
"Maaf, adek nya yang tadi saya tabrak, ya?" tanya Adrian.
"Apa? Dia panggil aku, adik? Memangnya aku terlihat seperti anak kecil?" gerutu Sandra dalam hati.
Sandra tak lagi dapat menutupi dirinya.
Dengan sedikit malu, Sandra mencoba mengangkat kepalanya. Dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Tidak dapat dipungkiri, kedua pipinya bersemu merah karena menahan malu.
Sedangkan Raina, menahan tawanya melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
"Bagaimana pinggangnya? Apa masih sakit?" tanya Adrian lagi.
"Ehm ... sedikit." jawab Sandra sembari menyengir.
"Kalau masih merasa sakit? Mari, biar saya obati." Adrian menawarkan dirinya untuk mengobati Sandra.
"Eh - Ehm ... gak usah, Dok. Terimakasih. Paling juga nanti sakitnya hilang sendiri." balas Sandra dengan sedikit menarik sudut bibirnya.
"Jadi, saya harus seperti apa untuk menebus rasa bersalah saya?" tanya Adrian yang merasa tidak enak karena telah menabrak Sandra.
"Santai aja lagi, Dok. Gak usah merasa bersalah, anggap aja tadi hanya musibah kecil." jawab Sandra.
Raina berdehem cukup keras, memberikan kode pada sahabatnya itu agar memanfaatkan keadaan untuk bisa berkenalan dengan dokter Adrian lebih dekat.
Sandra menoleh ke arah Raina, seakan mengerti, dirinya hanya mencubit pelan paha Raina sebagai jawaban. Sontak mata Raina langsung mendelik ke arah sahabatnya itu, karena sudah memberi respon untuk kodenya dengan mencubit dirinya.
"Ekhem ... begini saja, bagaimana kalau sore nanti kita makan bareng? Saya mohon jangan ditolak." ucap dokter Adrian berdehem melihat tingkah kedua perempuan yang ada didepannya dan sambil melemparkan senyum manisnya yang membuat Sandra semakin terpesona.
"Eh ... i - iya, deh." jawab Sandra dengan tergugup.
"Baiklah, kalau begitu. Selesai pekerjaan, saya langsung kesini lagi menemui mu." ucap dokter Adrian bersama dengan anggukan kepalanya meminta izin untuk berpamitan keluar dari ruangan itu.
Begitu pula dengan Raina dan Sandra yang menjawab dengan anggukan kepala serta memberi senyuman pada dokter muda itu.
"Huftt ... aku gak lagi mimpi kan, Rai? Dia ngajakin aku buat makan bareng, Rai. Argghh, sumpah jantungku mau copot waktu dia bicara sedekat itu dengan ku." Sandra terus saja mengoceh sambil memegang tangan Raina dan menepuk-nepukkan tangan sahabatnya itu pada pipinya.
Sementara Bara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak sepupunya itu.
"Hahaha, dasar bucin. Gunakan kesempatan berharga ini untuk lebih dekat dengannya. Udah akh, aku mau balik ke kamar mamah dulu. Kasihan mamah gak ada yang nemenin. Dah ... Selamat menunggu sore." Raina melambaikan tangannya menggoda sahabatnya yang sedang kasmaran.
********
Raina kini sudah kembali ke kamar mertuanya, terlihat mertuanya baru saja kembali diperiksa oleh dokter. Karena berpapasan dengan dokter itu ditambang pintu saat dirinya hendak masuk ke ruangan itu.
"Mamah habis diperiksa lagi?" tanya Raina yang sudah duduk disamping kasur mertuanya.
"Iya, Rai. InsyaAllah, kalau kondisi Mamah stabil hingga besok, Mamah boleh pulang." jawab Ibu Santi.
"Alhamdulilah ... makanya Mamah jangan menunda makan dan minum obatnya biar cepat pulih. Dan juga jangan terlalu banyak mikir yang macam-macam." ucap Raina mengingatkan ibu mertuanya.
"Iya, sayang. Terimakasih sudah mengingatkan Mamah." balas Ibu Santi dengan senyuman.
__ADS_1
"Mamah mau makan buah? Biar Raina yang potongin." tanya Raina.
"Boleh." jawab Ibu Santi.
Raina pun langsung mengambil buah yang terdapat diatas nakas, mengupas kulitnya dan memotong-motong buah tersebut hingga menjadi potongan kecil.
Di sela-sela asik memberikan potongan-potongan buah itu kepada mertuanya, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
Dan masuklah Raka dan ibu Riska dengan Al yang berada digenggan sang nenek. Dengan langkah kecilnya dia langsung berlari ke arah Raina. Raina pun langsung menyambut Al dengan pelukan hangatnya.
