Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Tikar kenangan


__ADS_3

Mobil sudah melaju dijalan utama kota. Hanya ada keheningan didalam mobil itu. Aldo sekilas melihat wajah Raina.


"Apa kamu sedih meninggalkan rumah itu?" tanya Aldo pada adiknya.


"Ehem, Raina rasa ... Raina tidak akan kembali lagi kerumah itu setelah Raina melahirkan nanti." jawab Raina sembari menganggukan kepalanya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Aldo lagi dengan mengernyitkan dahinya.


"Ya, Raina merasa seperti itu. Raina gak mau berharap lebih, seperti apa kedepannya nanti, Raina akan ikhlas menerimanya jika memang harus pernikahan ini berakhir setelah anak ini lahir." Raina menjawab dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.


"Kamu yang sabar, kakak yakin, Allah sudah membuat rencana yang indah untukmu selanjutnya." ujar Aldo menguatkan hati Raina.


Raina menganggukan kepalanya dan kembali menatap keluar jendela. Aldo merasa kasihan melihat adiknya, mengingat terlalu banyak kepahitan yang adiknya terima dari kecil hingga sekarang.


"Ya Allah, bahagiakan lah adik perempuanku satu-satunya ini. Hamba tak ingin melihat dirinya terus bersedih dan terluka." doa Aldo dalam hati.


Mobil telah masuk ke daerah pinggiran kota dan memasuki perumahan kampung tempat dimana Raina tinggal sebenarnya.


Berhentilah mereka disebuah rumah pinggir jalan, yang memang cukup strategis untuk dijadikan tempat berdagang. Ya, rumah yang dulu hanya rumah kecil sederhana yang Raina tempati bertiga dengan kedua saudara laki-lakinya setelah bapak mereka pergi untuk selama-lamanya.


Namun, semenjak kembalinya ibu mereka rumah itu sudah direnovasi menjadi rumah bertingkat satu serta penambahan toko kue milik ibunya. Memang tidak sebesar rumah Sandra atau pun rumah Satria, tapi Raina dan kedua saudaranya sudah sangat senang bisa merenovasi rumah kecil mereka. Dan kehidupan mereka sekarang sudah bisa dibilang cukup.


Kedatangan Raina langsung disambut hangat oleh ibu dan juga adiknya, Raka.


"Ayo, sayang kita masuk ke rumah. Biarkan barang-barangmu dibawa mereka berdua." ucap Ibu Riska yang menuntun Raina untuk masuk kedalam rumah.


Ibu dan anak itu pun bersama-sama melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Ibu Riska.


"Raina sudah makan sebelum kesini, Bu. Raina ingin langsung beristirahat." jawab Raina.


"Oh, silahkan." ucap Ibu Riska.


"Bu, jangan perlakukan Raina seperti tamu. Raina anak ibu bukan?" ucap Raina dengan ketus.


"Hahaha, jelas lah kamu anak ibu. Mukamu saja mewarisi muka ibu." sahut Ibu Riska dengan tertawa.


Raina mulai melangkah kan kakinya menuju kamar yang telah lama ia tinggalkan. Dan Ibu Riska tetap mengikuti langkah anaknya itu.

__ADS_1


Ibu Riska pun membukakan pintu kamar untuk Raina.


" Wah, bersih sekali kamar Raina. Dan ini ... ibu mengganti kasur jelek Raina?" tanya Raina sembari tersenyum senang mendapatkan kasur baru yang lebih empuk dan nyaman.


"Iya, sayang. Ibu menggantinya dan membelikanmu lemari kecil ini untuk baju-baju si kecil nanti." jawab Ibu Riska sembari menunjukkan lemari kecil yang berada disebelah lemari pakaian Raina yang besar.


"Terimakasih, Nek." ucap Raina dengan suara layaknya anak kecil yang sedang berbicara, lalu mereka berdua pun tertawa mendengar suara Raina yang lucu.


Disini lah, akhirnya Raina kembali. Pulang ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarganya sendiri. Setelah beberapa bulan dia habiskan waktunya untuk mengabdi sebagai seorang istri dikeluarga Satria. Meskipun sebagai istri hanya sebuah status yang di sandangnya, namun dirinya begitu tulus dan ikhlas melakukan tugasnya sebagai menantu dirumah mertuanya.


Hari semakin malam, Raina memutuskan untuk segera tidur dan meninggalkan semua pikiran-pikiran yang sangat menguras otak dan juga perasaannya.


*******


Waktu seakan cepat sekali berlalu, malam yang berselimut dengan langit gelapnya kini sudah berangsur menghilang. Berganti dengan langit yang cerah disertai dengan sinar matahari yang menghangatkan seluruh bumi.


