Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Awal Setelah Pernikahan Ulang


__ADS_3

Matahari sudah membumbung tinggi, namun Satria dan Raina masih bermalas-malasan diatas kasur. Raina tersentak bangun saat mendengar ocehan Al. Pergumulannya semalam dengan Satria benar-benar membuat badannya begitu lelah.


Raina pun bangun dari tidurnya dan beranjak mengambil Al yang masih berada didalam kasur box nya. Raina terkejut saat melihat Satria yang masih tertidur dengan pulas diatas kasur, dengan cepat Raina langsung bergerak membangunkan Satria.


"Mas, bangun Mas. Sudah siang, apa kamu tidak bekerja? Kamu pasti telat, ayo cepat bangun Mas!" ucap Raina dengan menggoyang-goyangkan badan Satria.


Satria membuka matanya yang masih terasa begitu berat. Dia tersenyum pada Raina sambil mencubit pelan pipi chuby Al yang berada digendongan Raina. Kemudian membalikkan badannya memunggungi Raina dan kembali terlelap.


Raina menggelengkan kepalanya melihat Satria yang masih bermalas-malasan. Kini Raina sudah berpindah haluan, berada didepan Satria dan kembali membangunkan suaminya itu.


Tak ada respon, Raina membuka gorden yang masih tertutup dan sinar matahari langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kamar itu. Sinarnya yang menyilaukan mata itu langsung menerpa wajah Satria dan lelaki itu pun mengerjapkan kedua matanya.


"Memangnya sekarang sudah jam berapa?" tanya Satria dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Jam delapan. Ekh ... tidak, lebih tepat sudah jam setengah sembilan." jawab Raina.


"Hah! Serius?" Satria terkejut saat mendengar jawaban dari istrinya.


"Iya." jawab Raina cepat.


Raina mulai membuka pakaian Al untuk memandikan anaknya itu. Dengan cekatan dia melajukan tugasnya sebagai seorang ibu.


Saat dirinya kembali ke dalam kamar, dia masih melihat Satria yang masih bergulat dengan selimut diatas kasur.


"Mas gak kerja?" tanya Raina.


"Barusan Mas sudah menelepon kantor untuk meminta izin tidak bekerja hari ini. Mas lelah sekali, ini semua karena dirimu yang membuat Mas sampai selelah ini." celoteh Satria.


"Kenapa jadi salahku? Jelas-jelas ini semua perbuatan Mas. Kalau Mas gak sampai mengulangnya dua kali, pasti gak terlalu lelah seperti ini." ketus Raina.


"Karena kamu menggoda, kamu sudah membuat Mas ketagihan untuk melakukannya terus menerus." ucap Satria dengan menyeringai tipis.


"Jangan menatapku seperti itu, aku takut." ucap Raina.


"Takut kenapa?" tanya Satria.


"Takut kalau Mas akan melakukannya lagi." jawab Raina.


Satria tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari istrinya.


"Mas gak akan melakukannya lagi jika istri Mas ini masih kesakitan. Mas tidak sejahat itu kali." ucap Satria dengan mencium pipi Raina dan langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


Sementara Raina meletakkan Al diatas baby walker biar anaknya itu bisa bermain dan dirinya bisa membereskan rumah serta membuatkan makanan untuk sarapan mereka semua.


Raina membuka lemari es, hanya ada satu buah wortel yang tersisa disana. Dia lupa, jika dirinya belum berbelanja.


"Kenapa bengong disitu?" tanya Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Raina lupa, kalau belum berbelanja kebutuhan makanan. Cuma ada ini, jadi Raina gak bisa buatkan sarapan." jawab Raina dengan menunjukkan buah wortel itu pada Satria.


"Ya sudah, hari ini gak usah masak dulu. Kita beli makanan jadi aja. Kamu pasti sangat lelah, biar hari ini kita istirahat aja dirumah. Gak usah sibuk ngapa-ngapain dulu. Untuk sarapan pagi ini, nanti Mas belikan bubur ayam didepan gang sana. Kalau bubur ayam pasti Al juga bisa memakannya, kan?" ucap Satria.


"Iya, Mas." balas Raina.


"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Biar Al Mas bawa keluar beli bubur ayamnya." titah Satria.


"Apa Mas akan membawa Al dengan menggunakan sepeda motor?" tanya Raina.


"Iya, dong. Kamu bantu Mas dulu pakaikan gendongan nya Al." pinta Satria.


Raina pun berlalu masuk ke dalam kamar untuk mengambilkan gendongan kangguru itu untuk digunakan Satria menggendong Al.


Raina pun membantu Satria memakai gendongan itu dan memasukkan Al dalam gendongannya. Setelah siap, Satria pun pergi keluar untuk membeli bubur ayam bersama dengan Al menggunakan sepeda motornya.


Sementara Raina, langsung masuk ke dalam rumah lagi dan langsung mandi.


"Nih, bubur ayamnya." ucap Satria sembari menyodorkan bungkusan itu pada Raina.


Raina pun bergegas mempersiapkan makanan yang sudah dibeli oleh suaminya itu diatas meja makan. Setelah itu, kembali ke ruang tamu dengan semangkuk bubur ayam untuk menyuapi anaknya.


