Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Sandra Bucin


__ADS_3

Dokter muda itu pun berlalu meninggalkan Raina dan juga Sandra yang masih terpukau dengan wajah manis nan berkharisma milik si dokter. Hingga matanya tak lepas untuk terus memandang kepergian lelaki itu.


"Hei, serius banget sih, lihatnya. Kamu naksir sama tuh, dokter?" tanya Raina sembari menyenggol tangan Sandra.


"He'em, manis banget itu senyumannya." Sandra menganggukan kepalanya sembari tersenyum-senyum.


"Hahaha, baru kali ini aku lihat kamu macam ini." Raina menertawakan Sandra.


"Terserah kamu deh, Rai. Hatiku lagi berbunga-bunga, jadi ku maafkan dirimu yang menertawakan ku." ucap Sandra yang kembali duduk.


"Kok, malah duduk, sih? Ayo, kita ikutin perawat itu?" Raina menarik lengan Sandra untuk mengejar dua orang perawat yang mendorong brankar dengan Bara diatasnya.


"Memangnya mau kemana, Rai?" tanya Sandra yang masih kasmaran.


"Ih, dasar bucin. Itu loh, kita ikutin perawat yang akan memindahkan Bara." jawab Raina dengan masih menarik lengan sahabatnya sambil berjalan untuk menyesuaikan langkah perawat yang membawa Bara didepan mereka.


"Sudah, lepasin tanganku. Aku bisa jalan sendiri, gak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil kayak gini." gerutu Sandra sembari melepaskan tangan Raina dari lengannya.


"Hahaha, sudah sadar kamu?" ejek Raina.


"Sstt, sudah ah. Dari tadi aku sadar, tahu?" balas Sandra.


Raina hanya terkekeh geli dengan tingkah sahabatnya itu, yang baru pertama kali sampai sebegitu mengagumi seseorang.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka semua sampai diruang rawat VIP yang tidak jauh dari ruang rawat ibu Santi yang juga ruang VIP, yang hanya terpisahkan tiga ruangan.


Bara yang masih tertidur akibat obat bius, kini sudah dipindahkan ke kasur yang lebih empuk.


Raina telah mengirimi Satria pesan, memberitahukan keadaan Bara sekarang dan juga memberitahukan jika Bara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Tak lama kemudian, Satria pun datang ke ruangan Bara.


"Ayah ...." panggil Raina pelan.


"Bagaimana operasinya berjalan lancar?" tanya Satria.


"Iya, alhamdulilah. Bara masih tidur, mungkin masih terbawa pengaruh obat biusnya." jawab Raina.


Satria hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari istrinya itu sambil menatap lurus ke wajah adiknya yang tertidur.


"Bagaimana dengan mamah?" tanya Raina.


"Mamah juga sedang tidur, makanya Ayah sempatkan kesini untuk melihat Bara." jawab Satria.

__ADS_1


"Oh ya, pasti Ayah belum makan. Ini tadi Sandra bawakan untuk kita." ucap Raina sembari menunjuk plastik yang masih berisi dengan bungkusan makanan.


"Iya, Ayah memang belum makan dari siang tadi." balas Satria sambil memegang perutnya yang mulai Keroncongan setelah melihat makanan.


"Ayah ... kenapa sampai melupakan makan siang, Ayah? Kita yang menjaga orang sakit, jangan sampai juga ikutan sakit." ujar Raina.


"Iya, iya, sayang. Maaf, ya. Ayo, kita makan bareng." ucap Satria.


"Bunda sudah makan duluan tadi, Yah. Hhe, maaf, ya. Tadi Bunda laper banget, jadi langsung makan deh, waktu Sandra kasih makanan ini." balas Raina.


"Ya sudah, temanin Ayah aja sini." ucap Satria sembari menepuk ruang kosong sofa untuk istrinya duduk.


Raina pun menurut dan langsung duduk disebelah suaminya.


"Hei, kalian selalu aja melupakan diriku. Serasa ruangan ini hanya milik kalian berdua." gerutu Sandra sembari mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha ... sini, sini, jangan mewek, dong. Nanti cantiknya hilang, lho." goda Satria.


