Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Hari ini aku berangkat sangat awal, aku tidak mau terlambat di hari pertama bekerja. Sesampainya diresto, ku lihat pintu resto sudah terbuka sedikit. Ternyata, sudah ada Pak Abdul yang bertugas menjaga resto ini, beliau diberi kepercayaan oleh bunda Eva untuk menempati rumah yang berada dibelakang resto.


"Asalamualaikum ... selamat pagi, Pak," sapaku.


"Walaikumsalam ... eh, Eneng, pagi sekali datangnya, kan ... biasanya karyawan resto yang jadwal pagi datang nya jam delapan, Neng" terang Pak Abdul.


"Gak apa-apa, Pak. Ini hari pertama saya bekerja, jadi saya tidak mau terlambat." jawabku bersemangat.


"Oh ... jadi, Neng ini karyawan baru disini?" tanya nya.


"He ... Iya, Pak. Nama saya Raina." jawabku


"Iya, Neng Raina. Saya Abdul yang jaga resto ini." ucapnya.


Aku hanya balas dengan tersenyum karena aku sudah tahu nama beliau sebelumnya dari Sandra.


"Sini, Pak, sapu nya ... biar saya yang lanjutin beres-beresnya" pintaku.


Pak Abdul memberikan sapu nya kepadaku dan kembali melanjutkan pekerjaan yang lain. Aku pun asik dengan menyapu lantai dan mengelap setiap meja tamu yang berdebu.


Tanpa ku sadari, Mas Awan sudah dibelakang ku, mengagetkan ku dengan deheman nya yang cukup keras.


Ehem ... Ehem ...


Aku terlonjak dan menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, Mas Awan, sudah datang" ucapku.


"Iya, Rai. Serius sekali kamu ngelap mejanya. Kamu kerja disini juga?" tanya nya heran.


"Hehehe ... iya, Mas. Kemarin bunda mengizinkan aku untuk bekerja disini sebagai waiters." jawabku.


"Selamat bergabung diresto" ucap Mas Awan sembari mengulurkan tangannya dan aku pun membalas dengan menjabat tangannya dan tersenyum padanya.


Tak lama kemudian, beberapa karyawan lainnya pun berdatangan, disusul dengan kedatangan Bunda Eva.

__ADS_1


"Pagi semua .... " ucap Bunda menyapa semua karyawan nya.


"Pagi, Bu ...." jawab semuanya.


"Wah, sudah ada Raina disini. Mari, ikut saya ke kantor" ajak Bunda Eva.


"Iya, Bu ...."jawabku sembari mengikuti langkah Bunda Eva menuju kantornya.


"Sudah siap bekerja, Rai?" tanya Bunda Eva.


"Insya Allah, sudah, Bu." jawabku.


"Bagus. Kamu panggil saya ibu, Rai?" tanya Bunda Eva yang mungkin heran karena biasanya aku memanggilnya bunda.


"Hehehe ... profesional kerja, Bu, agar karyawan lain tidak merasa ada yang di bedakan." jawabku.


Bunda tersenyum dan mengangguk mendengar ucapanku sembari mengambil sesuatu dari dalam lemari.


"Ini seragam untuk kamu, Rai. Kamu bisa menggantinya sebelum bekerja. Setelah itu, saya akan mengajakmu untuk memperkenalkan diri ke semua karyawan yang bekerja disini. Semoga kamu bisa bekerja dalam tim dengan baik." ucap Bunda Eva sembari tersenyum padaku.


Segera ku ganti bajuku dengan seragam khusus resto ini, kemudian mengikuti Bunda Eva yang akan memperkenalkan aku pada karyawan nya.


Pertama diawali di bagian depan, ada dua orang kasir, ada Gina dan Desi. Gina bekerja di shitft pagi sedangkan Desi di shift sore. Lanjut tim waiters berjumlah lima orang termasuk aku di pagi ini. Ada Akbar, Reza, Cika dan Nara yang akan menjadi partner kerjaku sesama waiters.


