
Raina masih ingat betul didaerah mana letak kos-kosan yang telah disewa Awan. Raina duduk didepan mengarahkan jalan kepada Aldo yang mengendarai mobil. Sementara Satria duduk dibangku belakang.
"Kamu yakin ini kamarnya?" tanya Satria setia didepan kamar kos milik Awan.
"Iya, Mas." jawab Raina cepat.
Aldo dan Satria berusaha menggedor-gedor pintu dan memanggil nama sang pemilik, tapi tak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Raina pun tampak cemas, jika Awan benar-benar sudah tidak ada lagi disitu.
"Jangan ribut donk! Ganggu istirahat orang aja, nih!" ucap salah seorang penghuni kamar kos lainnya.
"Maaf, Mbak. Kami lagi mencari orang yang menempati kamar ini." jawab Satria disertai senyuman dan anggukan kedua orang yang berada disamping nya sebagai permohonan maaf kepada wanita yang merasa istirahat nya terganggu.
"Oh, si Awan. Sudah hampir seminggu ini dia gak ada balik." ucap wanita itu.
"Ehm, begitu. Terimakasih Mbak, informasinya." jawab Satria.
Raina terdiam, dirinya serasa ingin limbung. Memikir nasib nya seperti apa nantinya jika Awan benar-benar tidak diketemukan.
Aldo yang melihat sang adik terlihat lemas, langsung mendekap tubuh Raina. Dia tahu jika adiknya sekarang benar-benar merasa terpukul. Meski dirinya pun sangat marah, namun dia mencoba untuk meredam amarah nya demi sang adik.
"Kalian pulang lah dulu. Kasihan Raina pasti dia lelah seharian ini." ucap Satria.
"Tapi, bagaimana dengan dirimu?" tanya Aldo.
"Jangan pikir kan aku. Yang terpenting adalah kesehatan adikmu dan calon keponakanku. Aku akan menemui seseorang untuk meminta bantuannya untuk mencari anak itu." jawab Satria dengan menekankan kata anak itu yang berarti adalah Awan.
Aldo menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Aku balik duluan. Kasih kabar secepatnya jika kamu sudah mendapatkan info tentang adikmu." ucap Aldo.
"Iya. Hati-hati lah kalian dijalan." jawab Satria sembari menepuk bahu Aldo.
Aldo dan Raina pun pergi meninggalkan Satria yang masih berdiri didepan kamar kos adiknya.
__ADS_1
Setelah kepergian Aldo dan Raina, Satria segera melakukan panggilan telepon ke seseorang yang tak lain adalah sahabatnya yaitu Ridho.
[Hallo, Sat ... ada apa?]
[Kamu dimana? Sibuk gak?]
[Weis ... santai bro, jangan ngegas gitu donk, nanya nya! Aku lagi di apartemen sekarang, baru mau pulang kerja dan sekarang aku mau mandi. Kenapa?]
[Jemput aku sekarang di jalan WZ. Gak usah pake mandi kelamaan!]
[Ngapain kamu disana? Jangan-jangsn ada simpanan mu ya, disana?]
Ridho tahu jika alamat yang diberikan Satria adalah alamat menuju kos-kosan elite yang sudah terkenal dikota itu. Karena kebanyakan penghuninya adalah wanita-wanita pekerja malam.
Tut...tut..tut...
[Hallo ... hallo ...]
Panggilan telepon langsung ditutup oleh Satria.
Begitulah Ridho, meski terlihat angkuh dan dingin didepan orang yang tak dikenalnya, tapi tidak jika dia bersama dengan sahabatnya itu. Dia akan menjadi orang yang lebih banyak bicara.
Ridho segera mengganti baju kerjanya menggunakan baju kaos santai. Meski dia ngoceh-ngoceh dulu jika dimintai tolong oleh sahabatnya itu, tapi dia tetap melakukannya.
Ridho segera meluncur kan mobil nya ke alamat yang telah disebutkan oleh Satria. Cukup setengah jam dia sudah tiba dialamat yang dituju. Dia langsung berhenti tepat didepan Satria yang telah menunggu nya.
Satria segera masuk ke dalam mobil itu.
"Ngapain kamu disitu? Kamu gak bawa sepeda motor?" tanya Ridho setelah melihat Satria sudah mendaratkan tubuhnya dibangku mobil.
"Kalau aku bawa sepeda motor ngapain aku minta jemput sama kamu! Aku nyari Awan di salah satu kamar kos itu." jawab Satria.
Ridho melirik sekilas kearah sahabatnya itu, dia merasa jika sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik, seperti ada masalah yang terjadi.
__ADS_1
"Sat, are you ok?"
Satria hanya menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya pada headrest dan memejamkan matanya. Ridho yang melihat sikap sahabatnya itu menyimpulkan jika Satria sedang dalam masalah besar.
Ridho melajukan mobil nya menuju tempat dimana biasanya dirinya dan sahabatnya itu menenangkan diri disaat ada masalah.
Tiba lah mereka disebuah pegunungan yang jauh dari hiruk pikuk kota, tempat yang indah, tenang dan damai. Dari atas gunung dapat melihat keindahan kota di malam hari. Disini lah mereka bisa meluapkan segala emosi tanpa ada orang lain yang tahu.
Mereka berdua keluar dari mobil dan merebahkan tubuh mereka diatas kap mobil sembari menatap langit luas yang bertaburan bintang.
"Jelaskan padaku, ada masalah apa yang membuat mu seperti ini?" tanya Ridho.
"Aku pusing mikirkan kelakuan adik ku. Gara-gara dia, mamah harus terbaring karena sakit jantung nya. Dan sekarang dia menambah masalah baru yang lebih besar." Satria menghembuskan nafas nya secara kasar.
"Kamu tahu gadis yang berteman dengan Sandra? Seperti yang ku duga sebelumnya dia bukan hanya sekedar masuk angin." tambah Satria.
"Apa? Maksud kamu ... Raina beneran hamil?" tanya Ridho terkejut sembari bangun dari pembaringan nya.
"Iya. Dia sekarang hamil, mengandung calon keponakanku." jawab Satria.
"Astaga! Jadi, yang melakukan itu ... Awan adik mu." ucap Ridho dengan gusar.
Ridho benar-benar terkejut. Hatinya terasa begitu sakit. Gadis yang selama ini dia sukai telah dinodai oleh adik dari sahabatnya sendiri, hingga mengandung.
"Bagaimana bisa aku tidak pernah tahu hubungan antara Raina dengan Awan."
Satria menjelaskan semua yang telah dialami Raina. Sementara Ridho sudah terlihat sangat emosi dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku ingin kamu membantuku mencari keberadaan Awan." ucap Satria.
"Aku pasti akan membantu mu." balas Ridho.
Meskipun Ridho sangat marah, tapi dengan cepat dia mengendalikan dirinya. Dia tidak mau melampiaskan amarah nya kepada sahabatnya itu. Karena kesalahan terletak pada adik nya bukan kakak nya.
__ADS_1
"Aku tak akan membiarkan Raina menderita, aku akan melakukan apa saja agar gadis itu bisa tersenyum bahagia lagi."
Mohon like dan komen pada setiap episode yang kalian sukai ya βΊοΈπ