Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kecelakaan


__ADS_3

Dengan cepat Satria langsung menekan nama Sandra untuk kembali melakukan panggilan telepon. Tak berapa lama kemudian, Sandra pun langsung mengangkat


telepon tersebut.


[Hallo, assalamualaikum Mas. Mas cepat ke rumah sakit umum kencana. Bara kecelakaan, Mas langsung ke IGD aja, ya.]


Sandra langsung berbicara tanpa jeda dan tanpa memberi kesempatan Satria bertanya sebelumnya karena dia sudah memberitahukan maksudnya menelepon kakak sepupunya itu.


[Oh iya, Mas langsung kesana.]


Panggilan telepon pun langsung ia diakhiri. Satria langsung bergegas menuju kantor untuk meminta izin pada atasannya tanpa makan terlebih dahulu.


Perasaan tidak enaknya pun terjawab sudah, ternyata karena adiknya yang sedang kecelakaan itu yang membuat perasaannya tidak enak.


Setelah mendapat izin, Satria langsung membereskan bekal yang sudah ia keluarkan tadi kembali memasukkannya ke dalam tasnya. Satria pun langsung beranjak keluar untuk mengambil sepeda motornya yang berada di parkiran.


"Sat, mau kemana?" tanya Deki yang melihat Satria terburu-buru.


"Rumah sakit." jawab Satria setengah berteriak.


Sesampainya diparkiran, Satria langsung menghidupkan sepeda motornya itu dan mulai memacunya dijalan. Satria memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi untuk cepat sampai di rumah sakit.


********


Sementara itu, dirumah sakit sudah ada ibu Santi, Sandra dan juga bunda Eva. Karena saat ibu Santi menerima kabar bahwa Bara kecelakaan, dirinya langsung menghubungi adik bungsunya itu.


Tak hanya itu, orang yang telah menabrak Bara pun juga turut berada disana. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan atas kelalaiannya dalam berkendara.


"Yang sabar ya, Yu. Kita doakan saja semoga Bara tidak apa-apa. Mbak jangan terlalu berpikir keras, nanti malah Mbak yang nge-drop." ucap Bunda Eva sembari mengusap lembut punggung kakak perempuannya itu.


"Saya akan bertanggungjawab penuh atas kesalahan saya, Bu. Saya tidak akan lari dari kesalahan saya, sampai korban benar-benar dipastikan sembuh." ucap lelaki yang bertubuh tegap dengan lengkap mengenakan seragam dinasnya.


Ibu Santi hanya diam tanpa menjawab perkataan adik maupun lelaki yang sudah membuat anak bungsunya itu terbaring lemah diatas brankar ruang IGD.


"Bun, barusan Mas Satria nelpon balik ke Sandra. Sandra susah memberitahukannya, sekarang Mas Satria dalam perjalanan menuju kesini." ucap Sandra yang baru saja menerima panggilan telepon dari kakak sepupunya itu.


Lelaki yang telah menabrak Bara itu mengernyitkan dahinya saat mendengar nama Satria.


"Satria, seperti nama yang aku kenal. Hmm, nama Satria banyak dimiliki orang, mungkin bukan Satria yang itu yang dimaksud gadis ini." batin lelaki itu.


Tak lama kemudian, Satria sudah sampai diparkiran rumah sakit. Satria langsung memarkirkan sepeda motornya dan setelah itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang IGD yang sudah di beritahukan oleh adik sepupunya.


Satria melihat keberadaan mamah beserta adik sepupu dan juga bundanya. Tapi, matanya juga tertuju pada seorang lelaki yang tidak asing menurutnya.


"Assalamu'alaikum ...." sapanya pada semua orang, tak lupa dirinya menyalami dan mencium punggung tangan mamah dan bundanya penuh takzim.


"Walaikumsalam ...." balas mereka semua yang ada disana bersamaan.

__ADS_1


Baru pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya ibu Santi yang tak lain adalah mamahnya Satria itu membalas dan menyambut uluran tangan sang anak saat Satria ingin menyalaminya.


Kemudian, Satria mengalihkan pandangannya kepada seorang lelaki yang bertubuh tegap yang berdiri menyandar dinding. Kedua mata mereka saling beradu. Satria masih mengingat-ingat siapa lelaki ini. Sementara lelaki itu terkejut saat mengetahui bahwa dugaannya ternyata benar.


"Ehm, selamat siang, Pak. Apa Bapak yang menangani kasus kecelakaan adik saya?" tanya Satria pada lelaki yang berseragam dinas kepolisian.


"Apa dia tidak mengenaliku?" batin lelaki itu.


"Dia yang sudah membuat Bara celaka, Nak." ucap Bunda Eva menimpali.


Satria tersentak saat tahu bahwa yang telah menabrak adiknya adalah seorang polisi.


"Maaf, Mas. Saya sangat bersalah, saya akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya. Lebih baik, kita urus semuanya secara kekeluargaan." ucap lelaki itu.


Satria memicingkan kedua matanya, menatap lekat wajah lelaki yang berdiri tegap dihadapannya.


"Saya sepertinya pernah mengenal atau melihat anda, tapi dimana ya?" Satria terus berfikir keras untuk mengingatnya.


"Iya, sebelumnya memang kita sudah pernah mengenal. Saya Dino, kakak tertua Erlina." jawab lelaki tersebut yang ternyata adalah kakak kandung Erlina, mantan kekasih Satria.


Satria semakin terkejut saat tahu siapa yang berdiri dihadapannya dan yang sudah membuat adiknya tidak sadarkan diri sekarang.