Di bagian dapur ada Pak Rama sebagai koki utama, Mas Jaki dibagian snack atau dessert dan Mas Riki sebagai asisten koki.


Di bagian minuman ada Mas Awan dan Mas Deni. Kami semua bekerja sesuai shift yang sudah ditetapkan, baik waktu liburnya pun sudah diatur. Alhamdulilah, semuanya menyambutku dengan baik


Hari pertama bekerja sungguh sangat melelahkan, banyak pengunjung yang datang makan dan minum diresto ini. Aku sempat kewalahan mengantarkan pesanan-pesanan mereka, meski tim waiters ada lima orang, tetap saja kewalahan jika resto sedang ramai pengunjung seperti saat ini.


Waktu makan siang kami pun bergantian, agar tetap masih ada yang bertugas jika sewaktu-waktu ada pengunjung yang datang. Makan siang disiapkan oleh pihak resto, meski dengan lauk seadanya, tapi tetap enak dan nikmat disantap, karena ini masakan asisten koki. Ya, Mas Riki yang bertugas membuat makanan untuk karyawan.


Disela-sela istirahat makan siang, Mas Awan datang menghampiri ku.


"Aku boleh duduk disini?" tanya nya sembari menunjuk tempat kosong disampingku.

__ADS_1


"Silahkan, Mas, duduk aja" jawabku sembari menikmati makananku.


"Gimana, Rai, hari pertama kerja?" tanya Mas Awan.


"Seru, Mas, meski melelahkan tapi aku menikmatinya." jawabku.


"Ya, beginilah, kalau kerja diresto, harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk pengunjung." terang nya.


"Hehehe ... bismillah aja deh, Mas, semua pekerjaan kalau dilakukan dengan ikhlas pasti terasa ringan." ujarku.


"Semoga kamu betah, ya, kerja disini." ucap Mas Awan.


"Amin ...." Aku menjawab sembari tersenyum dan di balas senyuman pula oleh Mas Awan.


Aku menyadari sesuatu, ada sepasang mata yang memperhatikan aku dan Mas Awan sedari tadi, segera aku mengalihkan pandangan ku, pura-pura tidak mengetahuinya.


Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku, berdiri didepan pintu masuk, menyambut pengunjung yang datang dengan senyum manisku dan memberikan pelayanan yang terbaik. Bolak-balik dari dapur ke depan, membawa nampan yang berisi pesanan makanan yang akan disuguhkan pada pelanggan. Tak sedikit pula dari mereka yang memberikan uang tip kepadaku.


"Alhamdulilah ... bisa nambah ongkos angkot, nih" batinku.


Tak terasa, waktu pergantian shift pun tiba. Ya, shift pagi akan pulang jam tiga sore, sementara itu yang kerja di shift sore akan pulang jam sebelas malam.


Aku berjalan keluar resto, menyeberangi jalan yang cukup ramai sore ini. Menunggu angkutan umum yang menuju terminal. Dari resto aku harus menggunakan dua kali angkutan umum. Yang pertama tujuan terminal dan yang kedua tujuan arah rumahku.


"Ayo, Rai, bareng aku aja pulangnya" ajak Mas Awan yang tiba-tiba berhenti di depanku.


"Terimakasih, Mas, Raina naik angkot aja" balasku.


Di seberang sana, aku lihat Gina yang kembali memperhatikan kami berdua. Tak lama kemudian, ada angkutan umum yang lewat dengan cepat aku memberhentikan nya. Belum sempat Mas Awan berbicara lagi, aku segera masuk ke dalam angkutan umum itu.


"Maaf, Mas ... Raina duluan!" teriakku dari balik jendela angkutan umum.


Ku lihat dari kejauhan, Mas Awan masih terbengong melihat tingkah ku yang meninggal kan nya begitu saja.


"Kenapa, ya, Gina segitunya banget ngeliatnya tiap mas Awan mendekati ku?" Aku pun Bertanya-tanya dalam hati tentang sikap Gina yang seperti itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2