Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Ehm ... Ehm ... roman-romannya, lagi ada yang senang, nih," kata Raka yang sudah menyambutku dipintu.


"Hehehe ... Nih, ada makanan dari bundanya Sandra. Kamu pasti belum makan, kan?" tanyaku.


Aku berikan bungkusan yang berisi makanan itu kepada Raka, dan aku pun melenggang pergi ke kamar tanpa menghiraukan dirinya yang masih terdiam melihat tingkahku.


Entahlah, hari ini aku senang sekali. Seperti ada kupu-kupu yang menggelitik di hati hingga ke perutku. Aku tersenyum sendiri didepan kaca riasku.


"Mungkin kah ... ini yang dinamakan jatuh cinta?" tanyaku dalam hati.


Bodoh memang, karena aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Seperti ini kah, rasanya orang yang lagi kasmaran? Benar-benar yang namanya cinta itu bisa membuat orang gila.


"Iih ... Serem juga kalau sampai gila." Aku bergidik sendiri.


Adzan ashar berkumandang, segera aku bergegas mandi dan melanjutkan sholat ashar. Setelah itu, aku lanjutkan membersihkan rumah dan menyiram tanaman hiasku.


"Kak Raina, gak makan?" tanya Raka.


"Kakak sudah makan dek, masih kenyang nih," jawabku.


Aku menikmati suasana sore hari yang tenang, sembari duduk dikursi halaman yang mengarah ke taman kecilku. Melihat bunga-bunga yang bermekaran dan para kumbang yang menghampiri.


"Siapa cowok yang tadi, Kak?" tanya Raka yang tiba-tiba saja sudah duduk disebelahku.


"Eh ... Hem ... Cowok yang mana?" Bukannya menjawab aku malah balik bertanya pada Raka.


"Kakak ini, gimana sih? Aku nanya, eh, Kakak malah balik nanya. Itu loh, cowok ganteng yang ngantar Kakak pulang?" Kembali Raka menanyakan tentang mas Awan.


"Oh ... Itu, dia kakak sepupunya Sandra" jawabku.


"Sepertinya, dia suka deh, sama Kakak." tegas Raka.


"Sok tau deh, berarti kamu tadi ngintipin kakak donk, usil ya...." balasku sembari mencubit pelan perutnya.


"Aww ... Sedikit aja Kak," ucapnya sembari mengadu kesakitan.


Aku kembali menggelitik tubuh gempalnya dan kami pun tertawa bersama. Sepeda motor Kak Aldo memasuki halaman rumah, membuat aku menghentikan gelitikanku dan Raka pun terdiam menahan tawanya.

__ADS_1


"Kok diam, tadi Kakak lihat kalian lagi tertawa, senang sekali sepertinya" ucap Kak Aldo sembari melihat aku dan Raka secara bergantian.


"Ini Kak Raina iseng banget Kak, gelitikin aku dari tadi" ucapnya mengadu pada Kak Aldo.


"Raka yang jahil Kak, dia ngintipin aku." balasku mengadu.


"Aku kan, gak sengaja Kak? Pas aku lewat ada Kak Raina didepan. Ya, jadi aku liatin deh, dari kaca jendela" ungkap Raka.


Kak Aldo terlihat bingung mendengar ucapan Raka, yang masih belum paham pokok permasalahannya.


"Ya, kamu juga ngapain? Liatin Raina dari jendela, kurang kerjaan banget." balas Kak Aldo


"Bukan gitu, Kak, masalahnya yang aku lihat Kak Raina lagi bareng cowok ganteng berduaan didepan rumah" terang Raka.


Kak Aldo beralih melihat ku dengan tatapan curiga. Aku yang sadar dilihat seperti itu merasa rrisih.


"Apaan sih, Kak? Iiatnya begitu banget ...." kataku


"Cowok? Siapa Rai?" tanya Kak Aldo penuh selidik.


"Kalian berdua itu, kepo deh!" jawabku sambil berlari ke kamar.


Dret... Dret.... Dret.. Dret...


Segera ku raih ponsel jadul yang hanya bisa menerima pesan dan panggilan itu, ku lihat pesan masuk dari nomor tak dikenal.


[hai, Rai, lagi apa nih?]


Aku masih diam menatap layar ponsel jadulku.


"Siapa ya? Perasaan, aku gak ada kasih nomor kontakku ke siapa-siapa, kecuali orang terdekatku." gumamku


Dret... Dret... Dret... Dret...


Aku terlonjak kaget merasakan getaran ponsel ditanganku. Kali ini bukan lagi pesan yang masuk melainkan sebuah panggilan telepon. Aku perhatikan lagi, ternyata nomor yang sama dengan yang mengirim pesan tadi. Lekas ku tekan tombol jawab untuk menjawab panggilan telepon itu.


"Ha-halo ... Siapa ya?" tanyaku tergagap.

__ADS_1


"Ini aku, Mas Awan" jawabnya di seberang sana.


"Mas Awan?" tanyaku lagi.


"Iya, Rai, ini aku, Mas Awan. Masa kamu lupa sih, sama suaraku. Baru aja ketemu tadi siang." jawabnya meyakinkan.


"Oh ... Iya, ada apa ya Mas?" tanyaku lagi


"Gak apa-apa Rai, cuma pengen nelepon kamu aja. Emangnya gak boleh ya, kalau aku nelepon kamu?" Mas Awan kembali bertanya kepadaku.


"Eh ... Ehm ... Boleh aja, kok Mas Awan bisa tau nomor kontakku?" tanyaku lagi.


"Bisa donk ...." jawabnya


Aku menepuk dahiku, dan tersadar bahwa Mas Awan pasti mendapatkan nya dari Sandra.


Tok ... Tok ... Tok...


Belum sempat aku bertanya lagi, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu kamarku yang diketuk. Aku membuka pintu kamarku dengan masih menggenggam ponselku.


"Raina ...!" teriak Kak Aldo


Aku melihat Kak Aldo yang berdiri didepan pintu kamarku dengan mata berkaca-kaca. Aku melirik Raka yang terduduk di belakang Kak Aldo. Deg, tiba-tiba perasaanku berubah jadi tidak enak.


"Ada apa ini?" batinku


"Rai, bapak ... Rai," ucap Kak Aldo terbata-bata.


"Iya, kenapa bapak, Kak?" tanyaku cemas dan kembali melirik Raka yang lemas.


Terlihat Kak Aldo menarik nafasnya perlahan, dan kemudian dia menjelaskan kabar yang ia terima.


"Kakak dapat berita duka dari teman kerja bapak. Katanya, bapak jatuh dari gedung proyek dan nyawa bapak tidak dapat tertolong"


Pecah tangis ku, setelah mendengar penjelasan dari Kak Aldo.


"Halo ... Halo ... Rai, kamu kenapa? Kamu masih dengar aku, kan?" panggil Mas Awan diseberang sana.

__ADS_1


Tak ku hiraukan lagi panggilan nya, lututku terasa lemas, bibirku tak mampu lagi berkata apa-apa. Hanya air mata yang mewakili hati ini.


"Bapak ... begitu cepat kau pergi, sebelum Raina penuhi janji Rai, untuk bahagia kan bapak...." batinku lirih


__ADS_2