Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Undangan Ridho


__ADS_3

Sepeninggal Satria, Ridho dan Renita, Raina kembali melanjutkan makanan suaminya yang masih tersisa. Kini kembali tinggallah berdua Raina dengan Sandra.


"Apa yang bersama dengan Mas Ridho tadi itu, pacarnya Mas Ridho?" tanya Sandra dengan menatap sahabatnya.


"Mungkin, ini kedua kalinya aku bertemu dengannya bersama dengan Mas Ridho. Dari pembicaraan Mas Satria dengan Mas Ridho waktu itu, aku menangkap kalau Mas Ridho menyukai perempuan itu. Tapi, saat itu mereka belum resmi jadian. Kalau sekarang gak tahu, deh." jawab Raina dengan mengangkat kedua bahunya.


"Oh ... gitu. Manis, cocok buat Mas Ridho." Sandra menganggukan kepalanya.


"Jam berapa nih, kira-kira Al sudah tidur belum, ya?" Raina meraih handphonenya dan melihat jam yang tertera disana.


"Video call, Rai. Aku ingin melihatnya, kangen banget sama si embul." titah Sandra.


"Ya, ini juga mau aku vc." balas Raina.


Sementara Raina melakukan panggilan video dengan ibunya, diruang rawat yang berbeda Ridho, Renita dan Satria kini sedang sedikit berbincang-bincang.


Sementara ibu Santi hanya mendengarkan pembicaraan ketiga anak muda itu dengan sesekali juga melemparkan pertanyaan.


"Assalamualaikum, Tante ...." ucap Ridho dan Renita bersamaan, ketika mereka masuk ternyata ibu Santi sudah terbangun dari tidurnya.


"Walaikumsalam ... Ridho, ekh ... kamu?" tunjuknya pada Renita.


"Saya Renita, Tante. Anaknya Pak Sigit." jawab Renita.


"Mamah sudah pernah bertemu Renita?" tanya Satria.


"Iya, waktu itu kami menumpangi pesawat yang sama waktu ke pulau B. Dan dia juga yang menunjukkan jalan pada Mamah disana. Ternyata, dia adalah anak dari teman lama." jawab Ibu Santi dengan suara yang lemah, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.


"Sebenarnya, tadi saya mau ke rumah Satria ingin memberitahukan sesuatu. Ekh, gak tahu nya semua lagi dirumah sakit. Jadi, saya langsung kesini aja, deh." ujar Ridho.


"Memberitahukan apa?" tanya Satria.


"Aku mau memberikan mu ini, bulan depan kami akan menikah." jawab Ridho sembari menyerahkan undangan pernikahannya pada sahabatnya itu.


"Wah, selamat ya, Bro. Akhirnya, gesit juga kamu. Perasaan waktu itu kalian belum pacaran, tahu ... tahu, sekarang sudah kirim undangan. Mantap, aku turut bahagia." ucap Satria dengan memeluk sahabatnya itu berulang kali.


"Hehehe ... Oh ya, Tante juga harus hadir ya, dipernikahan kami." pinta Ridho pada Ibu Santi.

__ADS_1


"InsyaAllah ya, Nak. Kalau Tante sehat, pasti Tante akan usahakan datang. Apa lagi yang punya hajatan teman Tante semua." balas Ibu Santi.


"Iya, Tan. Makanya, Tante jangan mikir yang macam-macam lagi biar gak sakit-sakit terus. Semoga ini yang terakhir lah, sakitnya." ucap Ridho memberi semangat pada Ibu Santi.


"Amin, terimakasih, Nak." balas Ibu Santi.


"Mas, sepertinya kita harus pulang, deh. Sudah jam segini, biar Tante Santi istirahat." bujuk Renita.


"Oh iya. Ridho sama Renita pamit pulang dulu ya, Tan. Semoga Tante cepat sembuh." ucap Ridho.


"Iya, terimakasih kalian sudah menyempatkan waktu menjenguk Tante." balas Ibu Santi."


"Iya, Tan. Sama-sama." ucap Ridho dan Renita bersamaan.


"Terimakasih ya, Bro. Sudah jenguk mamah ku dan juga Bara. Terimakasih juga buah dan undangannya." ucap Satria.


Kedua kalinya, mereka berdua saling berpelukan ala lelaki. Dan setelah itu Ridho dan Renita berpamitan pada ibu Santi dengan mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu penuh takzim.


