Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Sikap Aneh Raina


__ADS_3

Suasana hening, selama dalam perjalanan tak ada yang berbicara satu pun. Demi menahan rasa pusing dan mual nya, Raina memejamkan matanya. Namun, perlahan-lahan Raina sudah larut dalam tidurnya.


Tak terasa, mobil Sandra sudah berhenti didepan rumah Raina. Namun, Raina masih tertidur begitu nyenyak nya.


"Rai ... Raina ... bangun, kita sudah sampai." ucap Gina sembari menepuk-nepuk bahu Raina untuk membangunkan nya.


Namun, Raina tak bergeming sedikit pun.


"San, gimana donk? Raina belum bangun juga."ucap Gina pada Sandra.


"Hemm, Rai ... bangun, kita sudah sampai dirumah mu." ucap Sandra yang kembali mencoba membangunkan Raina.


Raina menggeliat dan dia membuka matanya perlahan. Saat dirinya terbangun wajah kedua temannya sangat dekat dengan nya sehingga membuatnya terkejut.


"Astagfirullah ....!" teriak Raina sembari terlonjak dari tempat duduk nya.


Begitu pula dengan Sandra dan Gina yang ikut kaget dan langsung menjauh dari Raina.


"Apaan sih, Rai! Kenapa pake teriak segala?" gerutu Sandra.


"Kalian juga ngapain ngeliatin aku sedekat itu. Aku pikir kalian huka-huka. Aku kan, jadi kaget." ucap Raina sembari mengacungkan kedua jarinya.


"Kita berdua itu dari tadi bangunin kamu! Kamu nyenyak banget tidurnya." ucap Gina dengan nada sinis.


"Hehehe, maaf ... maaf. Kepala ku pusing banget tadi, jadi aku coba meremin mataku biar gak terlalu berasa pusing nya. Gak tahu nya malah ketiduran." ucap Raina sembari memberi cengiran.


Namun, tidak dengan kedua orang yang ada didepan nya yang memberi tatapan mematikan. Yang masih tidak terima karena teriakan dan di sangka hantu oleh Raina.


"Kamu masih mau tidur didalam mobil ku?" sindir Sandra.


"Hehehe, gak lah ... mana nyaman tidur tertekuk. Aku bakal keluar sebentar lagi kalau kalian sudah maafin aku." balas Raina.


Raina tahu jika kedua orang temannya ini hanya merajuk sesaat dan Raina hanya menganggap mereka sedang bercanda. Terbukti dengan senyuman dan anggukan keduanya ketika Raina kembali memohon meminta mereka memaafkan Raina.


"Iya deh, aku maafin. Tapi, awas kalau kamu anggap aku hantu lagi. Cantik-cantik gini disangka hantu." ucap Sandra sembari mengerutkan bibirnya.


Raina kembali tertawa melihat ekspresi dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tapi sekarang kamu sudah gak pusing lagi kan, Rai?" tanya Gina.


"Alhamdulilah, sudah gak, kok. Kalian tenang aja. Ok deh, aku turun, ya. Kalian gak mau mampir dulu." ucap Raina.


"Next time deh, Rai ... sudah malam juga. Belum lagi aku antar Gina pulang." jawab Sandra.


"Iya, Rai ... lain kali aja. Kasian tuan putri mau antar babu nya dulu." balas Gina disertai tawa mereka bertiga.


"Iya juga, sih. Ini kebalik namanya. Seharusnya kamu yang supirin aku. Tapi gak apa lah, hitung-hitung aku beramal." ucap Sandra sembari tertawa.


Mereka bertiga pun saling berpelukan sebelum berpisah. Raina sudah keluar dari mobil Sandra. Dan masih menunggu mobil Sandra menjauh hingga tak terlihat lagi, baru lah dirinya melangkah kan kaki nya masuk ke rumah.


"Assalamualaikum ...." ucapnya sembari mengetuk pintu rumah yang belum terbuka.


Tak berapa lama, terdengar kunci rumah yang diputar.


"Walaikumsalam ...." balas Aldo yang membuka kan pintu untuk Raina.


Raina segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Aldo masih celingukan melihat sekeliling halaman rumah nya.


"Kamu pulang naik apa, Rai? Kok, kakak gak dengar ada suara sepeda motor mu." tanya Aldo.


"Oh .... pantas kakak juga gak liat sepeda motor kamu didepan." ucap Aldo dan berlalu meninggalkan adiknya.


