
Ditempat yang berbeda, Satria terduduk lesu karena tidak bisa mengetahui kemana tujuan Raina. Ditambah lagi Raina pergi dalam keadaan emosi dan membawa Al yang masih kecil.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa Satria? Kenapa kamu gak bisa tegas dengan perasaanmu sendiri?" maki Satria.
Satria terus memaki dirinya sendiri, merutuki semua kesalahan yang ada pada dirinya.
"Raina, aku mencintaimu, Raina ... aku janji, setelah aku menemukan dirimu nanti, aku akan membawa mu menuju akad kembali. Aku janji, Rai!" gumam Satria.
Satria baru menyadari, perasaannya pada Raina sekarang benar-benar bukan sekedar hanya rasa sayang terhadap seorang kakak dengan adiknya. Satria tidak pernah merasakan hatinya seberat ini ditinggal pergi oleh perempuan. Kini, dia benar-benar merasa frustasi dan merasa kehilangan.
Satria masuk ke dalam kamar tidur, melihat box bayi Al yang biasanya ada Al yang sudah tertidur dengan pulasnya diatas kasur kecil miliknya. Satria kembali meneteskan air matanya, karena dia merasa sudah gagal menjadi seorang imam untuk keluarga kecilnya.
Kemudian Satria beralih ke kasur, dia sudah mendudukan dirinya disisi kasur dimana biasanya Raina tidur. Satria memeluk erat selimut yang biasa Raina gunakan, masih tercium jelas aroma wangi tubuh perempuannya itu. Satria memeluk erat selimut Raina, dirinya benar-benar lemah saat ini. Satria terlelap dengan menggunakan selimut Raina dan memeluknya erat.
Satria berharap, saat matanya terbuka esok hari dia akan menemukan perempuannya itu.
Suara kokokan ayam membangunkan Satria dari tidurnya, ia mengerjapkan kedua matanya. Dia terlonjak saat mendengar ada suara didapur seperti seseorang yang sedang memasak.
Satria segera berlari menuju dapur, namun tak ia temukan seorang pun disana, dia kembali beranjak melihat ke arah kamar mandi, lagi-lagi pintu kamar mandi terbuka lebar dan tak ada seseorang yang ia harapkan.
Pikirannya yang sangat menginginkan kehadiran Raina, membuat dirinya sampai berhalusinasi.
Satria duduk dimeja makan, biasanya saat dirinya bangun tidur, dia akan mencium aroma wangi kopi yang sudah diseduh dan akan melihat Raina yang sibuk membuat sarapan dan juga bekal untuk dirinya.
Namun hari ini, dia sama sekali tak mendapatkan apa yang biasanya dia lihat. Tak ada suara tangis Al yang akan membuatnya berlari dari luar meninggalkan sapunya untuk menggendong anak lelakinya itu dan menenangkan lelaki kecil yang tampan itu.
Satria merasa ada yang kurang dan kehilangan semangatnya. Satria meraih handuk yang bertengger di hanger besi, yang biasanya Raina akan memarahi dirinya jika meletakkan handuk sembarangan sehabis mandi. Satria tersenyum getir, menerima kenyataan yang ada sekarang.
Satria melangkahkan kakinya gontai ke arah kamar mandi, karena dirinya harus tetap berangkat bekerja. Meskipun sebenarnya dirinya sangat tidak bersemangat untuk memulai harinya saat itu.
********
Sementara itu dikediaman bunda Eva, Raina masih terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya terasa begitu lelah, matanya mengerjap saat tangan mungil Al menghujami wajahnya.
"Hmmm, sayang ... bunda masih lelah sekali. Bisa kah, bunda tertidur lagi?" tanya Raina dengan suara seraknya khas baru bangun tidur.
Matahari mulai merangkak naik, sinarnya menembus celah-celah gorden yang tersingkap. Sinar hangatnya menyentuh wajah lembut Raina, alhasil Raina tak lagi melanjutkan niatnya untuk kembali tidur.
Raina meraih handphonenya yang ia letakkan diatas nakas, dia melihat jam yang tertera disana dan seketika dirinya terlonjak kaget saat melihat angka jam tersebut.
