Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kecemasan Seorang Ibu


__ADS_3

"Raina sudah pulang, Bu?" tanya Aldo yang baru saja masuk ke rumah.


"Iya, adik kamu sudah pulang. Sekarang lagi didalam kamar, katanya capek." jawab Ibu Riska.


Aldo hanya menganggukan kepalanya setelah mendapat jawaban dari ibu nya. Dia berfikir adik nya hanya butuh istirahat.


Aldo kembali keluar membantu para tukang mengerjakan pembangunan warung untuk jualan ibu nya nanti.


Renovasi sebagian rumah sudah terealisasi, tidak butuh waktu lama mengerjakan nya, karena dari kemarin sudah dikerjakan lembur oleh para tukang bangunan nya. Ditambah hari ini, ada Aldo dan Raka yang juga ikut membantu mereka menyelesaikan nya.


Hanya pembuatan warung yang akan memakan waktu cukup lama, dikarenakan dimulai dari awal membangun pondasinya terlebih dahulu. Meski begitu, mereka tetap dengan cekatan mengerjakan setiap bagian-bagiannya.


Tak terasa, waktu terus berjalan. Siang sudah berganti dengan sore. Para tukang sudah membersihkan sisa-sisa kotoran dari kayu dan bahan bangunan lainnya. Dan tidak lupa juga merapikan alat-alat pertukangan mereka yang akan dipakai lagi besok. Setelah dipastikan semuanya beres, mereka pun berpamitan untuk pulang.


Aldo dan Raka segera masuk kerumah. Raka terlebih dahulu mandi, sedangkan Aldo masih duduk santai diruang keluarga menunggu adiknya selesai menggunakan kamar mandi. Karena kamar mandi hanya ada satu dirumah itu, jadi harus bergantian menggunakan nya.


Ibu Riska mendekati Aldo yang sedang duduk beristirahat.


"Do, Raina dari tadi belum keluar dari kamarnya, dia belum ada makan siang dari sepulang tadi. Gak ada keluar ambil wudhu untuk sholat ashar juga." ucap Ibu Riska.


"Mungkin dia benar-benar kelelahan, Bu. Jadi, ketiduran." jawab Aldo dengan tetap berfikir positif kepada adik perempuan nya itu.


"Ehm, tapi dari tadi ibu sudah ketuk-ketukin juga pintu kamarnya, tapi gak ada sahutan sama sekali. Gak seperti biasanya, walaupun dia tidur, tapi kalau ibu ketuk pintu kamarnya pasti dia mudah banget bangunnya." ucap Ibu Riska lagi dengan nada cemas.

__ADS_1


"Biasa lah, Bu. Kalau orang sudah kelelahan banget, pasti tidurnya nyenyak banget." jawab Aldo masih dengan tenang agar tidak menambah kepanikan ibu nya.


Obat tidur yang diberikan Awan saat itu memang berdosis tinggi yang membuat penggunanya akan terus merasakan kantuk dan lelah yang luar biasa, tidak hanya itu Awan juga dengan tega mencampurkan obat lain yang memberikan efek halusinasi diluar nalar penggunanya.


Sehingga pada saat Awan menjamah setiap detail tubuhnya, Raina ikut menikmati sensasi nya dan tidak bisa memberontak.


Aldo yang melihat Raka sudah keluar dari kamar mandi langsung bergantian dengan adiknya. Meninggalkan sang ibu yang masih terdiam di tempat duduk nya


Ibu Riska masih merasakan kekhawatiran terhadap putrinya itu.


Sore sudah berganti dengan senja, matahari sedikit demi sedikit meninggalkan peraduannya. Cahaya nya yang menyilaukan berganti dengan warna langit yang kemerahan.


"Do, ini sudah mau maghrib. Tapi adik kamu belum bangun-bangun juga. Ayo, donk ... bantu bangunin adik kamu. Ibu takut dia kenapa-kenapa." Ibu Riska mendatangi kamar Aldo, dan membujuk anak sulung nya itu agar mau membangunkan adiknya.


Aldo, Raka dan Ibu Riska sudah berdiri didepan kamar Raina. Mencoba mengetuk pintu berkali-kali tapi hasilnya nihil, masih sama seperti tadi tidak ada sahutan dari dalam.


Aldo dan Raka bersiap untuk mendobrak pintu kamar itu. Dengan tiga kali hentakan badan mereka berdua, akhirnya pintu terbuka. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kamar Raina. Betapa terkejut nya mereka semua saat mendapati Raina yang tertidur dilantai.


Dengan sigap Aldo mengangkat tubuh mungil adiknya itu dan meletakkan nya diatas kasur.


"Badannya Raina panas, Bu." ucap Aldo setelah memegang dahi adiknya.


Dengan sigap Ibu Riska mengambil alih posisi dari Aldo, Ibu Riska duduk disamping Raina dan kembali memegang dahi putrinya itu memastikan apa yang dibilang anak sulung nya.

__ADS_1


"Iya, Do, adik kamu sepertinya demam." jawab Ibu Riska dengan cemas.


Aldo mengambil kompresan untuk mengompres adiknya agar demam nya segera turun.


Beberapa menit kemudian, Raina membuka matanya yang masih terasa berat dan menggigil seperti orang kedinginan.


Ibu Riska dengan sigap menyelimuti tubuh gadis semata wayang nya.


"Sayang, kita kerumah sakit, ya?" bujuk Ibu Riska kepada Raina.


"Gak, Bu. Raina hanya demam biasa. Dan mungkin juga karena Raina belum makan." jawab Raina yang tetap menutupi keadaannya.


Ya, semenjak dari acara diresto hanya siang itu ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Hingga malam dan sudah akan kembali menyambut malam lagi, Raina belum sedikit pun mengisi perutnya.


Aldo mengambil kan makanan dan obat penurun demam yang sudah dia beli di apotek untuk adiknya.


Sedangkan Raka, memijat kaki kakak perempuannya. Ibu Riska mulai menyuapi makanan itu ke mulut Raina sedikit demi sedikit.


Semua saling bahu membahu membantu anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki.


**Bersambung


Mohon like dan krisan nya ya readers... 😘**πŸ™

__ADS_1


__ADS_2