Setelah keluar dari ruangan itu, tak lupa pula kedua pasangan itu berhenti sejenak diruang rawat Bara untuk berpamitan dengan Raina dan juga Sandra.


Pagi menyambut, Satria tetap harus berangkat bekerja. Sementara itu, Raina masih tetap berada dirumah sakit. Kini dirinya hanya sendiri, dengan telaten dirinya mengurus adik iparnya.


"Mbak, sini biar Bara aja. Bara bisa makan sendiri, kok." ucap Bara meminta piring yang berada dalam pegangan Raina.


"Gak apa, Bar. Kamu yakin, bisa? Tanganmu aja masih bengkak gitu." balas Raina sembari menunjuk tangan kiri Bara yang membengkak.


"Hehehe ... maaf ya, Mbak. Sudah merepotkan Mbak." ucap Bara dengan gaya selengekkan nya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Santai aja, lagi. Mbak gak merasa direpotkan, kok. Kamu itu juga adik Mbak. Jadi, gak usah sok-sok an merasa sungkan." ucap Raina.


"Terimakasih ya, Mbak. Mbak itu memang kakak ipar yang the best, gak ada duanya." puji Bara.


Bara memakan makanannya dengan lahap hingga tandas dan setelah itu, dia pun langsung meminum obatnya.


"Bar, Mbak ke ruangannya mamah dulu, ya. Kamu gak apa-apa kan, Mbak tinggal dulu sebentar." ucap Raina.


"Iya, Mbak. Tenang aja, Bara bisa jaga diri Bara, kok. Paling juga gak lama lagi Bara bakal tertidur." balas Bara.

__ADS_1


Memang obat yang diminum Bara mempunyai efek samping mengantuk jika setelah meminumnya.


"Ok, deh. Mbak kesana dulu, ya." pamit Raina sekali lagi.


"Iya, Mbak. Jaga hati ya, Mbak. Jangan masukkan dihati kalau mamah menyinggung Mbak." ucap Bara mengingatkan.


Raina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan menyetujui ucapan adik iparnya itu. Memang ini pertama kalinya, dia akan menemui mamah mertuanya itu. Setelah kemarin dia kesana, tapi mertuanya itu sedang tertidur.


Dengan langkah pelan, Raina berhenti tepat didepan pintu ruangan mertuanya. Raina menatap lurus ke depan, melihat keadaan didalam dari balik kaca dipintu itu. Mamah mertuanya sedang sendiri terbaring diatas kasur.


Perlahan Raina membuka pintu tersebut, suara deritan pintu dibuka membuat ibu Santi menolehkan kepalanya ke arah pintu. Setelah melihat siapa yang datang, dirinya kembali memalingkan wajahnya.


Raina menyadari jika kehadirannya belum sepenuhnya diterima oleh mertuanya. Raina menutup kembali pintu ruangan itu, tertunduk sejenak untuk menguatkan hatinya untuk menghadapi mertuanya.


"Bismillah." gumamnya dan kembali mengangkat kepalanya serta mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah kasur mertuanya.


Raina melihat makanan yang disediakan oleh perawat belum tersentuh sedikit pun oleh mertuanya.


"Assalamualaikum, Mah." sapa Raina dengan pelan.


"Walaikumsalam." balas Ibu Santi, namun pandangannya belum beralih menatap kehadiran menantunya.


"Kenapa Mamah belum makan? Pasti Mamah juga belum meminum obat mamah, kan?" Setenang mungkin Raina melontarkan pertanyaan itu pada mertuanya. Namun, tak ada respon sedikit pun dari mertuanya itu.


Raina menghela nafasnya, sembari beristigfar didalam hatinya agar dia mampu menguatkan dirinya untuk tetap berada diruangan itu untuk membujuk mertuanya agar mau makan dan meminum obatnya.


********


Maaf banget kemarin gak ada UP, saya yang berasa agak enakan ngedrop lagi karena anak ikutan sakit. Emaknya ikutan bergadang karena si anak rewel, dengan kondisi Emak yang setengah sehat tetap menguatkan diri demi si anak.


Ini pun nulisnya kucing-kucingan sama si adek, tunggu dia tidur atau gak rewel baru bisa pegang hp lagi 😒 Karena si adek lebih dekat dengan Emaknya jadi gini, deh. Dia gak mau sama ayahnya kalo lagi sakit.


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia menunggu dan selalu berikan doa serta dukungan kalian πŸ˜˜πŸ™


Maaf author nulisnya masih sedikit aja πŸ™


Salam SCUR

__ADS_1


__ADS_2