"Mas itu bubur ayamnya sudah Raina siapkan dimeja makan." ucap Raina.


"Lho, kamu gak ikut makan juga, Dek?" tanya Satria.


"Raina suapin Al dulu, Mas. Baru setelah ini Raina makan." jawab Raina yang mulai menyuapi anaknya itu.


Satria pun langsung beranjak ke dapur dan tak lama kemudian dia kembali ke ruang tamu dengan membawa semangkuk bubur ayam dan juga segelas air minum.


"Ayo, kita makan bareng. Kamu suapin Al, Mas suapin kamu." ucap Satria sembari mendaratkan tubuhnya disofa.


Raina tersenyum mendapatkan perhatian lebih dari Satria. Ini pertama kalinya Satria menyuapi dirinya.


"Sudah, Mas. Biar nanti Raina makan sendiri." ucap Raina.

__ADS_1


"Gak, harus sampai habis pokoknya. Kita makan sama-sama." balas Satria dengan tetap menyuapi Raina.


"Tapi kan, masih ada semangkuk lagi didalam? Terus siapa yang makan, dong?" tanya Raina.


"Ya, kita berdua lagi yang makan. Tapi gantian, kamu yang suapin Mas nanti." jawab Satria.


Raina hanya tersenyum melihat tingkah manja Satria. Setelah selesai makan, mereka bersantai diruang tamu sembari menonton televisi.


Tak ada kecanggungan lagi diantara keduanya, ini adalah hal yang sangat diharapkan oleh Raina sedari dulu. Menikmati masa-masa pernikahan mereka seperti layaknya pasangan suami dan istri lainnya.


Semua baru dimulai, keduanya seperti layaknya seorang remaja yang baru mengenal cinta. Karena memang awalnya tidak ada kata pacaran diantara keduanya, pertemuan yang singkat serta banyaknya lika-liku masalah yang harus mereka hadapi sehingga membuat keduanya masih kurang dalam masa penjajakan.


Raina sekilas melirik ke arah Satria yang fokus dengan acara televisi.


"Mungkin ini yang dinamakan pacaran setelah menikah. Rasanya lebih berbunga-bunga mungkin karena kita sudah halal. Terimakasih ya Rabb, kau pertemukan kami kembali dalam ikatan yang halal."


Senyum Raina mengembang setelah memikirkan tentang perjalanan cintanya yang sangat rumit dan berliku. Tanpa ia sadari, Satria melihat dirinya yang tersenyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Satria


"Hah! Mas memperhatikan aku?" Raina balik bertanya dengan wajah yang bersemu merah karena menahan malu sudah ketahuan oleh Satria.


"Hahaha ... iya! Mas dari tadi perhatikan kamu yang gak fokus dengan serial televisinya, kamu malah asik melamun sambil senyum-senyum gitu. Memangnya kamu lamunin apa, sih?" Satria kembali bertanya.


"Hhe, Raina memikirkan hubungan kita." jawab Raina dengan masih tersipu malu.


"Jangan diingat lagi masa-masa sulit kita yang lalu, sekarang kita harus menatap kedepan. Menata kehidupan kita bersama dengan anak-anak kita. Mas pengen kamu secepatnya hamil lagi, biar Al ada adiknya dan teman bermain untuknya." ujar Satria dengan tersenyum menggoda.


"Apaan sih, Mas? Al belum genap satu tahun usianya. Kasihan juga kalau dia harus memiliki adik diusia yang masih sangat kecil. Belum puas dapat perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, dia harus berbagi kasih dengan adiknya. Lagi pula, Raina juga sudah ikut program KB." balas Raina.


"Kenapa harus ikut program KB?" tanya Satria yang kini sudah membenarkan posisi duduknya menghadap Raina.


"Kalau ber-KB, kita bisa mengatur jarak antara usia kakak dengan adiknya nanti. Raina maunya hamil lagi kalau usia Al sudah menginjak lima tahun. Karena di usia segitu, Al sudah mulai mengerti dengan adiknya dan malah Al bisa membantu stimulasi adiknya seperti mengajak adiknya berbicara dan bermain. Raina juga butuh merehat diri Raina dulu, sampai Raina benar-benar siap untuk kembali mengurus bayi." jawab Raina dengan lugas.


Sementara Satria memikirkan jawaban Raina.


"Semua Mas percayakan padamu. Karena memang kamu yang lebih banyak waktu untuk mengurus anak-anak nantinya. Mas juga mau kamu sudah siap secara fisik dan mental jika harus kembali mengandung lagi. Mas mengerti, apa yang kamu pikirkan adalah hal yang terbaik untuk keluarga. Terimakasih sayang, kamu sudah sedewasa ini." ucap Satria sembari mencium kening Raina dengan mesra.


Raina tersenyum mendapat perhatian dan dukungan dari Satria. Suaminya sangat menyetujui apa yang ia inginkan, tanpa memaksakan kehendaknya sendiri.


Terus dukung author ya, karena tanpa dukungan kalian cerita ini bukanlah apa-apa bagi saya yang hanya penulis receh 😜

__ADS_1


Saya masih banyak kurangnya dan masih terus belajar πŸ™


__ADS_2