Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Meratapi Nasib


__ADS_3

Raina sudah sampai diparkiran resto, setelah sebelum nya dia menggunakan taksi online untuk mengantarkan nya ke resto untuk mengambil sepeda motornya terlebih dahulu.


Hari ini hari minggu, dimana resto sangat ramai pengunjung diwaktu libur seperti ini. Apa lagi tidak jauh dari resto ada pusat rekreasi keluarga berupa wahana kolam renang keluarga yang menyajikan banyak permainan didalamnya. Dan banyak dari mereka setelah dari kolam renang itu mampir ke resto untuk makan bersama keluarganya.


Hari ini Raina libur masuk kantor, jadi dengan cepat dia melangkah menuju parkiran khusus karyawan agar tidak ada yang melihatnya. Raina sudah bersiap diatas sepeda motor nya dan akan meninggalkan area parkir. Namun, belum sempat dia pergi, ada Pak Abdul yang menyapa nya dan melihat keadaan Raina yang berantakan dengan mata sembab nya.


"Neng Raina ... darimana saja atuh, Neng? Kenapa sepeda motornya tidak diletak kan dibelakang? Mau Bapak pindahkan kemarin tapi dikunci stang, jadi bapak jagain aja deh dari kemarin, takut ada yang maling." kata Pak Abdul panjang lebar.


"Maaf, Pak. Kemarin Raina buru-buru dijemput teman ada pesta juga disana. Jadi, Raina langsung ikut sama dia. Eh, ternyata pesta nya sampai malam. Jadi, Raina menginap disana. Terimakasih sudah jagain sepeda motor saya. Sekali lagi saya mohon maaf, sudah merepotkan Bapak." balas Raina berbohong.


Pak Abdul memperhatikan mata sembab Raina, dirinya merasa janggal dengan penjelasan dari Raina.


"Bukannya kalau habis dari pesta itu senang, ya? Ini kok, wajah nya seperti sedih gitu? Seperti ada yang ditutupi oleh Neng Raina ini mah."


"Maaf, Pak. Saya Permisi dulu." ucap Raina cepat.


"Oh, silahkan Neng, hati-hati." balas Pak Abdul.


Raina sudah keluar dari area parkir dan mulai melajukan sepeda motornya dijalanan besar.

__ADS_1


Raina terus terbayang-batang dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Membuat konsentrasi mengendaranya terganggu dan sering kali dia hampir menabrak pengendara lainnya.


"Woy, jangan melamun! Yang fokus donk!"


"Kalau baru belajar berkendara, sebaiknya jangan dijalan besar, bahaya tahu!"


Banyak pengendara yang meneriaki dirinya. Raina hanya mampu tertunduk dan mengucapkan kata maaf. Dan kembali mengendarai sepeda motornya.


Meski banyak drama yang harus dilewati nya dijalan, akhirnya dia mampu membawa dirinya sampai hingga ke rumah dengan selamat. Dia turun dari sepeda motornya dan melihat sekeliling rumah yang masih berantakan karena direnovasi.


Segera ia melangkah kan kaki nya masuk ke dalam rumah.


"Walaikumsalam, gimana acaranya kemarin sayang? Pasti meriah sekali, ya? Dan pasti kamu lelah sekali kan, mengurus semuanya. Sampai-sampai kamu menginap di rumah Sandra." ucap Ibu Riska.


Raina terdiam, dia tak menyangka akan disambut dengan banyak nya pertanyaan oleh Ibunya.


"Kenapa ibu mengira aku menginap dirumah Sandra?"


Banyak pertanyaan yang tiba-tiba melintas dikepalanya.

__ADS_1


"Rai ... kok, bengong aja?" tanya Ibu Raina.


"Ehm, iya, Bu. Banyak yang harus Raina urus bersama bunda Eva kemarin. Jadinya, Raina putuskan untuk menginap saja dirumah Sandra. Raina ke kamar dulu ya, Bu. Raina capek banget." ucap Raina berbohong kepada Ibunya.


Raina sengaja merahasiakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Raina tidak ingin ibunya terluka jika tahu apa yang sudah terjadi dengan putrinya. Dalam benak Raina, biarlah dia tanggung semua beban yang menimpa dirinya dan tak perlu menambah beban pikiran kepada ibu dan saudaranya.


"Maaf bunda Eva, Sandra, aku telah melibatkan kalian dalam kebohongan ku."


Raina segera masuk ke kamar dan mengunci pintu dengan rapat. Dengan segera dirinya mengganti pakaian nya dengan pakaian rumah. Dirinya terduduk lesu dipinggir kasur yang menghadap ke jendela.


Merenungi musibah yang benar-benar tidak pernah dia duga sebelumnya akan terjadi pada dirinya.


Air mata kembali mengalir tanpa diminta, ada rasa sesak yang mengganjal dihati nya.


"Tuhan, kenapa kau berikan cobaan yang sangat berat untukku? Kenapa harus aku, Tuhan?"


Air mata Raina semakin deras mengalir, Raina merasa Tuhan tidak adil kepada dirinya. Raina tersungkur ke lantai, dirinya benar-benar merasa rapuh.


"Pak, Raina ingin ikut bersama bapak. Raina sudah gak ada gunanya lagi disini, pak. Raina sudah gak suci lagi, pak."

__ADS_1


Raina tertidur bersama dengan semua beban yang harus di derita nya.


__ADS_2