Raina sudah bangun subuh sekali, setelah melaksanakan sholat subuh, dirinya melanjutkan dengan menyiram bunga-bunga ditaman kecilnya yang telah lama ia tinggalkan. Bunga-bunga yang sudah tumbuh bermekaran, yang menaburkan aroma semerbak mewangi dipagi hari. Membuat pikiran jadi tenang saat menghirup segar udaranya.


"Eh, ada Mbak Raina. Kapan datangnya, Mbak?" tanya Ibu Sofi tetangga depan rumah Raina.


"Iya, Bu. Semalam saya kesini." jawab Raina.


"Wah, perutnya semakin besar. Sepertinya gak lama lagi nih, Bu Riska menimang cucu." ujar Ibu Sofi yang melihat kedatangan Ibu Riska disamping Raina.


"Mari, Bu. Saya tinggal masuk dulu. Mbak Raina." ucap Ibu Sofi dan kembali masuk kedalam rumahnya setelah membuang sampah di tong sampah depan rumahnya.


Raina dan Ibu Riska hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum.


"Bu ... apa Ibu bisa menemani Raina ke dokter kandungan pagi ini?" tanya Raina.


"Ke dokter kandungan? Kamu hari ini kontrol lagi? Iya, ibu akan menemani mu nanti." Ibu Riska menjawab sekaligus kembali bertanya pada Raina.


"Iya, Bu. Kata dokter Roy sih, ini kontrol terakhir." jawab Raina.


"Sebaiknya kamu sarapan dulu sana, baru bersiap." ucap Ibu Riska.


"Siap, komandan!" sahut Raina dengan gaya ala prajurit dan kemudian meninggalkan ibunya yang masih berdiri diluar.


Ibu Riska hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol anaknya.

__ADS_1


"Aku sangat tidak menyangka, putri kecilku kini sudah beranjak menjadi wanita dewasa dengan segala ketangguhannya. Semoga kelak kamu menjadi ibu yang membanggakan untuk anakmu." Setetes bulir bening menerobos bebas melalui sudut matanya yang mulai terlihat keriput diujungnya.


Dirinya kembali merasa menjadi ibu yang gagal untuk anak-anaknya. Yang tak pernah melihat dan tidak pernah tahu bagaimana tumbuh kembang anak-anaknya saat ia pergi meninggalkan mereka.


Sementara didalam rumah, ketiga kakak beradik itu sudah berada diruang makan dan menikmati sarapan mereka.


"Sudah lama sekali kita gak makan bertiga kayak gini. Hanya kita bertiga saja." ucap Aldo.


"Iya, Kak. Dulu kita duduk lesehan disitu kalau lagi makan." sahut Raka sembari menunjuk tempat beralaskan tikar yang biasa mereka gunakan saat makan.


Tikar itu memang sengaja tidak dipindahkan, karena bagi Aldo itu kenang-kenangan mereka agar tetap mengingat jika mereka pernah duduk beralaskan dengan tikar itu. Dan tetap merasa rendah atau tidak sombong dengan apa yang sudah mereka miliki sekarang.


"Iya, alhamdulilah sekarang sudah lebih baik." ucap Raina dengan menampilkan senyum manisnya.


"Diatas langit masih ada langit, dibawah bumi masih ada lapisan bumi lainnya. Tetaplah merendah, meskipun sudah menjadi tinggi. Karena, akan ada yang lebih tinggi diatas kita." Pesan almarhum bapak mereka, yang selalu diingat ketiga kakak beradik itu.


Raka dan Aldo sudah menyelesaikan makannya, begitu pula dengan Raina. Raina membersihkan meja makan dan mulai mencuci piring sisa makan mereka.


Sementara Raka dan Aldo sudah berangkat ke tujuan mereka masing-masing. Raka kesekolahnya dan Aldo berangkat ke kantornya.


Setelah selesai semua, Raina pun bergegas masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan terakhir kalinya sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan sang dokter.


Sedangkan Ibu Riska masih bersih-bersih ditoko kuenya sembari menunggu Eci datang.


"Selamat pagi, Bu." sapa Eci yang baru tiba.


"Selamat pagi juga, Eci. Oh ya, ibu titip toko, ya. Ibu mungkin agak lama diluar, kamu urus saja pesanan yang akan diambil nanti sama orangnya. Semua sudah ibu kemas." ucap Ibu Riska sembari menunjuk kue-kue yang sudah terkemas cantik didalam estalase.


"Iya, Bu. Memangnya, ibu mau kemana?" Eci balik bertanya pada Ibu Riska.


"Ibu mau menemani Raina ke dokter kandungan." jawab Ibu Riska.


Eci menganggukan kepalanya sembari ber"Oh" ria.


Ibu Riska pun meninggalkan toko kue nya dan masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.


***********


Ini UP terbanyak author dalam sehari sudah UP sampai 4 episode 😁

__ADS_1


Yang mau author Up banyak lagi, terus berikan like, komen dan vote kalian ya 😘


Terus beri dukungan kalian agar author makin bersemangat 😁


__ADS_2