Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Bukan Pemberi Harapan Palsu


__ADS_3

"Sekarang sudah duduk. Ayo, ceritakan pada pakde masalahmu." titah Pakde Suseno.


Pakde Suseno merupakan orang yang selalu bisa diandalkan jika keponakan-keponakan atau saudara-saudaranya meminta solusi jika sedang menghadapi suatu masalah yang berat. Beliau selalu berfikir kritis dan bijaksana dalam memberikan solusi.


"Ini ... tentang mamah dan juga Raina, Pakde." ucap Satria


"Kenapa? Bukannya tidak lama lagi, kamu dan Raina akan kembali membangun nikah?" tanya Pakde Suseno.


"Itu dia, Pakde. Mamah tidak merestui, jika Satria dan Raina kembali melanjutkan pernikahan ini. Bahkan, mamah dengan terang-terangan meminta Raina untuk berpisah dengan Satria dan juga meminta Raina untuk kembali lagi dengan Awan." jawab Satria.


"Lho ... kenapa bisa begitu, Mas?" tanya Sandra dengan ekspresi terkejutnya.


Sama halnya dengan Sandra, pakde Suseno juga tampak terkejut mendengar penuturan Satria.


"Ada apa dengan mamah mu itu? Bukannya saat musyawarah dirumah Raina, dirinya setuju apa pun keputusanmu dan juga Raina. Kenapa dia tiba-tiba berbuat seperti ini? Ini sama saja, dirinya sudah mempermalukan dirinya sendiri dan keluarga kita dihadapan keluarga Raina." Pakde Suseno terlihat marah dengan mendengar apa yang telah diperbuat oleh adiknya itu.


"Alasannya, mamah takut jika akan terjadi perpecahan antara saya dan juga Awan nantinya. Dan mamah tidak rela jika saya dan Raina harus berbahagia diatas penderitaan Awan disana. Padahal, sebenarnya Awan sudah sangat ikhlas dan merelakan Raina dengan saya, Pakde. Tapi, mamah tetap kekeh dengan keputusannya. Lebih baik kita berdua tidak ada yang bersama dengan Raina, itu maunya mamah." jawab Satria.


"Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu, mamah mu kalau sudah ada maunya memang seperti itu. Mau menang sendiri dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Apa kamu yakin, kalau Awan benar-benar sudah ikhlas melepas Raina?" tanya Pakde Suseno.


"Iya, Pakde. Satria sudah menemui Awan kemarin. Dan Satria yakin, bahwa Awan berkata dengan tulus." jawab Satria.


Pakde Suseno terdiam mendengar jawaban dari keponakannya itu. Dirinya berfikir akan seperti apa langkah selanjutnya.


"Apa kamu sudah mencoba berbicara lagi pada mamah mu?" tanya Pakde Suseno.


"Satria sudah mencoba berbicara lagi kemarin sepulang dari pulau B, tapi hati mamah masih seperti batu." jawab Satria.


Pakde Suseno menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya secara perlahan.


Sementara dilantai bawah, Bi A'ah sedang membuatkan minuman untuk majikannya dan juga untuk Satria dan Sandra.


"Bi ... kok, buat minumannya tiga gelas? Memangnya untuk siapa?" tanya Bude Yati yang baru saja masuk ke dapur.


"Kopi untuk bapak, sirup untuk non Sandra dan juga den Satria, Bu." jawab Bi A'ah.


"Ada Sandra dan Satria? Kapan mereka datangnya? Kok, saya tidak tahu. Sekarang mereka ada dimana?" tanya Bude Yati lagi.


"Iya, Bu. Sekitar jam setengah lima tadi mereka datang. Sekarang mereka lagi berada dibalkon bersama bapak." jawab Bi A'ah.


"Oh, begitu. Ya, sudah Bi ... antar kan saja dulu minumannya. Baru bantu saya untuk persiapkan makanan buat mereka." ucap Bude Yati.


Bi A'ah pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan segera melakukan perintah dari majikannya itu.


*****


Kembali ke balkon.


"Apa kamu sudah memberitahukan hal ini lagi pada keluarga Raina? Bahwa mamah mu masih dengan keputusannya?" tanya Pakde Suseno.


"Belum, Pakde. Satria tidak sanggup mengatakannya, terutama pada Raina. Pasti dirinya sangat kecewa." jawab Satria.

__ADS_1


"Tapi kamu tetap pada keputusan awal, kan?" tanya Pakde Suseno.


"Iya, Pakde. Satria gak mau dibilang sebagai laki-laki yang hanya memberi harapan palsu. Satria akan bertanggungjawab sesuai dengan yang telah Satria ucapkan." jawab Satria.


"Bagus, laki-laki memang harus seperti itu." ucap Pakde Suseno.


Tak lama kemudian, Bi A'ah datang membawa nampan yang berisikan minuman dan juga cemilan.


"Permisi ... bibi bawakan minuman dan juga cemilan." ucap Bi A'ah sembari meletakkan minuman dan juga cemilan itu diatas meja kecil yang terletak ditengah-tengah antara Satria dan juga Pakde Suseno.


"Terimakasih, Bi." ucap Sandra dan juga Satria, sedangkan Pakde Suseno hanya memberi anggukan kepalanya sebagai balasan.


"Iya, sama-sama. Bibi permisi dulu, mau kembali ke bawah lagi." ucap Bi A'ah.


"Silahkan, Bi." balas Sandra.