Suasana rumah sudah sepi menandakan anggota keluarga yang lainnya sudah beristirahat dikamar nya masing-masing.


Setelah meletakkan barang-barang nya didalam kamar, Raina melangkah ke kamar ibu nya. Hanya sekedar ingin melihat keadaan ibunya yang beberapa hari ini sudah mulai sibuk mengurus toko kue miliknya.


"Ibu sudah tidur, Rai. Sepertinya beliau kelelahan makanya tidur lebih awal. Alhamdulilah, toko ibu mulai ramai. Sepertinya ibu butuh tambahan tenaga kerja, karena ibu kewalahan sendiri mengurus toko nya." ucap Aldo yang melihat Raina mendekat ke kamar ibunya.


Raina mendengar kan penjelasan kakaknya, kemudian mendekati Aldo dan duduk disamping kakak nya itu.


"Hemm, sepertinya ide kakak harus dibicarakan dengan ibu. Raina juga kasihan kalau ibu mengurus sendiri." ucap Raina menyetujui ide sang kakak.


"Kakak sudah bicarakan ini sama ibu tadi, tapi katanya beliau masih mampu kerja sendiri. Dan kata beliau ini masih awal, omset nya juga belum seberapa jadi belum bisa mempekerjakan orang lain." ungkap Aldo.


"Kalau begitu, setiap weekend kita aja yang bantu ibu. Dan kalau hari-hari biasa ada Raka yang bisa membantu sepulang sekolah." ucap Raina.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Aldo mengalihkan pembicaraan nya yang membahas tentang toko ibunya.


"Sudah tadi makan bersama Sandra." jawab Raina.


"Kakak mau buat mie instan, apa kamu mau juga?" tanya Aldo menawari Raina.


"Raina cicip punya kakak aja nanti. Ya sudah, Raina mau ganti baju dulu, ya." jawab Raina sembari melangkah ke kamarnya.


Sedangkan Aldo melangkah ke dapur untuk memasak mie instan yang dia inginkan.


Raina segera membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengganti baju nya, karena seharian dia diluar. Badannya terasa begitu lengket dengan keringat yang sudah mengering.


Setelah selesai semuanya, Raina kembali keluar kamar mendatangi Aldo yang sudah mulai menikmati semangkuk mie instan nya.


"Nih, enak loh. Ini mie instan rasa baru pasti kamu suka sama rasa pedasnya." ucap Aldo sembari menyodorkan mangkuk mie nya kepada Raina.


Raina langsung menyambut mangkuk tersebut. Baru saja Raina mencicipi kuah mie instan itu, tiba-tiba Raina kembali merasakan mual lagi.


Raina mendorong kembali mangkuk berisi mie itu kepada kakaknya.


"Kenapa gak jadi nyicipin?" tanya Aldo sembari mengernyitkan alis nya.


"Raina gak suka sama aroma nya. Terlalu nyegrak ditenggorokan." jawab Raina dan langsung menetralkan rasa mual nya dengan menegak segelas air putih.


Aldo kembali mencium aroma mie dimangkuknya. Aldo merasa aneh dengan Raina, menurutnya aroma mie tersebut biasa saja tidak terlalu menyengat seperti yang Raina ucapkan.


Setelah minum, Raina langsung meninggalkan Aldo yang masih kembali menikmati mie nya. Aldo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh adik perempuan nya itu.


Raina sudah berada didalam kamarnya, merebah kan tubuhnya diatas kasur miliknya. Raina menatap langit-langit kamarnya. Dan mulai berfikir tentang dirinya yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.


"Kenapa aku suka tiba-tiba mual gini sih, tiap cium aroma bumbu yang menyengat? Apa ada yang salah dengan penciuman ku?" Raina bertanya pada dirinya sendiri.


Kemudian dia teringat satu hal, bahwa sebulan ini dia belum mendapatkan tamu bulanan nya. Raina melihat kalender didalam handphone nya.


"Seharusnya aku sudah haid dua minggu yang lalu. Tapi, kenapa ini telat lagi? Ah, paling gak lama lagi juga dapat." gumamnya.


Ya, Raina memang mempunyai masalah pada siklus haid nya yang tidak teratur. Yang membuat dirinya tidak begitu memikirkan jika kali ini datang bulan nya harus terlambat lagi dari periode seharusnya.

__ADS_1


Mohon like dan krisan nya ya πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2