Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

Sepanjang koridor rumah sakit, senyum terus mengembang dibibir Raina. Dia sangat bersyukur, meski dirinya diuji dengan begitu cobaan yang berat, tapi kini dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi nya dan memberi perhatian lebih pada nya. Terlebih setelah melihat ada nyawa yang membutuhkan kehidupan didalam rahim nya, dirinya tambah sangat bersyukur karena calon sang buah hati berjenis kelamin laki-laki bukan perempuan. Sedikit banyak nya Raina sudah mempelajari hukum-hukum secara agama tentang anak yang lahir dari hasil diluar nikah.


"Maaf kan, hamba Ya Rabb ... hamba telah berprasangka buruk dengan keadilan-Mu. Hamba sangat bersyukur dan percaya, Engkau telah merencanakan nya dengan baik." Seulas senyum terukir dibibir mungil Raina.


Satria hanya berdiam diri, mensejajarkan langkahnya dengan langkah Raina agar dirinya dapat berjalan berdampingan dengan istri sementara nya itu.


"Terimakasih, dirimu dengan sudi menerima hadirku meski kita tak pernah tau kedepannya pernikahan seperti apa yang kita jalani. Terimakasih, Ya Rabb ... kau kirim kan malaikat tak bersayap ini kedapaku." batin Raina sembari melirik Satria.


Sebulir bening kembali keluar dari sudut mata Raina, dengan cepat dirinya memalingkan wajahnya untuk menghapus jejak air mata itu.


"Kenapa, Rai?" tanya Satria yang melihat Raina menyeka matanya.


"Eh, gak apa-apa, Mas. Sepertinya mataku kelilipan." ucap Raina berbohong.


"Oh ...." balas Satria datar.


Sebenarnya Satria menyadari bahwa Raina melirik nya dengan tatapan sendu dan meneteskan air mata saat melihatnya, tapi Satria pura-pura tak mengetahuinya.


"Aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu, semoga air mata yang kau keluarkan adalah air mata kebahagiaan."


Kecanggungan kembali tercipta diantara keduanya. Beberapa langkah mendekati mobil yang terparkir, tiba-tiba terdengar suara perut Raina yang kerucukan minta diberi makan.


Keduanya saling pandang dan seketika mereka pun tertawa bersama memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Apa itu suara perut mu?" tanya Satria masih dengan tertawa kecil.


"He, iya, Mas. Yang didalam sudah minta diisi." jawab Raina sembari tersenyum malu.


"Ok, baiklah. Ayo, masuk! Kita akan cari makan dulu." ucap Satria sembari membukakan pintu mobilnya untuk Raina.


Raina pun menganggukan kepalanya, kemudian masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Satria.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang telah memperhatikan mereka sedari tadi bahkan mengikuti lebih tepatnya.


Sebelumnya.


Di persimpangan jalan, tepatnya dirambu lalu lintas, Ridho berada didalam mobil nya menunggu si lampu berubah warna menjadi hijau. Ridho yang berada tepat di barisan depan, tak sengaja melihat mobil Satria yang melintas didepan nya dan dia pun melihat sekilas jika Satria tidak seorang diri didalam mobil itu, melainkan dengan seorang perempuan. Namun, dirinya tak bisa memastikan dengan jelas siapa perempuan yang sedang bersama Satria.


Ya, semenjak Satria memberitahukan bahwa dirinya akan menikahi Raina, Ridho berusaha menghindar dari Satria. Karena, dirinya tidak ingin melihat atau bertemu dengan Raina lagi yang akan membuka ingatan nya pada Raina, jika dirinya pernah menyukai gadis itu.


Hari kecil Ridho semakin penasaran dengan perempuan yang berada didalam mobil bersama Satria. Setelah lampu lalu lintas berubah dengan cepatnya Ridho langsung tancap gas untuk mengejar Satria.


"Ah, sial! Kenapa aku kehilangan jejak Satria, sih? Dan kenapa juga aku sepenasaran ini?" Ridho bingung sendiri dengan perasaan nya. Namun dia tetap melajukan mobil nya kearah yang sama yang dilalui oleh Satria.


Seolah dewa keberuntungan berpihak kepadanya, tepat setelah dua pengendara didepan nya, dia kembali melihat mobil Satria yang mulai memasuki kawasan rumah sakit ibu dan anak.


"Mau ngapain dia kesini?" Demi menjawab rasa penasarannya, Ridho tetap mengikuti sahabatnya itu secara diam-diam.

__ADS_1


Dia melihat Satria yang membukakan pintu mobilnya dan keluar lah seorang perempuan dari mobil tersebut sembari menggenggam tangan Satria. Ya, perempuan itu tak lain adalah Raina.


"Oh, ternyata dia sama Raina." Ridho menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ridho sudah mulai ingin pergi meninggalkan rumah sakit tersebut, tapi dia kembali mengurungkan niatnya.


"Tunggu, apa yang sedang terjadi dengan Raina? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya atau kandungan nya?" tanya nya sendiri seperti orang bodoh.


Ridho pun segera turun dari mobilnya dan langsung berlari mencari keberadaan Satria dan Raina. Dengan nafas yang terengah-engah, dia melihat Satria dan Raina sedang duduk dikursi pengunjung. Dia melihat papan nama yang tergantung di depan pintu ruangan dimana Satria dan Raina menunggu didepan nya.


"Dokter Kandungan Dr. Roy. Spog." Ridho membaca papan nama itu.


Ridho masih berdiri dibalik tembok memperhatikan kedekatan antara Satria dan Raina. Ada rasa panas yang tiba-tiba menyelusup dihatinya, melihat kedekatan kedua orang itu.


"Seandainya aku yang bisa berada disampingmu dan menemani mu saat seperti ini ... ah, itu hanya anganku yang telah lalu." gumam Ridho.


Ridho masih menatap kedua pasangan itu, hingga keduanya masuk ke dalam ruangan didepan nya setelah nama Raina dipanggil. Hingga kedua pasangan itu keluar pun Ridho masih dengan setia menunggu.


Dia pun mendengar Raina yang mengucapkan terimakasih pada Satria saat keduanya berjalan keluar hingga di parkiran rumah sakit pun, Ridho masih dengan jelas melihat keduanya yang tertawa dengan lepas.


"Sepertinya kamu bahagia dengan Satria, semoga Satria benar-benar memegang janji nya untuk membahagiakan mu." gumam Ridho.


*********

__ADS_1


Dukung terus karya author ya, caranya sangat mudah kok... Kalian tinggal like, komen, vote serta berikan rate pada author 😘😘😘


Terimakasih πŸ™


__ADS_2