Setelah kepergian Bi A'ah, semua kembali pada topik pembicaraan. Dan Sandra tetap menjadi pendengar setia, meskipun dirinya merasa kesal dengan budenya itu yang tak lain adalah mamahnya Satria. Yang sudah menghancurkan perasaan sahabatnya.


"Dari tadi ngomong mulu. Ayo, Pakde ... Mas Satria, diminum dulu tuh, minumannya. Kasian tenggorokan nya, pasti sudah seret dari tadi." ucap Sandra basa-basi.


"Ah, bilang aja ... kalau kamu yang sudah haus dari tadi." ledek Satria sembari menyodorkan segelas es sirup pada adik sepupunya itu.


Sandra menerima gelas yang diberikan Satria dengan bibir yang cengar-cengir.


"Ini sudah semakin sore. Sebaiknya kamu mandi, bersihkan tubuh mu itu. Nanti kita maghriban bareng. Setelah itu, baru lanjutin pembicaraan ini." ucap Pakde Suseno pada Satria.


"Iya, Pakde." balas Satria.


Di kediaman Raina.


Aldo yang baru saja pulang dari bekerja langsung dihadang ibu Riska didepan pintu rumah.


"Aldo, ibu mau bicara." ucap Ibu Riska yang kini sudah duduk disofa ruang tamu.


"Ada apa, Bu?" tanya Aldo penasaran dan ikut duduk disamping ibunya.


"Ehm, apa sudah ada kabar dari Satria bagaimana selanjutnya?" tanya Ibu Riska.


"Belum, Bu. Kenapa?" tanya Aldo lagi.


"Kok, kenapa? Ibu kasihan sama adik kamu, Do. Akhir-akhir ini, dia sering banget melamun. Dia pasti kepikiran terus dengan permasalahan ini. Kalau dia begitu terus, ibu takut ... kalau Raina akan jadi stres dan berdampak pada Al. Kita harus secepatnya selesaikan ini semua." jawab Ibu Riska dengan nada khawatir.


"Ehm, nanti Aldo coba menghubungi Satria dan tanyakan lagi seperti apa hasil pembicaraan dia dengan ibunya. Aldo juga gak mau lihat adik Aldo digantung lama-lama seperti ini." ucap Aldo.


"Iya, Do. Harus secepatnya." balas Ibu Riska.


********


Rumah Pakde Suseno.


Selepas sholat maghrib berjamaah, semua berkumpul dimeja makan untuk makan malam. Semua menikmati makanan yang telah dibuat oleh Bude Yati dan Bi A'ah.

__ADS_1


"Sat, setelah makan ... kita ke rumah Raina. Pakde mau minta maaf pada keluarganya dan juga dia. Setidaknya kita harus memberi keyakinan pada mereka, bahwa kamu bersungguh-sungguh ingin melanjutkan pernikahan ini." ucap Pakde Suseno yang baru saja menghabiskan makanannya.


"Iya, Pakde." jawab Satria tanpa embel-embel apa pun.


Bude Yati hanya memperhatikan suaminya tanpa bertanya apa pun pada suaminya mengenai apa yang telah dibahas suaminya itu dengan keponakannya. Karena, suaminya itu pasti akan menceritakannya sendiri tanpa ditanya.


Satria sudah menyelesaikan makannya, begitu juga dengan Sandra. Kedua saudara sepupu itu sama-sama mendekati pakdenya yang kini tengah duduk diruang keluarga.


"Pakde, kita jadi ke rumah Raina sekarang?" tanya Satria.


"Jadi, apa kamu sudah siap?" Pakde Suseno kembali bertanya pada Satria.


"Insya'Allah ... siap, Pakde." jawab Satria.


"Kalau begitu ... Sandra pulang aja ya, Mas. Sandra gak ikut ke rumah Raina, Sandra masih ada tugas kuliah yang harus dikerjain." ucap Sandra.


"Iya, San. Gak apa-apa, kok. Kan, nanti pergi kesana nya pakai mobil pakde juga. Pulangnya, nanti bisa pakai sepeda motornya Mas yang dirumah Raina." ujar Satria.


"Ok. Sekarang saja kita berangkat, takut kemalaman." ucap Pakde Suseno sembari melihat jam dinding.


Semua pun sudah berangkat ke tujuan masing-masing.


Ditengah perjalanan, Satria yang sedang mengemudi mobil milik pakdenya itu dikejutkan dengan getaran handphone disaku celananya. Satria melihat nama yang tertera dilayar ponselnya dan ternyata Aldo lah yang menelepon dirinya. Satria menggunakan earphone nya dan langsung menjawab panggilan telepon tersebut.


[Hallo ... assalamualaikum, Do.]


[Walaikumsalam ... Sat, aku mau menanyakan perihal hasil diskusi antara kamu dengan ibumu. Gimana?]


Tanpa basa-basi, Aldo langsung to the point memberi pertanyaan pada Satria.


[Ehm ... sebaiknya kita bicarakan ini langsung, Do. Biar tidak ada kesalahpahaman. Ini aku dan Pakde Suseno lagi dalam perjalanan menuju rumahmu.]


[Oh, begitu. Baiklah ... Hati-hati dijalan.]


Panggilan telepon pun diakhiri.


"Siapa yang nelepon, Sat?" tanya Pakde Suseno.


"Aldo, kakaknya Raina." jawab Satria.


Satria kembali fokus mengemudikan mobilnya agar lebih cepat sampai ditempat tujuan.


Bersambung.....


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2