuskan untuk pergi ke sesuatu tempat untuk menenangkan pikirannya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2