
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Ridho sudah duduk dihadapkan Raina.
"Hemm, aku minta kamu untuk tidak membatalkan kerja sama kita untuk persiapan acara anniv resto." Raina memasang wajah memelasnya agar Ridho merasa kasihan kepadanya.
Ridho yang melihat ekspresi Raina yang seperti itu malah membuat Ridho semakin gemas dan membuatnya tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? Aku serius memohon kepada mu, Tuan Ridho, plis ...." ucap Raina kembali memohon dan dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya, Ridho sudah mempersiapkan semuanya untuk acara anniversary resto dan kafe milik Bunda Eva, karena dia tidak ingin mengecewakan konsumen setia nya yang sudah bertahan-tahun memakai jasa EO dari perusahaan miliknya. Ditambah dengan hubungan pertemanan antar keluarga yang baik. Namun, Raina tidak mengetahui semua persiapan itu. Yang dia tahu hanyalah Ridho yang masih menggantungkan harapannya.
"Baik, aku tidak akan membatalkan nya." ucap Ridho.
Dan Raina pun langsung bersorak kegirangan karena permohonan nya dikabulkan. Dengan refleks dia keluar dari kursi nya dan memeluk Ridho.
Sementara itu diluar restoran Awan masih memperhatikan mereka berdua yang berada didalam. Ada sengatan listrik yang panas menjalar ke hati Awan saat melihat Raina memeluk Ridho.
"Cuih, kamu sama saja dengan perempuan murahan lainnya! Rupanya kamu lebih menyukai lelaki yang lebih tua dan lebih kaya dariku. Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku." gumam Awan dan berlalu meninggalkan restoran dengan sejuta kesalahpahaman.
Ridho memang berusia lebih tua diatas Awan, Ridho seumuran dengan kakaknya Awan, yang terpaut empat tahun perbedaan usia mereka. Dan jika disanding kan dengan Raina akan selisih delapan tahun perbedaannya.
Ridho yang mendapat serangan tiba-tiba dari Raina hanya diam dan tersenyum. Namun, Raina menyadari sesuatu jika Ridho sudah merencanakan sesuatu untuknya. Dia langsung melepaskan pelukan nya itu dan kembali duduk dikursi nya semula.
"Kenapa dilepaskan pelukan nya? Lakukan sesuka hatimu. Aku akan sangat dengan ikhlas menerimanya." ucap Ridho yang menatap wajah Raina yang sudah seperti tomat rebus.
Raina memalingkan wajahnya, menutupi kecanggungan nya.
"Kenapa bisa bersikap bodoh seperti itu, sih?" umpat Raina.
Raina kembali menatap Ridho lekat, setelah dipastikan dia sudah merasa nyaman kembali.
"Rencana apa lagi yang Mas buat? Pasti dirimu gak semudah itu kan, untuk tidak membatalkan?" tanya Raina sinis.
"Hahaha, sudah mulai pintar ternyata. Jelas, aku tidak akan melakukannya secara percuma untukmu. Aku ingin kita kencan selama seminggu setelah acara selesai." ucap Ridho sambil membalas tatapan Raina.
__ADS_1
"Hah, kencan? Tapi kan, kita bukan pasangan kekasih. Dan aku juga gak mau, jalan bareng kamu. Nanti dikira aku simpanan om-om lagi." Raina bergidik geli.
"Hei, jangan sembarangan donk, kalau bicara! Usia memang tua, tapi jiwa masih muda. Lagi pula aku gak tua-tua banget, belum juga kepala tiga." ucap Ridho sembari menaikkan alis nya.
Raina terdiam dan menatap lelaki didepan nya.
"Memang sih, kamu tampan. Tapi, tetap aja kamu terlihat tua."
"Hei, jangan melamun donk, bagaimana dengan tawaran ku?" tanya Ridho sembari melambaikan tangannya didepan wajah Raina.
Pikiran Raina terus berlarian kemana-mana. Entah apa yang ia pikirkan hingga tak menjawab pertanyaan Ridho dan tetap asik dengan lamunan nya.
Hingga Ridho mencubit lengan nya barulah dirinya tersadar.
"Aw, sakit tahu!" gerutu nya dengan bibir yang di maju kan sembari mengusap-usap bekas cubitan Ridho dilengan nya.
"Habis dari tadi asik banget melamun nya, pasti kamu lagi bayangin kencan bareng sama aku yang tampan ini, ya?" goda Ridho.
"Ih, amit-amit, ogah banget! Kasih pilihan yang lain donk, jangan itu. Apa aku buatin makan siang selama seminggu?" Raina mencoba menawar.
Raina menggigit ujung bibirnya, dan kembali berfikir tentang tawaran Ridho.
"Ok, deal. Cukup seminggu setelah acara selesai, tidak lebih." jawab Raina sembari mengulurkan tangannya.
"Deal." Ridho membalas uluran tangan Raina dan kembali duduk dikursi nya.
Lagi-lagi hatinya tertawa puas, sudah bisa membuat Raina mau berkencan dengannya.
"Baik lah, karena sudah deal, jadi aku mau pulang sekarang." ucap Raina yang sudah mengambil tas nya.
"Tunggu dulu, lebih baik kita makan dulu disini." ucap Ridho menahan Raina.
"Ok. Tapi, Mas yang bayarin, ya?" jawab Raina sembari duduk dan tersenyum.
__ADS_1
Keduanya makan dengan khidmat, tanpa ada perdebatan lagi.
Ditengah-tengah saat makan, tiba-tiba Ponsel Raina berdering. Tertera nama kak Aldo dilayar Ponsel nya. Raina segera menjawab panggilan dari kakaknya itu.
[Hallo, assalamualaikum, Kak.]
[Walaikumsalam, kamu dimana? Apa sepeda motor mu belum dikembalikan sama orang aneh itu?"]
[Hehehe, sudah, Kak. Maaf, Raina lupa kasih kabar tadi, ini sekarang Raina lagi direstoran Y, sedang bertemu dengan pemilik perusahaan jasa EO yang akan membantu mempersiapkan acara anniversary resto. Kakak tenang saja, sebentar lagi Raina pulang, kok.]
[Kakak pikir, kamu bermasalah lagi dengan sepeda motor mu. Ya sudah, kamu hati-hati dijalan jangan pulang larut malam.]
[Siap, Kak.]
Ridho memperhatikan Raina yang sedang berbicara ditelepon dengan kakak nya.
"Rupanya, kalian saudara yang saling mengkhawatirkan satu sama lain. Benar-benar, saudara yang solid."
Raina mengakhiri panggilan dan segera menghabiskan makanannya.
"Aku balik duluan ya, Mas. Takut kemalaman, rumah ku cukup jauh dari sini." ucap Raina yang sudah siap bergegas meninggalkan Ridho.
"Apa kamu berani pulang sendirian? Apa aku antar saja?" tanya Ridho.
"Aku berani kok, Mas. Tenang aja, aku bisa pulang sendiri tak perlu diantar" jawab Raina.
"Hati-hati dijalan." ucap Ridho.
Sedangkan Raina hanya melambaikan tangannya dan bergegas menuju parkiran.
"Ternyata dia perhatian juga." gumam Raina sembari tersenyum.
Sepeda motor nya sudah melaju dijalan yang terlihat tidak begitu ramai.
__ADS_1
Sementara itu, Ridho sudah memerintahkan orang suruhannya untuk mengikuti Raina hingga sampai dirumah nya dan memastikan bahwa Raina sampai dirumah dengan selamat.
Bersambung