"Assalamualaikum ...." ucap Ibu Riska dan Raka secara bersamaan.
"Walaikumsalam ...." balas Raina dan juga Ibu Santi.
Mata ibu Santi berkaca-kaca saat melihat kedatangan Al, cucunya yang sudah lama tidak ia lihat.
"Kamu sudah besar sekarang Le, sudah bisa lari-lari. Makin ganteng dan lucu sekali dirimu." ucap Ibu Santi sambil memengan tangan Al dan mengeluarkan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi menahan keharuannya melihat Al.
"Capa ntu, uda? To nanis-nanis? (Siapa itu, Bunda? Kok, nangis-nangis?)" tanya Al kecil sembari menunjuk ibu Santi dan juga melihat Bundanya untuk meminta jawaban.
"Ini neneknya adek juga, panggilnya Mbah Uti. Uti lagi kangen sama adek makanya, Mbah Uti nangis. Sayang dulu Utinya, Nak." jawab Raina sambil meminta anaknya untuk memeluk ibu Santi.
Al melihat ke arah Ibu Santi dan Ibu Riska secara bergantian, dia pun langsung turun dari pangkuan bundanya dan berdiri di depan ibu Riska yang tak lain adalah neneknya.
Kedua tangannya bersedekap didada dan matanya masih melihat ke arah Ibu Santi dan juga Ibu Riska bersamaan.
"Hmm, nda au. Ntu no no nyenye Al. Ini nyenye Al. (Hmm, gak mau. Itu bukan nenek Al. Ini nenek Al.)" Al membuang mukanya dan mengeluarkan mimik wajah angkuhnya khas gaya anak kecil yang lagi ngambek. Lalu langsung memeluk kaki neneknya yang tak lain adalah Ibu Riska.
"Adek kok, begitu? Itu juga neneknya Al. Itu ibunya ayah. Ayo, salim dulu sama Mbah Utinya adek." Ibu Riska langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Al.
"Ya sudah, gak apa-apa, Bu. Kalau anaknya gak mau. Dia masih belum terlalu mengenal saya. Ini juga karena salah saya yang mengabaikan cucu sendiri hingga sebesar ini." ucap Ibu Santi dengan rasa bersalahnya.
"Mah ... maaf, ya. Mamah jangan sedih, lambat laun kalau Al sering bertemu dengan Mamah, pasti dia akan mau juga dekat dengan Mbahnya." ucap Raina mencoba menguatkan hati serta menenangkan mertuanya agar tidak terlalu larut dalam rasa bersalahnya.
"Iya, sayang. Mamah mengerti, kok. Bisa lihat Al yang sekarang saja, Mamah sudah merasa senang." balas Ibu Santi sambil tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Raina.
"Bagaimana dengan keadaan Ibu sekarang?" tanya Ibu Riska yang masih menggendong Al.
"Alhamdulilah sudah membaik, Bu." jawab Ibu Sinta dan juga menyunggingkan seulas senyuman pada besannya itu.
Kriiit,
Suara derit pintu terbuka membuat semua yang berada didalam ruangan itu menoleh ke arah pintu tersebut.
"Assalamu - alaikum," ucap seseorang, orang tersebut yang tak lain adalah Satria. Yang mengucapkan salam itu dengan terbata.
Matanya membulat sempurna, dengan hati yang ragu dirinya tetap berjalan ke depan mendekati orang-orang yang berada didepannya.
Matanya tertuju pada sang istri, menyiratkan bahwa dirinya meminta jawaban bahwa semua nya baik-baik saja. Sang istri pun menganggukan kepalanya dan tersenyum bahagia menandakan semua baik-baik saja.
Dirinya dapat bernafas lega dan membuang semua rasa ragunya. Terlebih saat melihat Al yang langsung turun dari gendongan neneknya menghampiri sang ayah dengan wajah cerianya. Membuat Satria turut melebarkan senyumannya.
Satria langsung menyalami ibu mertuanya dan juga mamahnya. Terlihat jelas diwajah sang mamah, jika wanita paruh baya itu sedang merasa bahagia.
__ADS_1
Satria duduk ditepi kasur mamahnya dengan masih menggendong Al. Sementara Raina sudah berdiri disamping suaminya, berganti dengan Ibu Riska yang duduk dikursi samping besannya.
"Ayah, Ayah, ini nyenyek Al. Ini no no nyenyek Al. Kan, kan? (Ayah, Ayah, ini nenek Al. Ini bukan nenek Al.)" Suara Al memecahkan suasana yang canggung.
