Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Akan menjadi menantu yang baik


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Raina langsung menuju kamar ibu mertuanya, sedangkan Satria terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya.


"Assalamualaikum ... Mah." sapa Raina


"Walaikumsalam, Nak. Bagaimana kondisi kandunganmu?" tanya Ibu Santi ketika Raina sudah duduk dipinggir kasur miliknya.


"Alhamdulilah, semuanya sehat." jawab Raina sembari tersenyum.


"Apa kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Ibu Santi lagi yang semakin antusias.


"Jenis kelaminnya laki-laki." jawab Raina dengan tetap santai.


"Alhamdulilah ... Istirahatlah, nanti malam akan diadakan syukuran menyambut kedatangan mu dirumah ini. Sekalian memberitahukan pada Pak Rt, jika kamu adalah istri Satria." ucap Ibu Santi.


Raina pun menurut dengan perintah sang mertua. Dia segera keluar dari kamar mertuanya dan menuju kamarnya.


Sesampainya didalam kamar, Raina bergegas mengganti bajunya dengan baju longgar agar mempermudah dirinya bergerak dan nyaman dengan posisi perut yang semakin membesar. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan memegang handphone ditangannya.


Raina memutuskan untuk mengabari ibunya atas perihal kandungannya yang telah ia periksakan. Raina mencari nama sang ibu didalam daftar kontak teleponnya dan mulai melakukan penggilan.


Tut.. Tut.. Tut..


Panggilan terhubung namun tak ada jawaban dari orang yang berada diseberang sana.


"Mungkin ibu lagi sibuk dengan toko kuenya." gumam Raina.


Dia pun mengurungkan untuk menghubungi kembali. Matanya menerawang keatas langit-langit kamarnya. Seketika Raina teringat kembali dengan perkataan Satria yang akan berangkat besok untuk menemui Awan.


"Apa yang akan mas Satria ucapkan ketika bertemu dengannya besok, ya?" Raina menduga-duga.


"Mas Satria pasti melakukan yang terbaik dengan segala kebijaksanaan dan ketegasannya." gumam Raina lagi.


Tak lama, handphone nya berdering. Raina menatap layar ponselnya. Ternyata, ibu Riska yang balik menelepon dirinya.


[Hallo, assalamu'alaikum, Bu.]

__ADS_1


[Walaikumsalam, Nak. Maaf tadi ibu lagi sibuk jadi gak dengar kalau ada panggilan telepon dari kamu.]


[Iya, Bu. Gak apa-apa, Raina mengerti pasti ibu lagi sibuk. Apa kabar ibu dan kedua jagoanku?]


[Kami semua disini dalam keadaan baik-baik saja. Toko mulai ramai juga dan sepertinya ibu akan menggunakan seorang karyawan untuk membantu ibu. Ibu kewalahan karena mulai banyak orderan yang masuk.]


[Alhamdulilah ... Raina mau menyampaikan sesuatu untuk ibu. Pasti ibu akan senang jika mendengarnya.]


[Apa itu? Katakanlah, jangan membuat ibumu ini penasaran.]


[Raina baru saja pulang dari dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan Raina. Ibu tahu, Raina sangat bahagia saat mendengar detak jantungnya dan sangat bersyukur karena kondisinya sangat sehat. Raina merasa ini mimpi, Bu. Raina seakan gak percaya kalau didalam perut Raina ada kehidupan didalam sana.]


Raina mengungkapkan perasaannya dan menceritakan pengalaman pertamanya melakukan pemeriksaan kandungan nya dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu juga tidak percaya, jika putri kecil ibu sekarang sedang mengandung cucu ibu." batin bu Riska yang mendengarkan celotehan anak perempuannya.


[Bu ... apa ibu masih mendengarkan Raina?]


[Iya, Nak. Ibu mendengarkan mu. Lalu, apa kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya?]


[Amin.]


Terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Raina pun mengintip dibalik tirai jendela siapa yang datang.


[Bu, Raina tutup dulu ya, teleponnya. Ada bunda Eva datang.]