"Oh iya, saya baru ingat." ucap Satria dengan tersenyum kecut.


"Permisi, keluarga pasien atas nama Bara." ucap salah seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Iya, saya mamahnya, Dok." balas Ibu Riska yang langsung berdiri.


"Lakukan yang terbaik Dok, untuk adik saya." ucap Satria.


Sementara Ibu Santi tidak dapat berkata apa-apa lagi, tubuhnya terhuyung karena rasa sakit kepala yang mendera tiba-tiba setelah mengetahui keadaan anaknya.


Satria langsung mengangkat tubuh mamahnya untuk mendapatkan perawatan segera, karena yang ia takutkan adalah jika penyakit jantung mamahnya kembali kambuh.


Dino semakin merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi, meskipun dirinya bertanggungjawab penuh atas kesembuhan serta biaya untuk pengobatan korbannya dan menyelesaikan permasalahan ini dengan secara kejeluargaan, tapi tidak bisa dipungkiri dia akan tetap mendapatkan hukuman dari kepolisian dimana dia bekerja atas kelalaiannya dalam berkendara. Karena beritanya sudah viral dan apalagi saat itu, dirinya masih mengenakan seragam tugasnya.


Setenang dan setegar mungkin Dino akan menghadapi semuanya. Tak berapa lama, beberapa anggota polisi bersamaan dengan keluarga Dino juga datang kerumah sakit.


"Maaf, Pak Dino. Kami ditugaskan untuk menjemput Pak Dino." ucap salah satu rekan kerja Dino.


Dino hanya mengangguk pasrah dan tetap akan melakukan prosedur yang berlaku.


"Yang sabar ya, Nak. Papah akan disini untuk menemui keluarga korban." ucap Pak Hendrawan pada sang anak.


"Aku akan nemenin kamu, Mas." ucap sang istri menguatkan Dino.


"Terimakasih, semuanya." ucap Dino.

__ADS_1


Dengan langkah gagah dan tetap tenang, Dino pun mengikuti langkah kedua rekannya yang menjemput dirinya. Dia sudah siap untuk menerima konsekuensinya nanti.


Sementara itu, didepan ruang IGD hanya tertinggal bunda Eva yang menunggu Bara, karena Satria dan Sandra mengurus ibu Santi yang dalam perawatan karena pingsan tadi. Jadi, bunda Eva tahu bagaimana cerita penjemputan Dino.


"Assalamualaikum, apa ibu ini ... ibu dari korban?" tanya Pak Hendrawan yang didampingi oleh istri dan juga anak perempuannya yang tak lain adalah Erlina.


"Walaikumsalam ... bukan, saya tantenya. Ibunya Bara sekarang lagi diruang perawatan karena pingsan saat mendengar kondisi anaknya." jawab Bunda Eva.


"Kalau saya boleh tahu, bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya Pak Hendrawan lagi.


Bunda Eva pun menjelaskan bagaimana kondisi keponakannya sesuai dengan penjelasan dari dokter tadi tanpa ia kurangi maupun ia tambahi penjelasannya.


"Astagfirullah ... kami benar-benar sangat meminta maaf, semua karena kelalaian anak saya hingga membuat keponakan ibu dalam keadaan kritis seperti ini." ucap Ibu Ros, istri Pak Hendrawan.


"Semua musibah, Bu. Saya sudah mendengar penjelasan dari saksi yang melihat kejadian langsung di TKP. Mas Dino menghindari ibu-ibu tua yang tiba-tiba menyebrang jalan, hingga dia tidak sadar ada sepeda motor yang akan menyelip hingga terjadi kecelakaan ini." balas Bunda Eva mencoba ikhlas atas apa yang sudah terjadi.


Tak lama kemudian, Satria datang kembali untuk menemui bunda Eva. Dirinya terkejut saat melihat keluarga dari mantan beserta mantannya berada disitu.


"Om, Tante, Lin ...." sapa Satria dengan sopan.


"Eh, Satria. Kamu kok, berada disini?" tanya Pak Hendrawan.


"Iya, karena adik saya yang berada didalam." jawab Satria.


"Jadi ... Bara itu adik kamu?" tanya Ibu Ros lagi.


"Iya, Tan." jawab Satria cepat.


Sementara Erlina hanya diam saja membiarkan kedua orangtuanya yang berbicara.


"Bun, Satria izin pulang dulu. Mau ganti baju dan juga mengambil keperluan mamah. Mamah harus di opname karena jantungnya kambuh." ucap Satria pada Bunda Eva.


"Astagfirullah! Jadi, penyakit jantung tante Santi kambuh?" tanya Erlina yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Satria hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Sementara Bunda Eva memperhatikan Erlina yang sedari tadi terlihat tidak biasa saat melihat kedatangan Satria, apa lagi melihat Erlina yang begitu khawatir dengan kondisi kakak perempuannya itu.


"Ya sudah, kamu hati-hati, ya." balas Bunda Eva yang mulai mengalihkan pandangannya pada Satria.


Satria pun melangkah keluar rumah sakit setelah berpamitan pada semua orang yang berada didepan ruang IGD itu.


Hatinya benar-benar kalut, dia harus menerima dua berita tidak mengenakan sekaligus. Adiknya harus terbaring kritis karena kecelakaan dan mamahnya juga ikut terbaring dirumah sakit karena penyakitnya kembali kambuh. Tapi dirinya juga merasa senang karena mamahnya sudah mau ia dekati.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian berkenan, silahkan berikan tip kalian untuk author 😜


__ADS_2