Al yang memegang kedua pipi ayahnya, memberitahukan pada ayahnya siapa neneknya dan yang bukan neneknya dengan menunjuk satu per satu ke arah Ibu Riska dan juga Ibu Santi. Seakan meminta jawaban bahwa apa yang dirinya katakan adalah benar pada ayahnya. Dengan ekspresi lucu yang menggemaskan itu dan juga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Satria tertawa kecil melihat tingkah polos Al.
"Anak pintarnya Ayah. Iya, ini neneknya Al dan yang ini Mbah Utinya Al." ujar Satria sambil mengusap lembut kepala bocah menggemaskan itu.
"No, no, nyenyek ya. Enti aja, ya. (Bukan nenek, ya. Uti aja, ya)." ucap Al dengan wajah polosnya dan kembali menganggukan kepalanya setiap berbicara.
"Iya, sayang. Al sudah sayang Uti, belum?" tanya Satria.
Al kembali memandang ke arah Mbah Utinya, lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa?" tanya Satria lagi.
"Tatut. (Takut)" jawab Al.
"Kenapa Al, takut? Mbah Uti juga baik, sama seperti neneknya Al." Satria mencoba menjelaskan pada anak lelakinya itu agar mau memeluk mamahnya.
"Ntu, tatut. Utik, utik, iiihhhh. (Itu, takut. Suntik, suntik, iiihhhh.)" jawab Al bergidik ngeri sambil menunjuk infusan yang masih menancap ditangan mbah nya.
Satria menepuk dahinya karena sudah salah menduga. Ia mengira jika bocah lelaki ini takut pada mamahnya, ternyata Al takut pada infusan mamahnya.
Semua pun tertawa melihat tingkah Al yang sangat menggemaskan.
"Tapi, kalau Mbah Uti sudah gak pake itu, Al mau sayang Mbah Uti?" tanya Raina.
"Au. (Mau)" Al menjawab dengan mantap dan membuat Ibu Santi tersenyum mendengar jawaban dari cucunya itu.
"Nanti kalau Mbah sudah lepas infusan, peluk Mbah yo, Le ... nanti Mbah ajak Al main di mall, kalau Mbah sudah sehat." ucap Ibu Santi bersemangat.
Al hanya menganggukan kepalanya sambil menghentak-hentakkan bokongnya dipangkuan sang ayah.
"Bagaimana dengan keadaan Mamah sekarang?" tanya Satria pada mamahnya.
"Alhamdulilah, Mamah sudah lebih baik sekarang. Apalagi, saat melihat kedatangan cucu Mamah yang gembul ini, Mamah semakin bersemangat untuk cepat sembuh." jawab Ibu Santi sambil tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Alhamdulilah ...." ucap Satria.
"Oh ya, maaf saya hanya bisa membawakan ini saja." ucap Ibu Riska sembari mengambil keranjang parcel buah dari Raka dan meletakkannya diatas nakas.
"Tidak apa-apa, Bu. Dengan kehadiran kalian saja, saya sudah sangat berterimakasih karena sudah mau datang kemari untuk menjenguk saya. Saya yang malu dengan keluarga ibu, saya sudah jahat dengan anak ibu. Tapi, ibu masih mau datang menjenguk dan membiarkan saya untuk tetap bertemu dengan cucu saya." ucap Ibu Santi kembali mengingat kesalahannya.
"Sudah, Bu. Yang lalu, biarlah berlalu. Tidak usah diingat-ingat kembali. Yang terpenting sekarang, kita hidup dalam damai. Dan rumah tangga anak-anak kita selalu akur dan tenteram." balas Ibu Riska berbesar hati untuk memaafkan besannya itu.
"Terimakasih, Bu." ucap Ibu Santi sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan ibu Riska.
Ibu Riska pun membalasnya dengan menggenggam hangat tangan mertua dari anaknya itu dan memberikan senyum ramahnya.
Raina menyeka air mata yang tak sengaja menetes tiba-tiba karena terharu menyaksikan ibu serta mertuanya saling memaafkan. Begitu pula dengan Satria yang merasa lega dan bahagia, karena mamahnya sudah mau membuka hatinya dan menyesali kesalahan yang telah diperbuat mamahnya itu.
Saya mengucapkan banyak-banyak Terimakasih pada kalian semua yang masih mau menunggu author ini untuk UP lagi, karena beberapa hari kemarin sudah libur untuk UP.
__ADS_1
Jangan lupa tetap berikan like dan vote sebanyak mungkin, ya! ππ