"Astaga! Aku sudah kesiangan sekali ... maaf ya, sayang? Bunda lelah sekali jadi kamu telat mandi dan juga makan." ucap Raina pada Al yang berguling-guling disebelahnya.
Raina mengangkat tubuh Al ke dalam pangkuannya.
"Ayo, kita mandi sekarang." ucap Raina sembari membuka semua pakaian yang dikenakan Al.
Namun, tangannya tiba-tiba berhenti membuka baju Al. Entah kenapa Raina teringat dengan Satria.
__ADS_1
"Hffttt, kamu pasti bisa mengurus dirimu sendiri disana, Mas." gumam Raina sembari menghela nafasnya.
Setelah selesai membersihkan dirinya dan juga Al, Raina pun turun ke lantai bawah bersama Al. Diruang makan sudah ada Sandra dan juga Bunda Eva yang sedang menikmati sarapan mereka.
"Hai, anak ganteng? Sudah cakep aja, nih. Ini Uti sudah buatin sarapan untuk Al." ucap Bunda Eva saat melihat kedatangan Raina dan juga Al.
"Terimakasih, Uti ... kenapa tidak ada yang membangunkan Raina? Kalau begini kan, Raina jadi tidak enak dengan Bunda. Sampai membuatkan makanan untuk Al yang seharusnya itu tugas Raina." ujar Raina.
"Kamu tidurnya pulas sekali, Rai. Aku gak tega bangunin kamu, pasti kamu lelah sekali." sahut Sandra.
"Iya, sayang. Kami sengaja membiarkan dirimu untuk beristirahat lebih lama." sambung Bunda Eva.
"Terimakasih banyak semuanya." ucap Raina sembari tersenyum pada Sandra dan juga Bunda Eva.
Ibu dan anak itu pun membalas senyuman Raina.
"Ayo, dimakan dulu sarapannya, Rai. Pasti kamu sudah laper, apa lagi kamu menyusui Al juga. Biar Al, Bunda saja yang menyuapi." ucap Bunda Eva.
"Eits, onti Sandra aja ya, yang suapin Al." ucap Sandra sembari mengambil alih mangkuk yang berisi bubur tim untuk Al dari tangan bundanya.
"Iya, iya, biar kamu belajar gimana caranya mengurus anak." ucap Bunda Eva pada anak perempuan satu-satunya itu.
"Jadi, Bunda pengen Sandra untuk cepat nikah?" tanya Sandra.
"Ya, gak lah. Selesaikan dulu kuliah mu itu, baru pikirin nikah. Memangnya kalau kamu belajar ngurus anak sekarang, kamu harus nikah sekarang juga, gitu?" Bunda Eva balik bertanya pada Sandra, setelah menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
Raina hanya diam mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Hmm, seandainya saja saat itu aku menerima tawaran mas Satria untuk tetap melanjutkan kuliahku, mungkin saat ini aku tidak terlalu terpikirkan tentang perasaanku padanya." batin Raina.
Raina kembali teringat saat dirinya lebih memilih untuk mengabdi pada suami dan mengurus anaknya, ketimbang harus melanjutkan kuliah. Saat itu yang ia pikirkan, dirinya akan bahagia dengan rumah tangganya. Namun, kenyataannya untuk mencapai bahagia itu terasa sulit sekali baginya. Disela-sela lamunannya, Raina kembali terbayang wajah Satria.
"Ah, kok jadi kepikiran lagi sih, sama orang itu." gerutu Raina dalam hati.
Raina dengan kesal memasukkan makanan ke dalam mulutnya hingga dia tersedak.
"Makanya, Non ... kalau makan itu pelan-pelan? Kamu itu kenapa sih, seperti lagi kesal dengan seseorang gitu?" tanya Sandra yang masih menyuapi Al.
Raina hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Sandra. Memang tak bisa dipungkiri, meskipun rasa kesal, sakit hati, kecewa dan amarahnya memuncak pada Satria, tapi rasa cinta yang besar pada lelaki itu yang membuat Raina tak bisa dengan mudah melupakannya.
"Apa kamu tidak kuliah?" tanya Raina pada Sandra.