[Iya, Nak. Kamu baik-baik ya, disana.]


Raina pun mengakhiri panggilan telepon setelah mengucapkan salam kepada ibunya.


Raina pun segera keluar dari kamarnya untuk menemui bunda Eva yang sudah memasuki rumah.


"Assalamualaikum ...." ucap Bunda Eva.


"Walaikumsalam, Bun." jawab Raina menyambut kedatangan bunda Eva.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Satria pun keluar dari kamarnya dan menghampiri bunda Eva dan Raina yang berada diruang tamu. Sama halnya dengan Raina, Satria pun menyambut adik dari ibunya itu dengan mencium tangannya penuh takzim.


"Bunda kesini sendirian?" tanya Satria yang tak melihat ayah Ridwan maupun Sandra bersama bunda Eva.


"Iya, bunda sendiri kesini. Mereka akan menyusul nanti sore. Apa mamahmu ada dikamarnya?" Bunda Eva menjawab pertanyaan Satria dan kembali bertanya pada keponakannya itu.


"Iya, mamah ada dikamarnya. Mungkin sekarang beliau sedang tidur." jawab Satria.


"Oh, bunda ingin melihatnya dulu." ucap Bunda Eva sembari beranjak dari duduknya dan mulai melangkah ke arah kamar kakak perempuannya diikuti oleh Raina dibelakangnya.


Bunda Eva berhenti sejenak didepan pintu kamar kakaknya, melihat ibu Santi yang begitu pulasnya terlelap dalam tidurnya.


"Mamahmu sedang tidur." ucap Bunda Eva dan berbalik kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur dan Raina masih mengekor dibelakangnya.


Ternyata didapur, Bi Darsih sudah berkutat dengan bumbu-bumbu dan rempah-rempah yang akan digunakan untuk memasak makanan yang akan dihidangkan diacara syukuran nanti malam.


"Bi, mari saya bantu." ucap Bunda Eva.


"Eh, Ibu ... kapan sampainya?" tanya Bi Darsih yang kaget dengan kehadiran bunda Eva.


"Sudah dari tadi, Bi. Ini semua mau dimasak untuk acara nanti malam, Bi?" Bunda Eva melihat begitu banyak bahan makanan yang sudah siap diolah.


"Iya, Bu. Kata ibu, ini untuk disuguhkan pada tamu undangan dan untuk keluarga. Dan untuk yang akan dibagikan kepada tetangga-tetangga katanya makanan dari resto milik ibu." jawab Bi Darsih.


"Iya. Sebenarnya saya sudah menawarkan padanya agar semua makanan dari saya saja agar tidak terlalu repot dirumah. Tapi, ya begitulah sifat kakak saya, Bi. Dan saya rasa bibi sudah mengerti sifat kerasnya mbak yu ku itu." ucap Bunda Eva.


"Hehehe iya, Bu. Saya sudah sangat paham. Saya hanya mengikuti perintah saja." sahut Bi Darsih sembari tangannya masih tetap sibuk mengaduk-aduk masakan dikuali.


Sementara Raina yang duduk dimeja makan dengan tangan yang mulai membersihkan beberapa rempah-rempah yang akan digunakan hanya mendengarkan saja pembicaraan kedua orang tua yang berada didepannya.


Raina kembali mengingat ucapan Sandra saat ia berkemas untuk kepindahannya kerumah ini, Sandra menasihatinya untuk bersabar dan menguatkan mentalnya jika berhadapan dengan budenya yang tak lain adalah ibu mertua Raina, mamahnya Satria.


Meskipun, selama dia berada dirumah ini sebelum menikah dan sesudah menikah seperti sekarang, dirinya belum pernah mendapatkan ibu mertuanya mengatur atau berkata yang tidak enak pada dirinya, tapi setelah mendengar pembicaraan bunda Eva dengan bi Darsih mengenai sifat mertuanya, Raina akan bersikap hati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang akan membuat mertuanya marah atau kecewa padanya.


Mohon like, komen, vote, serta berikan rate pada karya saya 😁

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author 😘


__ADS_2