
Raina mengikuti langkah Satria, memasuki rumah itu. Satria langsung membawa Raina menuju kamar mamah nya. Raina merasa gugup saat memasuki kamar milik ibu Santi. Terlihat wanita itu sedang tertidur diatas kasurnya. Karena penyakit yang diderita nya, dirinya terlihat begitu kurus dan terlihat lebih tua dari usia semestinya.
Satria berniat ingin membangunkan sang mamah, namun Raina menghalangi niatnya.
"Biarkan saja beliau beristirahat. Aku bisa menunggu nya hingga bangun nanti." ucap Raina yang membuat Satria mengurungkan niatnya.
Satria pun mengajak Raina untuk berkeliling disekitar rumah sembari menunggu mamah nya terbangun. Bagaimana pun, Raina akan menjadi istrinya dan kelak akan menjadi penghuni baru dirumah itu. Sehingga Satria ingin memperlihatkan setiap sudut dirumah itu kepada Raina. Tak lupa pula, Satria mengenalkan Raina pada Bi Darsih yang bekerja dirumah itu.
"Wah ... ini calonnya, Mas Satria? Cantik sekali ...." ucap Bi Darsih yang tak berkedip menatap wajah Raina.
"Terimakasih, Bi. Nama saya Raina." Raina berterimakasih kepada Bi Darsih yang telah memuji nya dan memperkenalkan dirinya.
"Namanya juga cantik. Panggil saya Bi Darsih, Non." balas Bi Darsih.
"Jangan panggil saya Nona, Bi. Panggil saja nama saya." ucap Raina merendah.
Satria hanya mendengarkan kedua orang didepan nya yang saling berkenalan.
"Bi, kita permisi dulu, ya. Saya mau ajak Raina ke taman belakang." ucap Satria mengakhiri masa perkenalan Raina dengan Bi Darsih.
"Iya, Mas. Silahkan." jawab Bi Darsih.
Raina pun mengangguk hormat dan tersenyum pada Bi Darsih.
Kini mereka sudah berada disebuah taman yang begitu asri yang terletak dibelakang rumah Satria. Terdapat beberapa bangku taman yang berbentuk bundar melingkari meja bundar ditengah nya serta beratapkan daun kelapa kering yang teranyam berbentuk jamur.
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dibangku itu setelah lelah berkeliling. Tak berapa lama terdengar suara dering handphone menandakan ada sebuah pesan yang masuk diponsel Raina.
__ADS_1
Raina pun mengeluarkan handphone dari dalam tas kecilnya. Raina melihat sebuah notifikasi sebuah email yang masuk di handphone nya dan kemudian membuka email tersebut.
Entah harus senang atau sedih kah yang harus dia rasakan setelah membaca isi email tersebut. Seketika air matanya mengalir begitu saja. Satria yang melihat reaksi Raina setelah membaca pesan diponselnya pun segera mengambil alih ponsel Raina itu, dirinya ingin tahu apa penyebab Raina yang menangis.
Satria menghembuskan nafas nya secara kasar.
"Maaf, karena kebodohan adikku, kamu harus kehilangan masa depan mu." ucap Satria lemah.
"Aku sudah lama menunggu waktu ini tiba, aku menunda nya karena terhalang biaya, aku memutuskan untuk bekerja untuk membiayai kuliahku sendiri. Dan sekarang aku sudah diterima diperguruan tinggi yang aku inginkan, tapi aku harus kembali mengubur harapan ku." jelas Raina dengan senyum getir disudut bibirnya.
Satria merasakan sakit dihati nya setelah mendengar penjelasan Raina.
"Bagaimana bisa kamu menghancurkan harapan seorang gadis seperti Raina."
Satria begitu emosi hingga dia mengepalkan tangannya dan melabuhkan nya pada meja kayu didepan nya hingga meja tersebut retak akibat hantamannya. Satria begitu emosi mengingat tingkah Awan yang sudah merugikan orang lain hingga kehilangan masa depannya dan harus membuatnya berkorban atas ulah adiknya itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya kelepasan, aku benar-benar emosi, semua ini karena Awan hingga kamu seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk mu, agar kamu tidak merasa sakit lagi karenanya?" tanya Satria.
"Mas tidak perlu melakukan apa pun. Biar Tuhan yang akan membalasnya. Aku sudah cukup berterimakasih karena Mas mau beetanggungjawab atas anak ini." jawab Raina.
Satria tersentuh dengan ucapan Raina.
"Begitu banyak kesakitan yang Raina terima, tapi dia tidak sama sekali menyimpan dendam kepada Awan. Terbuat dari apakah hatimu?"
Sementara didalam rumah, ibu Santi sudah terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam di dinding dan mencoba menyandarkan badan nya di kepala kasur.
"Bi ... Bi Darsih ...!" Ibu Santi mencoba berteriak memanggil Bi Darsih. Dengan tergopoh-gopoh, Bi Darsih menghampiri Ibu Santi.
__ADS_1
"Iya, ada yang perlu saya bantu, Bu?" tanya Bi Darsih.
"Tidak, Bi. Saya cuma mau nanya, apa Satria sudah pulang?" tanya nya.
"Mas Satria sudah pulang, Bu. Mas Satria juga membawa calon istrinya yang cantik itu. Dan sekarang mereka lagi berada ditaman belakang." jawab Bi Darsih dengan bersemangat.
"Oh, benarkah? Bisa kah panggil kan mereka kesini, Bi. Saya juga ingin bertemu calon menantu yang bibi bilang cantik itu." ucap Ibu Santi sembari tersenyum.
"Baik, Bu." Bi Darsih pun pergi keluar dari kamar Ibu Santi dan langsung melaksanakan perintah dari sang majikan.
Sesampainya ditaman, Bi Darsih langsung mendekat ke arah Satria dan Raina.
"Mas Satria ... Ibu sudah bangun dan meminta kalian menemui nya." ucap Bi Darsih.
"Oh, iya, Bi. Kita akan kesana." jawab Satria dan langsung meraih tangan Raina berada dalam genggamannya.
Raina tersontak kaget dengan perilaku Satria yang tiba-tiba. Dia tidak menyangka Satria akan menggandengnya mesra seperti itu.
"Ehm, Mas, maaf ... bisa tidak tangan saya dilepas?" tanya Raina sedikit kikuk.
"Oh, iya. Maaf ... aku refleks." jawab Satria dan langsung melepas tangan Raina dari genggamannya.
Dan mereka pun sama-sama terlihat canggung. Dan berjalan beriringan dengan memberi jarak antara keduanya.
"Kenapa aku berdebar seperti ini? Apa aku mulai menyukai nya?" batin Satria sembari memegang dadanya.
Mohon like, komen dan vote nya ya kawan π
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