Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Periksa Kehamilan


__ADS_3

Mobil mulai melaju dijalan, membawa Raina dan Satria menuju rumah sakit khusus untuk ibu dan anak. Satria memarkir kan mobil nya di halaman parkir rumah sakit tersebut. Raina merasa gugup karena ini pertama kalinya dirinya membawa kandungan nya untuk diperiksakan.


Satria pun menyadari kegugupan Raina, dirinya mencoba memposisikan dirinya untuk menjadi seorang suami yang baik untuk Raina.


"Mari sini ku bantu." ucap Satria membukakan pintu mobil untuk Raina dan mengulurkan tangannya pada Raina.


Raina terdiam melirik tangan yang telah terulur dan menatap wajah Satria secara bersamaan.


"Ayo lah, jangan sungkan. Aku kan, suami mu. Kamu tak perlu malu seperti itu." ujar Satria yang masih menunggu tangannya untuk disambut oleh Raina.


Mendengar ucapan dari Satria, Raina pun memberanikan dirinya untuk menyambut tangan Satria. Satria pun tersenyum, karena Raina mau meyambut uluran tangan nya.


Mereka pun, memasuki lorong demi lorong rumah sakit itu dengan bergandengan tangan. Hingga mereka tiba didepan ruangan dokter kandungan pun, Satria masih saja menggenggam tangan Raina dengan erat.


"Mas, bisa tidak tangannya dilepas dulu?" pinta Raina pada Satria.


"Eh, ehm ... maaf, keterusan megangnya." ucap Satria dengan senyum kikuk.


Raina pun berdiri dan bermaksud untuk mendaftarkan dirinya terlebih dahulu.


"Kamu mau kemana?" tanya Satria.


"Aku mau daftar dulu, Mas. Aku kan, belum mendaftarkan diriku. Dari tadi, Mas Satria genggam tanganku terus." jawab Raina dan seketika membuat wajah Satria memerah menahan malu.


"Ehm, biar aku saja yang mendaftarkan. Kamu tunggu saja disini." ucap Satria yang masih menahan malu.


"Oh, baiklah." Raina pun menurut dengan perkataan Satria dan dia kembali duduk lagi.


Satria sudah berada di meja pendaftaran yang tak jauh dari kursi Raina menunggu. Dia duduk didepan seorang perawat yang melayani pendaftaran dan juga sekaligus bertugas untuk pemeriksaan awal.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Perawat itu.


"Saya mau mendaftarkan istri saya untuk memeriksakan kandungan nya." jawab Satria.


"Apa sebelumnya sudah pernah periksa kandungan disini?" tanya Perawat itu lagi.


"Belum. Ini baru pemeriksaan pertamanya." jawab Satria.


"Baiklah. Bapak bisa mengisi formulir ini terlebih dahulu." ucap Perawat itu sembari menyodorkan selembar formulir kepada Satria untuk diisi.

__ADS_1


Satria membaca dan mengisi formulir pendaftaran itu. Tak ada halangan apa pun dalam mengisi formulir tersebut, karena dia sudah menghafal identitas Raina dengan benar. Sehingga sangat mempermudahkan nya dalam mengisi formulir itu. Dan formulir tersebut juga meminta identitas suami dari pasien. Jelas Satria pun dengan lancar mengisi identitas dirinya sendiri.


"Sudah, Sus." ucap Satria sembari menyodorkan kembali selembaran itu kepada sang perawat.


"Baik." balas Perawat itu dan menerima kembali selembarannya.


Kemudian perawat tersebut mencetak sebuah kartu untuk pasien.


"Jika melakukan pemeriksaan disini lagi, silahkan kartu ini dibawa ya, Pak." ucap Perawat itu ramah sembari memberikan kartu pasien itu pada Satria.


"Iya, Sus. Terimakasih." jawab Satria dan menerima kartu tersebut.


"Bisa minta tolong untuk memanggilkan istrinya kesini, Pak. Saya akan memeriksa nya terlebih dahulu sebelum memasuki ruang pemeriksaan selanjutnya dengan dokter."ucap Perawat itu.


Satria pun mengiyakan apa yang diminta oleh perawat itu. Dia berjalan menghampiri Raina yang sedang duduk menunggunya.


"Rai, suster nya meminta mu untuk kesana melakukan pemeriksaan awal." kata Satria.


"Oh, iya." Raina pun berjalan ke arah meja yang tadi didatangi Satria.


Raina telah duduk disebelah sang perawat untuk melakukan pemeriksaan awal.


"Semua nya normal ya, Bu. Apa ada keluhan?" tanya Perawat itu.


"Untuk sekarang saya masih suka merasakan pusing dan mual padahal ini sudah memasuki bulan ke lima." jawab Raina.


"Oh, itu tidak masalah, Bu. Memang morning sicknes biasanya hanya diawal kehamilan hingga pada bulan ke tiga. Tapi, jika ibu masih merasakan nya, itu masih dalam hal wajar selama pusing dan mualnya tidak terlalu berat hingga ibunya mengalami dehidrasi tinggi." ucap Perawat itu menjelaskan.