"Aku juga laper, aku juga pengen makan, tapi sayang ... gak ada yang nemenin makan." ucap Sandra yang sudah duduk lesehan diatas ambal didepan meja kecil sebagai tempat mereka meletakkan makanan.


"Lho, memangnya kita ini apa? Sekarang kan, kita lagi makan bareng. Ada aku dan juga Raina disini yang nemenin kamu." ucap Satria.


"Bukan itu ... aku juga pengen ditemenin sama pasangan gitu. Tapi, gak tahu siapa yang mau jadi pasangan ku." jawab Sandra dengan wajah sedih sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Pengennya sih, begitu. Tapi, apa dia mau?" jawab Sandra dan membuat pertanyaan untuk dirinya sendiri.


"Dokter yang mana, sih? Yang kalian maksud?" tanya Satria yang belum mengerti dengan pembahasan kedua perempuan yang sedang bersama nya.


"Itu lho, Yah ... dokter muda yang menangani Bara. Sandra menyukainya." jawab Raina.


"Oh ... itu dokter Adrian." ucap Satria.


"Jadi, namanya Adrian. Sesuai dengan wajah tampan nya." Sandra kembali mengingat-ingat bentuk rupa wajah tampan dokter Adrian, kala lelaki itu memberikan senyum manisnya.


"Nah, mulai gila lagi, deh. Tadi sudah gak sadar kan diri terus lihatin itu dokter sampai menghilang dibalik tembok dan gak mau beranjak dari ruang IGD. Nah, ini sekarang senyum - senyum sendiri lagi. Bahaya nih, Yah." Raina kembali mengejek sahabatnya itu.


"Bodo, Rai. Bodo amat, mau kamu bilang aku bucin lah, apa lah, terserah kamu, deh. Yang penting wajah dokter tampan itu sudah terpatri diotakku." ucap Sandra sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Satria dan Raina hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sandra.


Satria menghentikan tawanya, saat handphonenya berdering. Tertera nama Ridho dilayar handphonenya dan segera ia jawab.


[Hallo ... Sat, aku sekarang diparkiran rumah sakit, nih. Diruangan berapa Bara?]

__ADS_1


[Diruang vip mawar 205.]


[Ok. Aku segera kesana.]


Setelah mendapat jawaban, panggilan telepon pun segera diakhiri oleh sang penelepon.


"Siapa, Yah?" tanya Raina pada Satria.


"Ridho." jawab Satria.


"Oh ... siapa yang memberitahukan dirinya jika Bara sakit?" tanya Raina lagi.


"Tadi dia sempat mengirim pesan pada Ayah, katanya ingin main kerumah ini malam. Ya, Ayah bilang ke dia kalau gak ada orang dirumah, karena kita berada disini." jawab Satria.


"Oh, seperti itu." ucap Raina.


Sandra kembali menikmati makanannya hingga habis, tanpa memperdulikan pembicaraan kedua orang yang ada dihadapannya.


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Bara diketuk dari luar oleh seseorang yang tak lain adalah Ridho. Tidak hanya sendiri, melainkan dengan Renita dibelakangnya yang mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangan itu.


"Assalamu'alaikum ...." ucap mereka berdua bersamaan.


"Walaikumsalam ...." balas Sandra, Satria dan Raina juga bersamaan.


"Bara nya lagi istirahat, baru aja selesai operasi pemasangan pen dikakinya." ucap Satria.


"Yang sabar ya, Bro. Semoga adikmu cepat sembuh. Oh ya, kamu bilang mamah kamu juga ikut dirawat disini?" tanya Ridho.


"Iya, mamah ada diruang 202." jawab Satria.


"Kalau gitu, ayo antarkan aku kesana. Aku juga ingin menjenguk tante Sinta." ajak Ridho.


"Ayo. Tadi beliau sedang tidur, makanya aku tinggal kesini." ucap Satria.


"Bun, Ayah kembali ke ruangan mamah dulu, ya." ucap Satria pada Raina.


Raina hanya menganggukan kepalanya.


"Dua orang ini selalu bisa deh, buat aku baper lihatnya. Romantis banget." batin Renita.


********


Maaf nulisnya pendek dipart ini, kondisi badan kembali melemah πŸ˜”, jadi untuk dipart ini sampai sini dulu πŸ™

__ADS_1


__ADS_2