"Kuliah, tapi masuk siang. Hanya satu mata kuliah." jawab Sandra.
"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Raina sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah menyelesaikan makannya, Raina langsung membereskan sisa-sisa piring kotor dan mencucinya. Setelah itu, dia beranjak dari dapur menuju ruang keluarga untuk berkumpul bersama dengan bunda Eva, Sandra dan juga Al.
__ADS_1
Raina segera mendudukan dirinya diatas sofa yang berbentuk L tersebut. Sandra duduk diatas karpet bulu menemani keponakannya main.
Setelah Raina mendaratkan tubuhnya dengan sempurna diatas sofa, bunda Eva yang semula sedang asik menonton serial infotainment ditv itu mengalihkan pandangannya pada Raina. Begitu pula dengan Sandra yang memberi tatapan seperti seorang detektif yang akan menginterogasi targetnya.
Raina yang awalnya akan menikmati acara ditelevisi, kini menunda tujuannya saat melihat keempat pasang mata yang akan menyelidiki dirinya.
"Raina, sekarang jelaskan pada bunda. Kenapa kamu datang kerumah malam-malam, tanpa bersama dengan Satria?" tanya Bunda Eva.
Raina sudah mengerti, karena pasti kedua orang yang ada dihadapannya itu akan bertanya dengan dirinya.
Raina menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menceritakan semua apa yang sudah terjadi dengannya dan juga Satria kemarin malam yang membuat dirinya berani mengambil keputusan untuk meninggalkan Satria.
Raina menceritakan tanpa satu pun yang terlewatkan dari memori ingatannya. Bunda Eva yang mendengar cerita Raina langsung berubah ekspresi wajahnya karena marah. Sedangkan Sandra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengumpati kakak sepupunya itu.
"Keren kamu, Rai. Mas Satria memang harus diberi pelajaran. Biar dia tahu rasa. Memangnya enak, digantung-gantung." gerutu Sandra.
"Meskipun dia keponakan Bunda, tapi Bunda tidak akan memihak dirinya. Dia itu sebelas dua belas saja sifatnya dengan mamahnya. Keras kepala, egois dan terlalu membesarkan gengsinya. Apa sih, yang membuat dia itu menunda-nunda seperti ini? Bunda jadi kesal mendengarnya." ucap Bunda Eva.
Tak lama kemudian, handphone Raina yang berada disebelahnya itu bergetar. Tertera nama Satria dilayar handphone itu yang sedang menelepon dirinya.
Raina dengan cepat langsung mereject panggilan itu.
" Satria yang nelpon?" tanya Bunda Eva.
"Iya, Bun." jawab Raina.
"Jangan diangkat teleponnya. Biar aja dia mikir dan nyari kamu. Kalau dia benar-benar ingin memperjuangkan dirimu lagi, kita lihat sampai mana usahanya itu mencari dirimu. Kita beri dia pelajaran, biar gak seenaknya terus-terusan gantungin perasaanmu." ucap Bunda Eva yang diberi anggukan oleh Raina sebagai jawabannya.
"Iya, Rai. Benar apa yang dibilang Bunda. Kita bakal bantu kamu kok, Rai. Kita bakal rahasiain kalau kamu tinggal disini. Sampai dia benar-benar menunjukkan rasa cinta yang sesungguhnya untuk kamu. Bukan sebagai adik tapi harus sebagai istri." ucap Sandra yang menimpali perkataan bundanya.
"Tapi, Bun ... Raina gak bisa tinggal disini tanpa melakukan apa pun. Dan Raina tidak mau menyusahkan bunda. Apa Raina bisa kembali bekerja diresto?" tanya Raina.
"Iya, tentu saja bisa sayang. Dengan senang hati bunda menerimamu lagi. Kalau dikantor kan, kamu juga bisa membawa Al kesana." jawab Bunda Eva.
"Terimakasih, Bun." ucap Raina.
********
Sementara ditempat lain, Satria sangat khawatir dan mencemaskan keberadaan Raina. Dan dia semakin khawatir karena panggilan teleponnya selalu ditolak oleh Raina, yang membuat dirinya semakin frustasi.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author