"Tidak, pusing dan mualnya hanya sesekali saja." balas Raina.


"Itu tidak masalah, Bu. Baiklah, silahkan ibu menunggu panggilan selanjutnya untuk pemeriksaan selanjutnya dengan dokter." ucap Perawat itu sembari memberikan Raina sebuah buku berwarna pink yang tertulis "Buku Kesehatan Ibu & Anak" disampul depannya.


Raina pun menerima buku tersebut dan melangkah ke arah tempat duduknya semula, yang masih ada Satria disana menunggunya dengan setia.


Mereka berdua menunggu antrian demi antrian, hingga nama Raina dipanggil.


"Ibu Raina Hapsari." panggil Perawat yang membantu sang dokter didepan pintu masuk ruangan.


"Iya, saya." ucap Raina.

__ADS_1


Raina pun melangkah masuk kedalam ruangan dokter kandungan, sementara Satria mengekornya dibelakang. Satria tidak ingin mensia-siakan melihat perkembangan sang keponakan yang akan menjadi anaknya itu.


Raina diperintahkan untuk berbaring dikasur untuk pemeriksaan selanjutnya, dokter kandungan itu mulai mengoleskan sebuah gel khusus diperut Raina dan dokter mulai menggerakkan sebuah alat diatas perut Raina.


Satria dan Raina pun memperhatikan gambar yang berada dilayar.


"Ini letak placentanya, ini air ketubannya baik, si dedek juga sehat beratnya sudah normal sesuai dengan usia kandungan ibu, semua posisinya baik." ucap sang Dokter.


Lalu sang Dokter menyalakan sebuah alat seperti speaker pada monitor agar sang pasien dapat mendengar detak jantung buah hatinya.


"Dengar ya, ini detak jantung anak ibu dan bapak. Detak jantung nya teratur dan bagus. Apa kalian ingin melihat jenis kelamin nya?" tanya sang Dokter setelah menjelaskan kesehatan sang buah hati.


"Iya, Dok. Kami ingin mengetahui nya." jawab Satria antusias.


Sedangkan Raina hanya menganggukan kepalanya setuju, tak terasa bulir bening disudut matanya menetes begitu saja setelah dirinya mendengar suara detak jantung sang buah hati. Dirinya tak menyangka jika ada sebuah nyawa yang hadir didalam rahim nya.


"Ini kedua matanya, ini kedua telinganya, ini hidung dan ini mulutnya. Ini kedua tangannya lengkap dengan jari-jari nya yang sudah terbentuk, begitu juga dengan kedua kakinya. Dan ini yang terlihat seperti belalai, ini kelamin anak Ibu dan Bapak." ucap sang Dokter menjelaskan dengan senyum ramah nya.


" Berarti anak saya laki-laki ya, Dok." sahut Satria dengan mata yang berbinar-binar bahagia.


"Iya, Pak. Tapi semua kita serahkan lagi kepada Tuhan yang mengatur semuanya." balas Dokter itu.


Raina sudah duduk dikursi disebelah Satria yang berhadapan dengan dokter yang telah memeriksa nya. Dokter pun mencatat riwayat pemeriksaan nya dibuku berwarna Pink yang dibawa Raina. Dokter juga menuliskan hari perkiraan lahir pada buku itu.


Setelah menyaksikan langsung dilayar monitor perkembangan sang bayi, Satria begitu sangat bersemangat menanyakan hal apa saja seputar tentang kandungan Raina. Karena, kandungan Raina terbilang sehat dan kuat, jadi tidak ada masalah apa pun pada Raina. Dokter hanya memberikan resep vitamin untuk Raina dan meminta kedua pasangan itu untuk menebus nya di apotik rumah sakit.


Setelah puas dengan penjelasan dari dokter dan menerima resep obat, mereka berdua pun berpamitan dan keluar dari ruangan itu.


"Terimakasih ya, Mas." ucap Raina pada Satria.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Satria.


"Terimakasih, Mas sudah menyempatkan waktu untuk menemani ku memeriksakan nya." jawab Raina sembari mengelus perut buncit nya.


Satria hanya tersenyum mendengar penuturan Raina. Baginya, dengan dia yang dapat memperhatikan Raina dan sang bayi, berharap agar dirinya dapat menebus kesalahan yang telah dilakukan oleh adiknya yang telah mensia-siakan Raina. Dia berjanji untuk memperlakukan dan memberikan yang terbaik untuk Raina beserta anaknya.


**Mohon like, komen, vote serta tinggalkan rate untuk karya author 😘


Dukungan kalian sangat berarti untuk author agar lebih semangat UP nya πŸ˜πŸ™

__ADS_1


Mohon maaf, jika author hanya UP 1 episode saja, karena author lagi kurang enak bodi. Tapi author tetap berusaha UP setiap harinya β˜ΊοΈπŸ€—**


__ADS_2